oleh: Maman El Hakiem
Jalan-jalan lengang,tidak ada yang lalu lalang. Hanya sesekali polisi berpatroli. Jika kedapatan orang ke luar rumah, mereka akan menanyakan tujuannya?

Jika sekedar berbelanja,akan dipertanyakan,belanja apa dan dimana? Karena pusat perbelanjaan seperti pasar tutup. Lalu mereka memenuhi kebutuhan hidup, makan dan minum dari mana?

Negara jauh-jauh hari telah menyiapkan kebutuhan logistik yang dikirim langsung ke rumah-rumah. Hanya fasilitas umum kesehatan yang buka, itupun dengan sistem jemput bola. Jika ada rakyat yang mengeluh sakit,maka petugas kesehatan yang disediakan negara akan menjemput pasien untuk segera di bawa ke rumah sakit atau klinik terdekat.

Lockdown itu adalah perintah negara terhadap rakyatnya untuk tetap beraktifitas di dalam rumah saja. Ini karena adanya wabah penyakit atau musibah luar biasa yang mengena suatu wilayah sehingga harus diisolir warganya.Tindakan pencegahan tersebut efektip untuk memutus mata rantai virus atau penyakit yang membahayakan dengan cara  penularan melalui kontak fisik secara langsung. 

Lockdown itu bukan sekedar "meliburkan" rakyat dari aktifitas di ruang publik, melainkan merawat dan menjamin kesehatan rakyat sebagai kewajiban negara yang harus dipenuhi. Jika masih ada rakyat yang bebas "keluyuran" karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi, maka yang salah itu negaranya, bukan rakyat.

Karena itu lockdown  bukan main-main, karena kewajiban shalat berjamaah di masjid pun bisa berpindah di "mushola" dalam rumah khusus keluarga, inilah hikmahnya rumah juga harus didesain ada ruangan khusus ibadah dan majelis ilmu.Karena sewaktu-waktu Allah SWT bisa menguji keimanan manusia dengan wabah penyakit atau musibah yang mengharuskan kita hanya bisa belajar dan beribadah di dalam rumah.

Gambaran lockdown seperti itu tentu tidak akan ditemui saat ini, karena hanya ada dalam negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. Negara di dunia saat ini hanya baru bisa memaksa rakyatnya "kerja di rumah" dengan cost social yang cukup mahal, apalagi di negeri ini yang mayoritas rakyatnya bekerja mencari penghidupan di luar rumah. 

Sebuah misi berat untuk menjamin kebutuhan hidup sehari-hari rakyatnya, karena watak kapitalisme adalah nilai untung dan rugi. Rakyat bukannya tidak takut dengan corona,tetapi ada yang lebih takut lagi jika anaknya tidak bisa makan hari ini.

Wallahu'alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations