Ole: Nurhasanah
Belum lama ini kita dikejutkan dengan berita aksi ricuh mahasiswa dan pelajar yang menolak disahkannya RUU KUHP di depan gedung DPR RI.
Foto: Pixabay

Apa yang mendorong mereka semua bersatu dan memberanikan diri menyuarakan kebenaran? 

Tentu hal ini menjadi topik pembahasan dalam setiap perbincangan perpolitikan. Bagaimana tidak, mereka yang MELEK POLITIK geram dengan kebijakan yang tidak berprikemanusiaan.

Mari kita jabarkan kebijakan yang di gembor-gemborkan :

1. RUU P-KS,

Kalau kita cuma baca pasal pidananya aja sih, mungkin sebagian orang bakal bilang oke oke aja. Coba baca dan telaah dengan bijak, definisi kekerasan seksual dalam RUU. Setiap orang yang mencederai kemerdekaan orientasi seksual maupun sistem reproduksi masuk dalam pidana kekerasan seksual. Artinya apa? Bapak ibu gak bisa lagi melarang anak laki-laki pakai rok mini! Gak bisa melarang anak perempuan cinta-cintaan dengan sesama perempuan! Dari sini faham kan?

2. RUU KUHP yang tak masuk akal, bagaimana tidak para mahasiswa dan pelajar itu geram, mereka yang memiliki julukan Agent of change untuk generasi ibu Pertiwi ini harus menghadapi kebijakan yang kontroversi. Pasal-pasal yang diajukan RUU KUHP ini sungguh tak masuk akal... 

Bayangkan saja gara-gara hewan peliharaan seorang kepala keluarga harus mendekam di penjara, karena suami di penjara sang istri selingkuh dan kena pidana juga Daan si anak jadi gelandangan, akhirnya kena denda juga 1 juta, karena gak punya duit, akhirnya anaknya juga ikut dipenjara.. pada akhirnya penjara penuh dengan keluarga berencana. Sungguh tak masuk logika

BACA JUGA:

3.RUU KPK,

Ok kita gak usah bahas RUU KPK, karena kita gak ada urusan sama KPK, urusan kita cuma dapur dan dompet belanjaan. OKE! TIDAK USAH BAHAS KPK

4. RUU tenaga kerja,

Tau RUU tenaga kerja? Disana ada pemangkasan pesangon PHK, jaminan kesehatan bahkan cuti sakit bagi wanita. Tak ada lagi peradilan sengketa PHK. Semua keputusan di ambil perusahaan dan buruh saja. Artinya apa? Dompet ibu-ibu  terancam kesejahteraannya. Mau?

Lalu apa lagi?

Pasal penghinaan presiden. Kalo pemimpin sudah tidak mau lagi mendengar keluh kesah rakyatnya, lalu apa gunanya demokrasi diterapkan di negeri ini? Bukannya dalam sistem demokrasi kekuasaan ada di tangan rakyat? Faktanya tidak.. di tangan penguasa dan pengusaha lah tajuk pemerintah berjalan... Masih bangga mengaku Indonesia demokratis?

Ok, karena Suara mahasiswa dan pelajar membuat para dewan menunda pengesahan RUU KUHP, dan saat ini  RUU KUHP belum dilegalkan, kalo sudah diketok palu akan sulit untuk saling mengingatkan. Karena ada pasal tentang batasan kritikan. Tentu hal ini akan menguatkan otoritas kebijakan.

Dari penjabaran diatas, hanya sedikit penulis sampaikan mengenai undang-undang kontroversi ala manusia. anda masih anggap Indonesia baik-baik saja? Dua kata dari saya untuk orang yang menganggap Indonesia baik-baik saja, ANDA SEHAT?



YOUR REACTION?

Facebook Conversations