Oleh: Aliansi Pengusaha Muslim, Instagram @assalimid
Hawalah adalah transaksi untuk mengalihkan utang dari seseorang menjadi tanggungan orang lain.

Penjelasan yang dimaksud adalah memindahkan utang dari tanggungan muhil (orang yang berutang) menjadi tanggungan muhal'alaih (orang yang melakukan pembayaran utang).

Secara sederhana, akad hawalah dapat digambarkan sebagai berikut: A memberi utang pada B dengan tenggang waktu pelunasan yang telah ditentukan. Ternyata B juga pernah memberikan utang pada C dengan jumlah yang sama dan waktu pelunasan yang sama pula. Ketika tiba waktunya pelunasan utang, A ingin menagih dari B, namun B mengalihkan pelunasan utangnya kepada C dan meminta A agar menagih utang tersebut dari C.

Jadi, proses hawalah terjadi di antara tiga orang. Yaitu: (1) A sebagai pemberi utang pada B; (2) B sebagai penerima utang dari A dan sekaligus memberi utang pada C; dan (3) C, penerima utang dari B.

“Menunda pembayaran utang padahal mampu untuk melunasinya adalah perbuatan zalim. Apabila kamu memberi utang kemudian hendak menagih utang tersebut, namun kamu ditawari untuk menagihnya dari orang lain yang mampu untuk melunasinya, maka hendaklah kamu menerima tawaran tersebut.”(HR Bukhari & Muslim)

Perlu diperhatikan, hawalah bukanlah proses jual-beli. Karena itu, B tidak dikatakan sedang menjual piutangnya kepada C untuk melunasi utangnya pada A. Hawalah juga bukan bentuk wakalah (mewakilkan). Karena dalam hawalah, A menagih utang dari C untuk dirinya, bukan untuk diserahkan kepada B. Tetapi hawalah merupakan bentuk akad tersendiri, sebagai salah satu bentuk cara pelunasan utang.

Wallahu a'lam. []

YOUR REACTION?

Facebook Conversations