Oleh: Ust. Zarochman
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Corona-virus-deseases, Covid 19 ini sangat lembut bak serpihan butiran debu di angkasa luas yang tak nampak kecuali hanya bisa dilihat lewat supermicrometer.
Freepik.com

Makhluk covid 19 berbentuk unik, kini menyebar tak terkendali dan tak terduga kemanapun maunya. Ada keterbatasan dari makhluk covid 19 pada media bersuhu tertentu, namun Alloh mentakdirkan diberi tempat dan makanan yang cocok sehingga memudahkan berkembang biak dengan pesatnya dalam tubuh bagian paru manusia. Meskipun makhluk covid 19 tidak sebesar dan selengkap senjata pasukan khusus para negara super power tapi dampak dan pengaruhnya amat luar biasa terhadap 190 negara besar dan negara kecil di seluruh dunia dibikin sibuk dan ketakutan tak menentu.

Seperti diketahui bahwa semua kejadian ini adalah dikehendaki oleh Alloh Subhanallohu wata'ala untuk terjadi, dan tentu ada hikmah di balik ini. Setiap kejadian pasti ada hikmah bagi setiap hamba yang beriman, mereka memperbanyak istighfar, ibadah dan sedekah karena sedekah bisa menjadi sebab redanya musibah. Dengan seperti ini mereka mendapat taufiq dan hidayah berupa kemudahan dan petunjuk-petunjuk dari Alloh Subhanallohu wata’ala untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Adapun hal yang lebih penting oleh orang yang beriman, adalah bahwa terhadap pandemi covid 19 harus disikapi sebagai musibah, ujian atau peringatan atas kehendak Alloh Subhanallohu wata’ala.  Mereka menerima kejadian pandemi covid 19 ini sebagai ketetapan dari Alloh Subhanallohu wata’ala, dan semua yang ada ini  termasuk ayat-ayat kauniyah (firman Alloh berupa alam semesta seisinya). Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu mengatakan,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” ( Al Jawabul Kaafi, hal. 87).

Adapun hikmah dibalik musibah pandemi covid 19 yang hampir melanda di negara-negara seluruh dunia ini setidaknya, ada ikhtiyar upaya sunatulloh untuk menghindari fisik yakni ada perintah supaya “DI RUMAH SAJA”. Terkait ’hash-tag’ perintah bagi para wanita (isteri) agar di “rumah-aja”, ada firman Alloh Subhanallohu wata’ala,

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ - ٣٣

”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. QS. Al-Ahzab : 33.

Menurut guru bahasa Arab, ”waqorna” tidak ada kaitannya dengan kata ”qorona” . Karena tulisan ”quruna”,قورونا,(yang disrempetkan mirip “coronavirus”), dhomirnya ‘u’ muannats jama' fiil amr قرن, sedangkan dalam QS. Al-Ahzab : 33, ”Waqorna,” و قرن, wawu nya, itu wawu atof, masih berhubungan dengan kalimat sebelumnya. Qorna, fiil amr dari qorro, “na” nya dhomir pembicaraan kepada wanita jamak itu maknanya “tetaplah” atau “tinggallah” dan ayat ini ditujukan untuk wanita mu'minah, وقر waqorro. Ini berarti ”waqorna” tidak ada hubungannya dengan ”qorona”  apalagi “coronavirus”.

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ, ’Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu’ yaitu (para isteri, wanita disuruh) istiqomahlah di rumah-rumah kalian dan jangan keluar tanpa hajat (tanpa tujuan penting) kecuali atas izin suaminya. Jadi dengan adanya pandemi covid 19 ini khusus bagi kaum wanita setidaknya ada peringatan keras untuk tidak mudah atau membiasakan keluar rumah, misal di mal-mal dan seterusnya. Harigini mal-mal sering menjadi obyek entertainmen, kesenangan hingga larut malam, sehingga banyak pria atau suami tergoda bersama dengan alasan mengantar isterinya. Bahkan perintah secara umum, para isteri itu lebih baik di rumah saja. Dalam satu riwayat, ”Dan rumah-rumah mereka (para isteri) lebih baik bagi mereka”.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations