Oleh: Aminah Darminah, S.Pd.I. (Muslimah Peduli Generasi)
Di tengah perjuangan negeri ini, melawan virus covid-19 yang terus menelan banyak korban, persoalan ekonomi menambah berat ujian yang dihadapi bangsa ini. Kenaikan nilai mata uang rupiah terhadap dolar, memberi pengaruh terhadap kondisi perekonomian negeri ini.
Freepik.com

Lagi-lagi rakyat kecil yang merasakan dampaknya secara langsung, harga kebutuhan pokok melonjak, bahkan langka sebut saja gula putih harga meroket langka dipasaran. 

Dikutip dari kontan.co.id, dampak negatif dari kenaikan dolar menimpa para emitan berbasis impor, seperti industri farmasi bahan baku mayoritas didatangkan dari luar negeri, perusahaan yang memiliki utang besar dalam dolar AS (20 maret 2020). Wajar kalau emitan yaitu perusahaan swasta atau BUMN ikut terkena dampaknya, sebab modal usahanya dari investasi saham di bursa saham. 

Kenaikan nilai tukar rupiah, hampir sama dengan nilai tukar rupiah pada masa krisis moneter tahun 2008. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar sport Rp 16.505 (24/3/2020), wabah kurus corona dan kenaikan permintaan dolar AS ditengarai penyebab tidak stabilnya nilai tukar rupiah, ditambah kebutuhan membayar utang dolar. (Tribunbisnis, 24 maret 2020). 

Benarkah wabah virus corona, yang menyebabkan permasalahan ekonomi Indonesia saat ini? Lemahnya sistem ekonomi di negeri ini, sehingga rentan terkena krisis ada yang salah pada sistemnya, bukan sekedar kesalahan tehnis ekonomi tetapi lebih dari itu, pondasi ekonomi kapitalis yang rapuh yang berdiri diatas asas sekukerisme, sehingga menyebabkan: Pertama, menyingkirkan emas sebagai cadangan mata uang. Selama emas tidak menjadi cadangan mata uang, krisis akan terus berulang. Kedua, Hutang-hutang ribawi, bunga berbunga telah menciptakan masalah ekonomi sehingga menyulitkan individu dan negara mengembalikan pinjaman. Ketiga, transaksi jual beli saham di pasar modal. Hal ini sejalan dengan pendapat pakar ekonomi senior Indonesia Rizal Ramli, Sebelum viral covid-19, ekonomi Indonesia memang sudah karut marut akibat defisit neraca dan utang luar negeri  yang semakin besar. (Indonews.id, 6/3/2020). 

Dalam kehidupan ekonomi Islam, stiap transaksi perdagangan harus dijauhkan dari unsur spekulatif, riba, mengandung penipuan. Unsur-unsur tersebut tergolong aktivitas non real. Ketangguhan sistem ekonomi Islam: Pertama, Menggerakkan ekonomi riil. Dalam sistem ekonomi Islam, tidak pernah menyatukan ekonomi riil dan non riil. Sistem ekononi Islam memastikan, perputaran harta kekayaan tetap berputar secara luas. Seseorang yang memiliki kelebihan uang, bisa menginvestasikan nya di sektor ekonomi riil, yang akan memberi efek berlipat, berputarnya uang dari orang ke orang lain. 

Kedua, menciptakan stabilitas keuangan. Sistem ekonomi Islam menerapkan mata uang berbasis dinar dan dirham, larangan riba. dan spekulatif. Dengan penerapan mata uang dinar dan dirham srbagai alat tukar, memiliki nilai intrinsik (zatnya) dan nominal yang sama, artinya nilai nominal yang tercantum pada mata uang secara riil dijamin dengan zat uang tersebut bukan "uang-uangan". 

Sebagai alat tukar, uang yang beredar akan bertemu dengan barang dan jasa bukan dengan sesama uang. Semakin banyak uang yang beredar semakin banyak barang dan jasa diproduksi  dan diserap dipasar, pertumbuhan ekonomi meningkat, lapangan pekerjaan terbuka, pengangguran bisa ditekan. 

Ketiga, tidak mudah diintervensi asing. Dengan sistem ekonomi Islam, melaksanakan politik swasembada mengurangi impor, meningkatkan ekspor komuditas yang diproduksi dalam negeri dengan komuditas yang diperlukan di dalam negeri. 

Keempat, penghapusan ekonomi non riil. Islam melarang penjualan komoditi, sebelum dikuasai oleh penjualnya. Haram hukumnya menjual barang yang belum menjadi milik seseorang, contohnya bursa saham dan pasar saham adalah haram dalam Islam. 

Sejarah telah membuktikan, bagaimana sistem ekonomi Islam diterapkan, mampu memenuhi kebutuhan dasar individu yaitu sandang, pangan dan papan. Negara mengontrol secara tidak langsung dengan menerapkan hukum nafkah. Secara langsung negara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yaitu keamanan, kesehatan,  dan pendidikan dengan menyediakan semua secara gratis. Begitu makmurnya, pada masa kholifah Umar bin Abdul Aziz, seorang petugas zakat Yahya bin Said tidak menemukan seorangpun yang miskin yang layak mendapat zakat. 

Akar krisis ekonomi saat ini adalah penerapan sistem ekonomi kapitalis yang rapuh, maka satu-satunya cara paling mendasar untuk memperbaikinya, adalah menggatinya dengan sistem yang lain, yaitu sistem ekonomi Islam yang berasal dari Allah yang Maha Pencipta. Sistem ekonomi Islam, hanya tegak di atas sistem warisan Nabi dan para Khulafaur Rasyidin.

Wallahualam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations