Oleh : Amelia. E

Kini, sudah tak aneh lagi jika ada seorang anak yang memenjarakan orang tuanya. Seperti halnya yang terjadi di daerah Demak, Jawa Tengah. Seorang anak dengan inisial (A) tega memenjarakan ibunya (S) lantaran kesal terhadapnya.

Hal ini berawal dari cekcok karena sang ibu telah membuang baju-baju si (A). Si (A) marah kemudian mendorong ibunya, dengan reflek sang ibu menahannya hingga tak sengaja kukunya melukai pelipis si (A). Karena hal inilah sang ibu berakhir di penjara dengan tuduhan penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga. (news.detik, 09/01/2021)

Itulah salah satu potret keluarga masa kini. Hingga hari ini permasalahan serupa terus terjadi. Bahkan, dalam sebuah keluarga bisa jadi ditimpa berbagai masalah sekaligus. Tak ayal banyak keluarga yang tercerai berai karena tidak mampu mengatasi masalah-masalah tersebut.

Rasanya hampir mustahil untuk mewujudkan keluarga harmonis dalam sistem sekarang ini. Bagaimana tidak, liberalisme yang dijunjung tinggi membuat individu bertindak sebebas-bebasnya. Ditambah lagi sekulerisme yang telah berhasil memisahkan agama dengan kehidupan.

Alhasil, pemahaman umat pun lemah terhadap ajaran Islam secara menyeluruh. Islam hanya dipahami sebagai aktivitas ritual semata. Akibatnya, tak tercermin nuansa Islami dalam aktivitas kehidupannya sehari-hari. Baik dalam tingkat individu, keluarga, masyarakat, atau bahkan negara.

Pemahaman Islam yang minim inilah yang menyebabkan terjadinya disfungsi dan disorientasi dalam sebuah keluarga. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat pertama pembentuk kepribadian Islam beralih fungsi sebagai institusi penunjang ekonomi rumah tangga semata.

Dengan dalih kesetaraan gender, tak jarang pula ditemui pertukaran peran dalam sebuah keluarga. Akibatnya, terjadilah disorientasi keluarga. Dampaknya, interaksi didalam keluarga menjadi kurang harmonis. Hal ini dikarenakan manusia bertindak melawan fitrahnya. Dapat dikatakan sistem seperti ini hanya akan menghasilkan generasi durhaka 

Nilai-nilai liberal yang ditanamkan telah gagal menghadirkan penghormatan anak kepada orangtuanya. Interaksi keluarga pun hanya diukur dengan untung dan rugi. Ditambah lagi individualisme yang kini mendarah daging telah mengikis peran masyarakat dalam melakukan amar ma'ruf nahi munkar. 

Dalam hal ini, negara pun tidak bertindak sebagai pengayom umat. Tindakan yang diberikan hanya sebatas penyelesaian masalah yang dianggap membutuhkan payung hukum. Bukan penyelesaian dari akar masalahnya. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus maka kehancuran umat hanya tinggal menghitung hari.

Hanya kembali kepada Islam kaffahlah yang dapat mengatasi segala permasalahan umat. Allah dan RasulNya telah memberikan solusi yang jelas, tuntas, terperinci dan membawa ketenangan jiwa. Karena solusi yang diberikan dapat memuaskan akal, sesuai fitrah manusia, dan tak terkikis oleh zaman.

Keluarga di dalam Islam terbentuk atas dasar ketaqwaan. Ketaqwaan inilah yang melahirkan individu-individu yang taat kepada Allah. Secara otomatis, individu tersebut akan senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya.

Didalam keluarga, seorang suami akan menjalankan kewajibannya dalam menafkahi keluarga dengan sebaik-baiknya. Selain itu, bergaul dengan cara yang ma'ruf. Adapun seorang istri akan memahami kewajibannya untuk taat kepada suaminya. Ia juga akan menjalankan peran sebagai ummu warabatul bait dan madrasatulula dengan segenap jiwanya.

Islam juga akan mengembalikan fungsi kontrol masyarakat. Budaya amar ma'ruf nahi munkar akan dilestarikan baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dengan demikian, semua saling bahu-membahu agar tidak terjadi pelanggaran syari'at.

Adapun Islam juga mewajibkan negara untuk menyiapkan berbagai perangkat untuk mewujudkan ketahanan keluarga. Tidak lain dengan cara menerapkan Islam kaffah dalam segala bidang.

Negara akan membangun sistem ekonomi Islam yang tangguh dalam menghadapi gempuran berbagai kondisi. Dengan demikian, seorang suami dan istri dapat menjalankan perannya masing-masing dengan baik. Anak-anak pun tak akan terlantar karena kurangnya perhatian orang tuanya.

Dengan ekonomi yang tangguh, dapat mewujudkan sistem kesehatan dan pendidikan yang ramah. Masyarakat tidak perlu memikirkan mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan bagi keluarganya. Mereka hanya fokus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, sistem pendidikan yang dibentuk digunakan untuk menempa ilmu dan mental umat. Dengan berbasis aqidah, kurikulum disusun sedemikian rupa agar menghasilkan generasi berkepribadian Islam. Dengan demikian tak hanya mumpuni dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga berjiwa pemimpin serta kritis terhadap permasalahan umat.

Sistem media massa pun akan diatur sedemikian rupa agar tidak ada informasi negatif yang muncul di masyarakat. Selain itu, dilakukan filter terhadap tayangan-tayangannya agar tidak ada yang berbenturan dengan aqidah dan akhlak.

Ditambah lagi sistem hukum Islam yang memiliki sanksi tegas dan jelas. Sistem seperti ini mampu membuat efek jera baik bagi pelanggar hukum maupun yang lain. Dengan demikian dapat mencegah terjadinya pelanggaran hukum yang serupa.

Tentunya berbagai sistem di atas tidak dapat terjadi begitu saja. Dibutuhkan institusi yang memadai untuk menjalankannya. Dengan kerjasama dari seluruh umat muslim, tidak mustahil untuk menerapkan Islam kaffah di bumi ini.

Wallahua'lam bish-shawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations