Oleh:Linda Khadeeja

"Sesungguhnya manusia semenjak dia diciptakan oleh Allah maka kedudukannya hanya seorang musafir” (Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah)

Para ulama mengatakan bahwa kita ini melalui 2 safar yaitu safar pendek dan safar panjang. 

Safar pendek adalah pindahnya kita dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Yang bisa kita kalkulasikan jarak dan waktunya untuk menempuh safar atau perjalanan itu.

Sedangkan safar panjang atau jauh adalah safar yang kita lakukan setelah kita menutup mata setelah titik kematian kita. Yang tidak kita bisa kalkulasikan waktu dan jarak tempuhnya.

Abu Hurairah saat mendekati sakaratul maut beliau menangis dan kemudian ditanya oleh anakknya:

”Wahai bapakku apa yang menjadikan engkau meneteskan air mata?”

”Sesungguhnya perjalanan yang akan ditempuh ayahmu ini sangat jauh dan ayahmu ini hanya sedikit bekal yang dimiliki. Dan ayah tidak tahu apakah nanti surga yang ayah datangi ataukah neraka yang ayah akan sambangi” jawab Abu Hurairoh sang ayah.

Begitulah berat dan panjangnya proses perjalanan/safar kita dalam menuju Allah. Sampai Abu Hurairah khawatir dan gelisah.

Oleh karenanya kita jangan hanya membayangkan hidup yang enak dan nyaman saja. Akan tetapi kita juga membayangkan dan mempersiapakan menjemput kematian yang enak serta khusnul khotimah.

Semua manusia dibangkitkan oleh Allah memiliki posisi, kondisi dan keadaan yang berbeda-beda. Semua tergantung dari amal mereka masing-masing sewaktu di dunia.

Hakekat kematian yang disampaikan oleh Rasulullah: 

”Setiap anak adam yang hidup di dunia sesungguhnya dia itu dibayang-bayang dengan 99 ancaman kematian, lalu manusia itu mampu menyelamatkan dari 99 ancaman kematian itu, satu yang tidak bisa lari yang ke 100 yaitu tua dan renta”. (HR. Tirmidzi)

Tua dan renta itu yang akan membuat manusia itu akan menghadapi kematian. Kita itu dekat sekali dengan kematian. Dan kita tidak tahu dengan sebab apa kita meninnggal dunia.

Salah satu tokoh tabi’in Hasan Al Basri beliau mengatakan tentang dekatnya kematian:

”Sesungguhnya malaikat Izrail itu mendatangi manusia sebanyak 3 x dalam sehari, dengan membawa catatan rejekinya. Jika catatan rejekinya telah habis maka disitulah malaikat mencabut nyawa orang tersebut. Dan menyerahkan ruh nya pada malaikat rahmah jika ia beriman atau malaikat azab  jika tidak beriman tergantung dari amalnya”

Ketika seseorang baru dicabut nyawanya malaikat maut masih ada disekitar orang itu.

Saudaraku, kita tidak tahu kapan malaikat maut menjemput kita dan dengan sebab apa kita meninggal. 

Seseorang yang mengalami kematian pasti mengalami sakaratul maut yang sangat menyakitkan.

Sakit yang berlapis-lapis yang menyebabkan kita menjemput kematian. Sampai Rasulullah juga merasakan sakaratul maut. 

Kita bisa bayangkan sakitnya sangat luar biasa. Sakit yang berlapis-lapis itu sampai menyebabkan orang yang mengalami sakaratul maut hanya terdiam. 

Coba kita bayangkan salah satu penyiksaan pada tahanan tempo dulu untuk menyiksanya dengan mencabut kuku?

Bagaimana ruh yang telah menyatu pada jasad kita yang telah sekian tahun lamanya, pasti sakit sekali.?

Juga kita bisa bayangkan misalnya kita mencabut rambut yang ada di jempol kaki kita.

Tentunya sakit sekali bukan?

Sedangkan orang yang tidak mengalami sakaratul maut adalah mereka yang meninggal sedang berjuang atau berjihad di jalan Allah. 

Demikian lah dekatnya kematian bagi setiap hamba, Semoga kita senantiasa dibmbing oleh Allah untuk mengingat kematian dan membayangkan sakitnya sakaratul maut ini.

Sehingga menjadikan hati kita semakin dekat sama Allah dan bersegera beramal untuk mempersiapkan kita menjemput kematian itu.

Karena bagaimana pun indahnya dunia ini pasti cepat atau lambat kita akan meninggalkannya.

 "Mahasuci Allah yang Menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang Menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun." (QS al-Mulk: 1-2).

YOUR REACTION?

Facebook Conversations