Oleh: Lailatul Fitriyah
Seperti teriris rasanya saat mendengar berita tentang kembali terulangnya penindasan etnis Uighur di Xinjiang China oleh pemerintahnya sendiri.

Seperti sudah diketahui bahwa penindasan terhadap etnis ini sudah berlangsung cukup lama.

Atas nama memerangi ekstrimis/teroris atau bahkan dengan istilah yang lebih halus seperti "pendidikan ulang" sekalipun China seolah merasa sah sah saja melakukan penindasan etnis Uighur yang mayoritas adalah muslim. Mereka ingin melucuti segala yang berbau Islam dari Uighur.  

Berbagai macam bentuk intimidasi dilakukan seperti menutup banyak masjid di Xinjiang. Pemerintah melarang etnis Uigur menjalankan agama mereka. Termasuk memelihara jenggot bagi pria. Ini dilakukan sebagai upaya melemahkan aturan agama. Mereka juga memaksa wanita-wanita muslimah Uighur untuk menikah dengan pria-pria suku Han yang kafir. Juga melarang umat Islam memberikan nama Islami.

Yang terbaru mereka memenjarakan secara massal etnis Uighur di camp camp sebagaimana yang dikutip oleh BBC News, Kamis (19/12/2018) "Pada Agustus 2018, sebuah komite PBB mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang barat, dan di sana mereka menjalani apa yang disebut program 'reedukasi, atau 'pendidikan ulang'."

Dari serentetan kejadian memilukan yang dialami oleh Uighur tidak ada aksi intervensi lebih selain hanya kecaman dan kritik oleh negera negara di dunia tak terkecuali oleh negeri negeri muslim, bahkan Indonesia sebagai negri muslim terbesar di dunia lebih memilih bersikap netral terhadap kejahatan kemanusian yang dialami Uighur.

Rasanya Uighur hanyalah satu dari sekian banyak kaum muslim di belahan dunia ini yang hanya disikapi dengan kecaman dan diam oleh negeri negeri muslim dengan alasan tidak ingin memcampuri urusan negeri orang lain. Padahal kesamaan aqidah semestinya menjadi cukup alasan untuk melakukan aksi pembelaan kepada saudaranya sekalipun berbeda negara. 

Ikatan nasionalisme telah membuat umat yang pada awalnya satu tubuh ini menjadi tercerai berai lemah tanpa kekuatan. 

Sungguh jeritan umat muslim yang teraniaya hanya akan bisa diselesaikan jika umat bersatu dalam ikatan aqidah dan satu kepemimpinan Islam sedunia. 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations