Oleh: Nuril Laelatul H.S, Mahasiswa Jember
Tahun 2020. Indonesia dihebohkan oleh adanya pandemi global menular dan mematikan yang masuk ke Indonesia. Wabah ini bernama COVID-19 (Corona Virus Disease 2019), yaitu virus varian baru dari SARS atau MERS yang pernah dulu mewabah di dunia.
Pixabay

Wabah ini disebabkan oleh Coronavirus, makhluk mati tapi sangat mematikan ketika menyerang manusia, inang yang cocok untuk perkembangbiakannya. Dilansir dari (www.tempo.com, 17/03/2020), virus Corona sudah menyebar di 155 negara dan sudah dinyatakan sebagai pandemi global. Wabah Coronavirus ini telah menyebabkan terbunuhnya ribuan orang di dunia dan sejauh ini telah menyebabkan kematian puluhan orang di Indonesia. Wabah ini dimulai bulan Desember 2019 lalu di wilayah Wuhan, Provinsi Hubei, China. Wabah ini terjadi saat dimana terjadi migrasi manusia terbesar di dunia dari satu tempat ke tempat lain dalam skala besar dan luas. Sehingga memudahkan transmisi virus dengan sangat mudah dan cepat. 

Indonesia rupanya tidak belajar dari kesalahan negara lain, seperti Italia. Dimana ketika wabah ini telah menyebar di Italia, orang-orangnya menganggap remeh hal ini. Hingga sampai pada suatu titik dimana rata-rata kematian di Italia mencapai tingkat tertinggi di dunia dengan persentase lebih dari 9 persen, bahkan lebih tinggi dari China dimana virus bermula. Italia segera melakukan tindakan pencegahan guna menghentikan penyebaran virus. Berbagai upaya dilakukan termasuk memberlakukan lockdown nasional dan penutupan semua bisnis yang tidak penting. Di Italia, lockdown diberlakukan secara nasional mulai 10 Maret lalu, yang melarang hampir seluruh kegiatan 60 juta warga. Pelarangan termasuk membuka toko, restoran, mendatangi tempat ibadah, dan ke sejumlah tempat lainnya (www.tempo.co,17/03/2020). Upaya Italia tersebut membuahkan hasil hingga angka kematian akibat COVID19 sedikit mengalami penurunan. Selama 2 hari beruntun, angka kematian COVID19 di Italia turun (www.kompas.com, 24/03/2020). Berbeda halnya dengan Indonesia yang terus meningkat setiap harinya. 

Setelah dinyatakan kasus positif Corona masuk ke Indonesia, tindakan preventif pemerintah dalam menangani penyebarannya sangat kurang, bahkan menganggap remeh dan cenderung abai dalam menyelesaikannya. Bagaimana tidak! Pada tanggal 17 Februari 2020 ketika ditanya oleh wartawan, Menhub Budi Karya Sumadi dengan percaya diri mengatakan bahwa Indonesia kebal dari Coronavirus karena masyarakat Indonesia memiliki kekebalan tubuh karena gemar makan nasi kucing. (www.republika.co.id, 17/02/2020).  Tetapi tidak lama setelah itu akhirnya beliau dinyatakan positif Corona. Hal ini juga disusul oleh pernyataan tokoh-tokoh lain yang juga dinilai abai terhadap permasalahan ini. 

Ketika Coronavirus merebak di tanah air, korban banyak berjatuhan. Update perkembangan terbaru COVID19 di Indonesia per 24 Maret 2020, telah mencapai 686 kasus, 55 meninggal dan 30 sembuh (www.cnnindonesia.com, 24 Maret 2020).  Perkembangannya pesat, dalam waktu beberapa minggu saja dapat menghasilkan ratusan kasus COVID19. Indonesia kekurangan tenaga medis, alat medis, Alat Pelindung Diri (APD), dan ruang isolasi yang sangat terbatas di Rumah Sakit. 

Sebenarnya masalah ini menjadi begitu pelik karena dari awal pemerintah sangat tidak tegas dan abai menyelesaikan pandemi ini. Disaat dunia genting dan disaat negara-negara lain memberlakukan lockdown justru Pemerintah Indonesia menggelar karpet merah bagi WNA yang ingin berkunjung ke Indonesia. Pada tanggal 15 Maret 2020 lalu, sebanyak 49 TKA Cina Masuk Sulawesi Tenggara tanpa karantina (https://nasional.tempo.co, 17/03/2020). Padahal China adalah sumber awal munculnya virus ini. Sejak diberitakan bahwa 2 pasien positif Corona, pemerintah tetap memberlakukan diskon tiket pesawat. Alasannya adalah ini insentif untuk mengurangi tekanan ekonomi (www.cnnindonesia.com,02/03/2020). Berbagai desakan datang dari berbagai pihak untuk melakukan lockdown, tetapi pemerintah tak kunjung melakukan lockdown dengan dalih untuk menyelamatkan ekonomi rakyat. Pertanyaannya adalah rakyat mana yang dimaksud? Rakyat menengah atas? Beginilah negara korporatokrasi bekerja. Ekonomi lebih utama dibandingkan nyawa rakyat cilik. 

Kondisi ini diperparah oleh kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya wabah Coronavirus ini. Masih banyak masyarakat yang tidak sadar pentingnya social distancing. Kurangnya edukasi dan peraturan pemerintah menambah parahnya kondisi ini. Jumlah kasus COVID-19 di Indonesia bertambah setiap harinya. Pada tanggal 25 Maret 2020 kasus COVID19 bertambah menjadi 790 Kasus, 58 meninggal, dan 31 sembuh. Itu artinya terdapat penambahan sebanyak 104 kasus dalam waktu satu hari.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations