Oleh : Fauziah Mahfuzhatulhafizh

“Sssttt...tak perlu ada yang tahu”, Ibu sepuh memberi komando. “Cepat bayi ini dikafani, siapapun yang melihat ini harus merahasiakannya, jangan ada yang berani menceritakan kepada siapapun!” Tegas Ibu sepuh. Malam semakin mencekam. Mata-mata nanar menatap “bayi” itu. Seisi rumah besar itu diam terkesiap. Dalam hati mereka mempertanyakan, “Dosa apakah gerangan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya sehingga bayi ini seperti ini?”

Menjelang pagi di sebuah kampung, ayam berkokok saling bersahutan, angin bertiup memboyong uap air, membuat udara terasa menusuk tulang, membekukan otot-otot, membuat malas beranjak dari peraduan. Mentari pun masih bersembunyi dibalik gunung. Seperti malu-malu untuk menampakkan dirinya.

Tetapi hawa pagi itu bagi beberapa penduduk kampung terasa membakar amarah mereka. Mereka gempar. Mereka panik. Nampak kecemasan mewarnai raut wajah mereka. Bagaimana tidak? Mereka terancam gagal panen ikan tahun ini. Ikan-ikan yang mereka pelihara sepenuh hati, ternyata sudah tak lagi bernyawa, bertebaran, bergoyang-goyang mengikuti riak air kolam yang tertiup angin pagi.

"Terlalu, siapa yang melakukan ini semua? Ini jelas-jelas tidak normal, tidak ada sedikit pun tanda-tanda keracunan, semuanya baik-baik saja! Kenapa bisa begini?" Teriak seorang penduduk kepada rekannya.

"Iya nih, aneh sekali. Ini seperti ditusuk sampai mati." Timpal yang lain.

Pematang sawah itu makin dipenuhi oleh penduduk lain yang penasaran akan kejadian yang sebenarnya.

Makin riuhlah suasana pagi itu.

Tak berapa lama, muncullah seorang laki-laki, usianya sekitar 30 tahunan.

"Ada apa ini?" Tanyanya dengan sikap bergaya bijaksana.

Para pemilik ikan-ikan yang mati itu langsung menjawab pertanyaan laki-laki itu. Tapi di tengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba...

"Eh...tunggu!" Teriak seorang penduduk. "Kenapa ikan kami saja yang mati? Kok bisa ikan-ikanmu aman-aman saja?"

"Alaaah...itu sih keberuntunganku, mana aku tahu!! Sudah bubar saja!! Lain kali ronda malam ke kolam ikanmu biar aman!!!" Laki-laki itu setengah mengusir orang-orang yang berkumpul itu.

Mereka pun membubarkan diri.

Seulas senyum puas tersungging di ujung bibir laki-laki itu. Dia menarik nafas dalam-dalam sambil matanya menatap langit yang nampak biru. Kabut pagi masih menyelimuti saat matahari merangkak naik. Bumi mulai terang benderang ditimpa cahayanya.

Perlahan dia lepaskan udara yang dihirupnya tadi. Lalu berlalu sambil menggumamkan sebuah kidung berbahasa Sunda. Hatinya sungguh berbunga-bunga.

###

Raungan seorang wanita yang baru melahirkan itu memecah keheningan malam. Tak ada yang sanggup membuatnya berhenti menangis. Semuanya terdiam. Sebagian dari mereka pun sibuk menyeka air mata masing-masing.

"Sssttt...tak perlu ada yang tahu", Ibu sepuh memberi komando. "Cepat bayi ini dikafani, siapapun yang melihat ini harus merahasiakannya, jangan ada yang berani menceritakan kepada siapapun!" Tegas Ibu sepuh. Malam semakin mencekam. Mata-mata nanar menatap "bayi" itu. Seisi rumah besar itu diam terkesiap. Dalam hati mereka mempertanyakan : "Dosa apakah gerangan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya sehingga bayi ini seperti ini?"

Dukun beranak yang membantu persalinan wanita itu dengan cekatan memulasara jenazah bayi itu.

Ibu sepuh masih merasakan kepanikan. Bagaimana bisa hal ini dialami oleh keluarganya? Bagaimana jika masyarakat tahu? Bisa-bisa jatuh martabat keluarganya. Tentu saja ibu sepuh itu harus memastikan hal itu tidak terjadi. Semua harus diatasi dengan sangat baik dan rapi.

Tak terasa shubuh pun hadir, diumumkanlah kematian sang bayi melalui pengeras suara mushola. Tak berapa lama, para pelayat berdatangan sili berganti mengucapkan bela sungkawa sambil tak lupa menyisipkan amplop berisi uang yang tak seberapa besar ke dalam wadah yang sudah disiapkan pihak keluarga sang bayi.

Wajah datar, wajah sedih, wajah heran, wajah melamun, dan wajah dengan roman berbeda lainnya menghiasi gang-gang sempit yang dipenuhi para pengiring jenazah menuju pemakaman keluarga.

###

35 tahun kemudian, laki-laki itu tersungkurdi hadapan Baitullah. Dia menangis tersedu teringat akan segala dosanya. Lemah nian tubuhnya, lelah karena tangisannya. Wajahnya dikotori debu campur air mata yang terus mengalir. Dia terus bermunajat kepada Sang Khaliq memohon pengampunan atas segala dosanya.

Makin dalam dia rasakan makin bertambahlah kepedihannya. Dia terkenang akan bayi perempuannya, yang sangat diinginkannya. Bayi yang tak berdosa itu lahir dengan rupa yang sulit diartikan. Bermata besar menonjol seperti capung, berkepala lunak, berbadan seperti ikan yang tanpa sirip dan tanpa ekor. Sungguh wujud yang membuat bergidik siapapun yang melihatnya.

Lalu siapa gerangan laki-laki yang bertaubat itu? Laki-laki itu adalah laki-laki yang tersenyum puas saat ikan-ikan tetangganya berhasil ia "bantai" dengan cara tak berperikehewanan. Disuatu malam, dia tangkapi ikan-ikan di kolam para tetangganya, lalu dia pijit mata semua ikan-ikan yang didapatkannya tanpa belas kasihan hingga ikan-ikan itu menemui ajalnya.

Dengan hati diliputi hasad, dengki dan keserakahan, saat itu tak sedikitpun rasa bersalah hinggap di hatinya. Tak secuil pun rasa malu menyergap hatinya, meskipun tetangga mempergunjingkan ikan-ikan dia yang baik-baik saja.

Hingga akhirnya kini semua tinggal penyesalan. Dia pun menyesalkan sikap ibu sepuh yang tiada lain adalah ibu kandungnya yang menganggap perilakunya bukanlah perilaku yang harus diluruskan dengan serius. Dan bukan kekotoran yang harus dijernihkan. Sehingga semua berlalu begitu saja. Merasa aman dari pandangan manusia. Menanggung beban sesal tiada tara.

Sepulang dari Baitullah, laki-laki itu bertekad menjadi manusia baru. Dia yakin Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations