Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Himpitan ekonomi mematikan naluri keibuan, tidak adanya riayah negara keluarga sangat sulit bertahan, terutama ketika kapitalisme yang diadopsi, makin menunjukkan jurang perbedaan.

Kehadiran seorang bayi dalam sebuah keluarga semestinya adalah anugerah. Banyak pasangan yang begitu mendambakan memiliki buah hati, keturunan dari pernikahan mereka. Namun karena berbagai faktor, termasuk belum rezeki dari Sang Pemberi Rezeki, bayi itu tak kunjung hadir. Segala cara telah diupayakan dari yang tersederhana hingga terrumit, dari yang berbiaya murah hingga tak bisa dihitung nominalnya. 

Ironinya, ada seorang ibu berinisial K tega membuang bayinya di pekarangan Dusun Luwung, Desa Sumokembangasri, Kecamatan Balungbendo, Sidoarjo, Jawa Timur (jpnn.com, 1/9/2021). Menurut Kapolresta Sidoarjo Kombes Kusumo Wahyu Bintoro, alasan pelaku membuang buah hatinya lantaran tak sanggup merawatnya. "Motifnya karena himpitan perekonomian,” ujar Kusumo. 

Siapa yang disalahkan jika keadaannya begini? Berita terakhir sang bayi selamat dan dalam perawatan Puskesmas Balongbendo, Sidoarjo. Meskipun demikian, tak seharusnya peristiwa kelahiran seseorang menjadi beban berat bagi orangtuanya bukan? 

Allah SWT berfirman, yang artinya: “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S al-Baqarah[2]: 233). 

Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah menderita karena anaknya. Ahli waris pun berkewajiban seperti itu pula, rentetan kalimat ini menunjukkan anak adalah amanah, bukan beban, baik bagi ayah, ibu dan ahli warisnya. Buya Hamkah dalam tafsir Al-Azhar menjelaskan ini berkaitan perkara hak dan kewajiban orangtua terhadap anak, tak hanya sandang, pangan tapi juga pendidikan dan aklaknya. Dimana di dalamnya mengharuskan ada musyawarah yang terbuka pada setiap anggota keluarga, jika kemudian istri memutuskan membuang bayinya tanpa musyawarah samasekali, bukankah itu penggambaran betapa besarnya rasa putus asa itu?

Lembutnya hati, berubah pendek pikir dan gelap mata. Tak  ada tempat dituju, tak ada sandaran kokoh untuk sekedar mengurangi beban hidup, bahkan sekadar untuk menuangkan isi hati. Bagaimana jika kelak tuntutan terhadap orangtuanya ini juga dilontarkan anak yang tak berdosa itu? Betapa azab Allah akan bertambah besar. 

Mirisnya, diberitakan pula kekayaan sejumlah pejabat pemerintahan meningkat hingga 100% dan salah satu anggota parlemen, seorang publik figur dengan terbuka memberitahukan nominal yang ia dapatkan dari pekerjaannya sebagai wakil rakyat perbulan. Sungguh angka yang fantastis, rutin setiap bulan, setiap lima bulan bahkan ada yang ia terima hingga lima kali dalam setahun. Istilah dana aspirasi yang samasekali tak mewakili aspirasi rakyat, coba tanya saja ibu di Sidoarjo itu, benarkah setega itu ia membuang anaknya? Tentulah ia tak akan sanggup menjawab. Dilema luarbiasa. 

Kemana peran penguasa? Mereka yang seharusnya meriayah rakyat yang dipimpinnya, tak hanya pandai mengedukasi soal wajibnya membayar pajak namun juga peka akan kebutuhan rakyat tanpa harus diminta atau malah tanpa menunggu viral di media sosial. Kekuasaan yang ada di tangan mereka bukan permainan, ia sama dengan seorang anak di tangan orangtuanya, yaitu amanah. Yang kelak harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. 

Lebih miris lagi jika kembali mengukur ukuran baliho pejabat yang saat ini masih aktif namun sudah mulai merangsek soft Champaign guna maju di tahun 2024. Ternyata tak sebesar dengan kepekaan nurani mereka, bahkan mereka menganggap rakyat telah lupa janji kampanye mereka terdahulu sehingga dengan senyum manis terpampang di sepanjang jalan umum. Pernahkah mereka sedikit menunduk, melihat pada pedihnya hati seorang ibu yang tak sanggup merawat buah hatinya, seorang bapak yang meskipun sudah sekuat tenaga berusaha memberikan kemakrufan kepada keluarganya namun tetap saja kurang?

Apalah daya seorang ayah yang hanya buruh kasar, saat pulang tak lagi menemukan anaknya, rasanya tak hanya itu, PPPK yang baru saja digelar Kemendikbudristek guna standarisasi baru para guru juga menyisakan kabut airmata, pemandangan seorang guru dengan sepatu lusuh dan nanar melihat layar monitor dengan sejumlah pertanyaan yang bisa jadi tak pernah dibutuhkan selama berpuluh-puluh tahun ia mengajar dan mencerdaskan anak-anak bangsa. Padahal di sisi lain, iapun kepala keluarga, ada banyak yang menjadi tanggungannya. 

Sistem kapitalisme ini memang tak pernah berpihak pada mereka yang "lemah". Jelas mereka akan tersingkir dengan sendirinya, sebab kapitallah pengendali yang sesungguhnya. Semua diukur dari siapa yang terbanyak hartanya,  semua akses akan mudah dia raih, meskipun dalam perundang-undangan rakyatlah yang berkuasa. Hanya sekadar retorika basi penguasa. Tak pernah terealisir sedikitpun. Jurang pemisah itu makin melebar, yang kaya semakin kaya yang miskin makin miskin. 

Kembalikan buaian yang dihempas kesulitan ekonomi dengan syariat, hanya itulah satu-satunya yang mampu menjawab jeritan manusia-manusia tertindas, bayi-bayi yang tak berdosa itu.

Wallahu a'lam bish showab. 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations