'New normal' ini efektifnya dijalankan di saat kurva sudah landai mendekati normal, disaat jumlah pasien positif sudah berkurang walau masih ada dengan catatan tidak ada penambahan klaster. Jadi hanya mengobati yang sedang sakit.

Oleh: Sri Handayani

Wacana untuk melakukan 'new normal' akan digulirkan oleh pemerintah bulan juni depan. Apakah ini rencana terbaik untuk memulihkan ekonomi atau akan menjadi misi bunuh diri massal gelombang kedua dari pandemi covid -19? 

Sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa kurva korban pandemi ini belumlah melandai justru masih merangkak naik dan entah sampai kapan menuju puncaknya, jika melihat kebijakan pemerintah masih semrawut, mencla mencle dan membingungkan. Diantaranya PSBB masih longgar, masih banyak orang yang keluar dengan bebas karena perusahan dan pabrik-pabrik masih buka, mall dan pasar pun mulai ramai lagi tanpa jarak, begitu pula seluruh transportasi dibuka kembali sehingga banyak yang mudik dan berpergian dimana-mana. Belum lagi nakes yang masih banyak kekurangan alat kesehatan dan yang terpapar virus ini, RS rujukan dimanapun sudah kewalahan merawat dan menerima pasien yang positif covid-19 yang membludak sampai puluhan bahkan ratusan perhari, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum aman dari pandemi covid-19. 

Menurut pakarnya, 'new normal' ini efektifnya dijalankan di saat kurva sudah landai mendekati normal, disaat jumlah pasien positif sudah berkurang walau masih ada dengan catatan tidak ada penambahan klaster. Jadi hanya mengobati yang sedang sakit. 

Jika rencana new normal ini jadi diterapkan dan seluruh rakyat beroperasi bergerak dalam kondisi wabah masih tinggi-tingginya, walau dengan jaga jarak, sosial distancing atau dengan menerapkan sop kesehatan ketat apakah menjamin virus ini tidak menyerang?

Seperti kasus Flu di Spanyol yang korban meninggal meningkat tajam berkali-kali lipat terjadi di gelombang ke 2. Dimana rakyat mulai bosan dikarantina dan pemerintah membuka jalan-jalan seperti biasa sehingga rakyat keluar tumpah ruah dijalan dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Dan yang terjadi sepekan berikutnya bergelimpangaan korban-korban akibat virus flu tersebut.

Kita berharap pemerintah tidak gegabah mengambil kebijakan yang akan membahayakan rakyatnya. Janganlah mengorbankan rakyat demi segelintir para kapitalis yang sedang tercekik usahanya. Bukan hanya mereka, semua rakyat juga sedang mengalami susah berjuang sendiri di tengah wabah. 

Rindu dengan kebijakan khalifah Umar bin khattab ketika menghadapi musibah dan wabah, bagaimana dengan susah payah dan bersungguh-sungguh mengutamakan rakyatnya. Karena takutnya pertanggungjawabannya kepada Allah atas kepemimpinannya di akhirat nanti.

Kholifah juga ikut merasakan apa yang dirasakan rakyatnya,  dengan ikut merasakan lapar, memakan yang sama dengan apa yang dimakan bahkan begadang berkeliling memantau rakyatnya dan berlama-lama dalam berdoa memohon pertolongan Allah. Mengkarantina yang sakit dan terdampak wabah. 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations