Oleh : Maman El Hakiem

Apa yang dicari dari hidup ini? Sebagai makhluk "telanjang", lalu Allah SWT menjadikannya makhluk "berpakaian" dengan bekal akal yang dimilikinya. Inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Meskipun keduanya makhluk yang memiliki kesamaan dalam kebutuhan dasar seperti makan, minum dan tidur. Namun, secara naluri manusia memiliki "gharizatu dien", yaitu naluri untuk menangkap sinyal kehadiran Allah SWT dalam hidupnya.

Naluri beragama adalah bawaan sejak lahir, karena itu fitrahnya manusia berada dalam hidayah agama yang lurus, yaitu Islam. Tidak ada manusia sebelum akalnya baligh yang terkena tuntutan hukum yang berimplikasi pada pahala atau dosa. Naluri beragama tumbuh atau layunya saat manusia dengan akalnya diberikan pilihan untuk menjadi hamba yang berserah atau berlaku sombong dengan hawa nafsunya (kecenderungan ego sentris).

Tawakal, secara terminologis adalah menyandarkan diri kepada apa yang telah ditetapkan Allah SWT. Bersandar artinya meyakini bahwa Allah SWT lebih memiliki kekuatan atau kemampuan dari apa apa yang telah diusahakan hamba-Nya. Karena berada pada ranah keyakinan, maka tempatnya tawakal berada dalam akidah orang yang beriman. Adapun aktifitas hidupnya, bagian lain  yang harus diikatkan dengan tuntunan syariat Islam. 

Tawakal dan amal shalih menemukan titik temu saat menjadikan dunia ini sebagai tempat ibadah. Tawakal bukan menyerahkan hasil akhir, bukan pula berpasrah tanpa berbuat apapun. Tawakal terhadap ketetapan (qada) dari Allah SWT tidak lain dengan nelakukan pilihan perbuatan yang mampu dikuasai manusia dengan tidak menyalahi hukum syariah.

Mengikatkan tali unta agar tidak lepas, adalah upaya manusia yang hukumnya mubah (boleh) untuk mengiringi keyakinan bahwa Allah SWT sebagai pengatur kehidupan dapat menjaganya dari kehilangan. Perkara unta tersebut hilang atau tetap pada talinya, manusia telah bertawakal dengan apa apa yang telah ditetapkan Allah SWT. Karena Allah SWT maha mengetahui nilai baik dan buruknya atas setiap kejadian pada yang dialami makhluk-Nya. Menerima qada adalah bentuk tawakal kepada Allah SWT.

Karena itulah, apa yang dicari dalam hidup ini sesungguhnya bekalnya hanya dengan tawakal, dari makhluk yang tidak punya apa-apa, lalu dimampukan Allah mendapatkan derajat mulia. Dari tawakal kepada Allah SWT kita bisa meraih ridlo Allah SWT, karena berserah dirinya pada agama yang penuh dengan keselamatan ,yaitu Islam dapat menemukan derajat takwa sebagai sebaik-baiknya manusia di muka bumi. 

Wallahu'alam bish Shawwab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations