Oleh: Ayu Kusumayanthi,ST

Seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kini sang ibu mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota.

"Ditahan sejak kemarin di Polsek (Demak) Kota. Karena berkasnya sudah lengkap atau P 21," ujar kuasa hukum terlapor S (36), Haryanto saat dihubungi detikcom, Sabtu (9/1/2021).

Ibu yang telah berpisah dengan suaminya ini memiliki tiga anak. Dua anak ikut ibunya dan satu anak ikut bapaknya. Konflik diawali, saat mantan suami mengambil anak balita mereka tanpa sepengetahuannya. Sampai akhirnya terjadilah sebuah perseteruan hingga perangkat desa pun ikut menyaksikannya.

Berawal dari masalah baju, hingga tidak sengaja mencakar anak Terjadi perselisihan sampai dengan sang anak melaporkan ibu kandungnya sendiri hingga akhirnya sang ibu dijerat dengan pasal 44 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT subsider Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan.

Terdapat juga kasus lain yaitu seorang anak yang sengaja melaporkan ibu kandungnya karena keinginan memiliki motor. Tepatnya di daerah NTB. Namun, laporan anak tersebut ditolak oleh pihak kepolisian setempat. (Tribunnews.com 29 /06 /2020).

Kasus diatas hanyalah segelintir kasus yang merupakan potret keluarga zaman sekarang.

Ada apa dengan Generasi sekarang?

Setiap tanggal 22 Desember berbondong-bondong kaum milenial ikut serta merayakan. Namun, nyatanya hanyalah sebuah memorial kosong belaka oleh kaum milenial zaman sekarang. Hanya sekedar trend agar terlihat peduli dan yang kepada Ibu. Walaupun, tidak semuanya berniatan seperti itu. Ada yang memang tulus karena cintanya kepada ibu dan keluarga. 

Ibu sang pemilik derajat tiga tingkat dibanding ayah. Ibu adalah perisai bagi anak-anaknya. Lelahnya, peluhnya dan kasihnya tidak akan pernah berhenti sekalipun hati selalu disakiti. Tidak ada ibu yang akan memangsa anaknya sendiri. 

Mengandung 9 bulan 10hari seperti sudah tidak ada lagi harganya. Perihnya, kasih sayangnya dan letihnya dibalas dengan memberikan hadiah sebuah ruangan kecil, pengap dengan pagar berjeruji besi.

Interaksi Keluarga dalam sistem sekuler hanya bernilai materi. 

Sistem sekuler yang dibarengi dengan kenakalan remaja saat ini menghasilkan generasi yang bobrok. Dalam sistem sekuler keluarga interaksi dalam keluarga bernilai materi, hubungan ibu dan anak diukur dengan untung rugi.

Jauh dari rasa cinta dan kasih sayang terhadap keluarganya sendiri apalagi kepada seorang ibu. Tidak ada lagi yang namanya rahmah sesama anggota keluarga. Anak bak raja, orang tua sebagai pembantunya

Inilah kenyataan hasıl dari sistem sekuler saat ini. Sangat jelas Nilai liberal bukan hanya gagal menghadirkan penghormatan terhadap ibu, juga gagal menghasilkan ketenangan dan menghasilkan generasi durhaka.

Keluarga Dalam Islam dan Fungsi Negara

Lalu bagaimana keluarga Islam terbentuk, dasar interaksi dan fungsi negara terhadap jalannya keutuhan keluarga ?

Dalam hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu'annhu, Rasulullah menyuruh kita untuk berbuat baik tiga kali lebih besar kepada ibu dibanding ayah. 

"Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,'Wahai  Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?'. Nabi SAW menjawab, 'ibumu, ibumu,ibumu'.  Orang tersebut bertanya kembali, 'kemudian siapa lagi,' Nabi menjawab 'Kemudian ayahmu" (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Al-Qurthubi mengungkapkan dalam hadis tersebut memiliki arti bahwa kita harus mencintai dan menyayangi ibu tiga kali lipat lebih besar dibandingkan seorang ayah. Sebab keutamaan mengandung, melahirkan dan menyusuihanya dimiliki oleh ibu dan tak bisa digantikan oleh ayah. Dalam hadis tersebut jelas bagaimana kedudukan ibu dan peranan apa yang harus kita lakukan sebagai anak .

Sistem sekuler adalah sistem pemisahan agama dari kehidupan.Segala pengaturan kehidupan sengaja dipisahkan bahkan dijauhkan dari agama. Dari hal kecil tentang urusan keluarga, pendidikan, sekolah bahkan sampai ke urusan politik negara. Semua dijauhkan dari agama. Inilah sistem sekuler.

Begitupun halnya pengaturan pertahanan keluarga, Islam sangat mengatur hal ini. Islam hadir dengan seperangkat aturan yang sempurna, seperti tentang perkawinan, waris ,nasab, perwalian, pengasuhan, talak, rujuk dan lain-lain.

Keluarga adalah benteng pertahanan terdepan dalam Islam, Selain sebagai tempat memenuhi naluri nau’ (melestarikan keturunan) dan sebagai tempat menebar rahmat, juga memiliki posisi politis dan strategis sebagai madrasah, sebagai kamp perjuangan serta sebagai tempat mencetak generasi cemerlang.

Dalam berinteraksi antar keluarga pun selalu dijaga keislamannya. Anak menghormati orang tua, orang tua menyayangi anak, suami istri saling menghormati. Suami akan bertanggung jawab dan memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga, istri akan menerima hak-hak nya dengan sepenuhnya. Tidak ada lagi seorang istri menggantikan posisi suami atau sebaliknya.

Ibu adalah Ummu warobatul bait, sekaligus pengatur rumah tangga dan juga sebagai 'madrosatul ula’. Dan Madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Sejatinya ibu tidak akan khawatir dengan kesalehan anak-anaknya, dan tidak pengaruh pula terhadap kenakalan remaja saat ini, karena keluarga sudah mencetaknya menjadi generasi unggulan, yaitu generasi yang takwa dancerdas sehingga mampu membawa perubahan kepada peradaban yang lebih mulia. Dan inilah generasi khoiru ummah.

Maka akan tercetak keluarga yang tenang, harmonis dan penuh kasih sayang. Hal ini terjadi jika Islam diterapkan dalam kehidupan keluarga, Pastinya hanya dengan sistem khilafahlah ketahanan negara dan fungsi peran negara terhadap keutuhan keluarga terjamin.

Sistem khilafah berbeda dengan sistem kapitalis sekuler. Khilafah Islam adalah sebuah konsep pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam. Khilafah memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, sehingga mampu melahirkan generasi yang berkualitas.

Pelaksanaan aturan Islam secara kaffah oleh negara akan menjamin kesejahteraan ibu dan anak-anaknya, baik dari segi keamanan, kebahagiaan hidup dan kemakmuran.

Kemuliaan para ibu sebagai pilar keluarga dan masyarakat terjaga, sehingga mampu mengoptimalkan berbagai perannya baik dalam lingkup individu maupun di masyarakat dengan diterapkannya hukum Islam . Sehingga tidak ada lagi yang namanya anak memenjarakan ibu demi sebuah nafsu dan gaya hidup.

Walohu'alam bisshawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations