Anak malas belajar dan main terus kok bisa terjadi? Hal ini dikarenakan beberapa kondisi. Pertama kondisi orang tua yang sibuk, baik ayah maupun ibu sama-sama bekerja. Terdapat juga kondisi dimana ibu tidak bekerja, namun tidak memahami bagaimana pola pengasuhan anak sesuai usianya.

Dilansir dari cnnindonesia.com (15/07/2020) bahwasanya puluhan orang tua murid di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur,menuntut sekolah dasar negeri (SND) segera dibuka. Sebab libur panjang sekolah akibat corona jadi pemicu anak malas belajar dan lebih sering bermain. Anak malas belajar danmain terus kok bisa terjadi?

Hal ini dikarenakan beberapa kondisi. Pertama kondisi orang tua yang sibuk, baik ayah maupun ibu sama-sama bekerja. Terdapat juga kondisi dimana ibu tidak bekerja, namun tidak memahami bagaimana pola pengasuhan anak sesuai usianya.

Kedua, guru dan sekolah juga ikut andil dalam masalah ini, yaitu belum siap dan sigapnya guru maupun sekolah dengan kondisi pandemi sehingga sulit membuat proses belajar mengajar jarak jauh yang menyenangkan dan mencerdaskan.

Ketiga, pemerintah juga belum maksimal memberikan bantuan akses pendidikan secara online semisal pengadaan internet gratis bahkan jika perlu pemberian smartphone atau laptop gratis bagi yang tidak memiliki guna mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar. Disisi lain juga perlu menjamin kebutuhan pokok keluarga terdampak pandemi sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat keluar rumah mencari nafkah di situasi pandemi dan bisa fokus mendampingi putra dan putrinya belajar di rumah.

Ketidak maksimalan ini wajar terjadi di sistem kapitalisme yang masih mempertimbangkan untung rugi dalam mengurusi urusan rakyatnya. Apalagi mengeluarkan dana yang maksimal guna mengurusi rakyat di masa pandemi ini rasanya sangat sulit sekali, terakhir kita mengetahui bahwa dari 75 trilyun anggaran dana kesehatan, yang cair masih 1,53 persen (kompas.com, 30/06/2020).

Orang tua yang jauh dari pola pengasuhan anak yang ideal wajar terbentuk di sistem kapitalisme yang mana malah mendorong ayah maupun ibu untuk bekerja meninggalkan rumah demi memperoleh pundi-pundi rupiah guna menyambung hidup. Sehingga banyak ibu yang melupakan peran utamanya dan tergantikan dengan peran mencari nafkah yang serba sulit di sistem ini. Anakpun menjadi korbannya, jika guru tak mampu membersamainya disekolah karena pandemi, lantas siapa yang akan menemani anak di rumah? Wajar jika anak akan malas belajar dan sering bermain

Hal ini bertentangan dengan sistem Islam Kaffah yang memiliki solusi atas kebingungan dalam menghadapi pendidikan di masa pandemi. Dari awal, Islam memiliki kebijakan lockdown pada daerah terdampak guna menghentikan penyebaran penyakit di wilayah lain. Disisi lain, Islam memiliki pemahaman bahwa tugas utama seorang ibu adalah sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Jika ada kondisi pandemi, ibu akan siap 100% membimbing dan mendidik anak-anaknya di rumah.

Di sisi lain, negara juga memiliki kewajiban untuk menangung seluruh kebutuhan pokok warganya di masa pandemi. Pemenuhan internet gratis dalam rangka mendukung sistem pendidikan akan diberikan bahkan bukan hanya di masa pandemi, tanpa adanya pandemi sistem pendidikan berkewajiban memberikan pendidikan terbaik dan bebas biaya. Oleh karena itu, mari bersama-sama beralih kepada solusi Islam Kaffah. Solusi yang menuntaskan masalah perkembangan anak baik dari segi orang tua, guru hingga tataran negara.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations