Oleh: Maman El Hakiem

Hampir 24 jam lebih Fikri belum siuman. Tim dokter rumah sakit masih berupaya menyelamatkan jiwanya. Detak jantungnya masih lemah, kami bergiliran menjaganya.

“Sungguh jiwa yang sabar, menatap wajah Fikri yang matanya terpejam. Sosok yang selalu riang, diuji dengan keadaannya yang tak berdaya di pembaringan. Fik, kamu harus kuat berjuang menjemput cintamu!” Batinku selalu memberinya semangat.

Di ruang tunggu, para jamaah satu rombongan, saling berharap cemas. Di antara mereka ada sosok wanita yang dari sore hari tampak murung dalam pelukan ibunya. “Sabar, Nak! Doakan yang terbaik, jika Allah SWT mempertemukan ia sebagai jodohmu di tanah suci ini, pasti akan baik-baik saja.” Nasihat seorang ibu tersebut.

Sosok wanita yang dipeluk ibu tersebut, rupanya Kirani yang semula akan dipertemukan dengan Fikri. Namun, musibah telah membawanya ke rumah sakit. Begitulah rencana manusia, tidak pernah ada yang tahu akan takdir Allah SWT.

‘Bagaimana dok, kondisi sahabatku, Fikri?” Tanyaku pada dokter yang baru saja selesai mengecek keadaan Fikri. “Hanya doa yang terbaik yang mampu mengubah keadaan, sabar ya Pak!” Nasihatnya sambil menepuk bahuku.

“Ya dok, terimakasih.” Jawabku. Hati kian cemas menghadapi apa yang akan dialami Fikri.

“Udah tadz, jangan terlalu cemas! Jalannya kehidupn ini telah Allah tentukan, ada sesuatu yang mampu kita kuasai, ada pula sesuatu yang menguasai kita. Apa yang mampu kita kuasai, itulah aturan hidup yang diberikan Allah SWT, sedangkan apa yang tidak mampu kita kuasai, itulah qada atau ketetapan yang baik dan buruknya menjadi rahasia-Nya.” Ucap Ustadz Hanan yang selalu memberikan petuah di saat hati ini lemah.

Sungguh waktu berjalan terasa lama, saat kita diuji dengan sakit. Putaran jam seperti hari-hari yang panjang. Berbeda saat kita diberikan nikmat sehat, waktu terasa berlalu begitu cepat. Perjalanan di tanah suci hampir sepekan, pencarian makna hidup yang harus dibawa dalam keadaan suka dan duka. Ada hamba Allah SWT yang berusaha untuk hijrah menemukan cinta sejatinya. Ada kesetiaan wanita yang bertahan dalam menjaga kehormatannya.

“Tadz jangan banyak melamun, yuk kita tahajud...di rumah sakit ini, ada mushola yang cukup luas!” Ajak Ustadz Hanan yang menyadarkan lamunanku. Waktu menunjukan lewat  tengah malam.

“Ya Allah...berikanlah kekuatan untuk sahabatku, Fikri. Hamba-Mu yang berusaha untuk taat terhadap syariat-Mu, datang dari negeri yang jauh menjadi tamu dirumah-Mu. Berharap mendapat pengampunan-Mu. Kini, tak berdaya menerima ujian dari-Mu. Jadikan ia hamba-Mu yang sabar dan istiqomah dalam menjalani ketaatan. Aamiin.” Tak terasa doa itu telah mengundang air mataku membasahi pipi. Tempat sujud menjadi basah, berharap ada keajaiban di kota suci untuk jiwa-jiwa yang sabar. Ikhlas saat diuji dengan segala kesulitan yang ada. Ada kesunyian dimushola rumah sakit, selain getaran hati yang terus mengetuk pintu langit. (Bersambung).

YOUR REACTION?

Facebook Conversations