Oleh: Maman El Hakiem

Apa amalan utama, selain shalat ketika berada di Masjidil Haram? Thawaf, karena itu setiap masuk Masjidil Haram, pengganti shalat sunnah tahiyatul masjid adalah thawaf.

Mengelilingi kabah sebanyak tujuh putaran, mengingatkan kita bahwa hidup ini berputar seiring waktu. Pun orbit bumi bersama planetnya berputar. Hidup adalah pergerakan menuju perubahan keadaan yang lebih baik.

Suasana ramai, meskipun hari masih pagi buta. Dini hari sebenarnya waktu yang banyak dicari agar lebih leluasa untuk thawaf, mengingat jamaah tidak terlalu berjubel. Rombongan kami, sekira pukul 03.00 dini hari sudah memasuki Masjidil Haram. Entah apa yang selalu membuat hati ini bergetar setiap melihat kabah. Berjuta manusia ingin mencium hajar aswad. Berdoa khusyu di multazam seusai thawaf. Aku perhatikan Fikri air matanya berderai, mulutnya berdoa menggetarkan jiwanya.

Banyak sekali jamaah yang mencari waktu lenggang, tetapi sulit. Umroh itu maknanya meramaikan, tidak heran hikmahnya sangat terasa saat bisa beribadah secara berjamaah, meskipun kondisi Masjidil Haram waktu itu lagi di renovasi, material masih ada yang numpuk, tiang crane masih banyak berdiri. Peringatan bahaya dipasang di sana sini. Namun, tidak pernah menyurutkan animo kaum muslimin untuk menjiarahi Masjidil Haram.

Langit yang kemarin sore cerah, kini menghitam. Tiba-tiba, terdengar suara seperti gemuruh di langit Kota Makkah. Ada tiupan angin yang cukup kencang, ada badai gurun rupanya. Jamaah dibuat panik, terlebih terdengar jeritan di tempat sa’i, adatiang crane yang roboh. Orang-orang berteriak “ Allahu Akbar....Astaghfirullah....” Banyak sekali korban berjatuhan. Jamaah yang panik mencari jalan keluar, tetapi karena tidak tahu arah, banyak yang terpisah dari rombongan.

Para ketua rombongan jamaah dengan pengerah suaranya teriak-teriak agar semua anggota rombongan mendekati dirinya. Aku pun berusaha mendekatinya, tetapi aku melihat-lihat Fikri yang terakhir terlihat di multazam. “Astaghfirullah aladzim....Fikri dimana ya?” Aku berlari ke sana-kemari mencarinya, setiap pintu keluar masjid dicari. Tetapi Fikri tidak ditemukan.

“Gimana tadz kabar Fikri, apa sudah ketemu?” Tanya beberapa jamaah yang ikut mencarinya.

Ustadz Hanan, sebagai ketua rombongan berusaha mendata jamaah yang telah kumpul kembali bersama rombongan. Tetapi, Fikri tidak ditemukan, telepon genggamnya tidak bisa dihubungi. Ustadz Zaki sebagai muthowif berusaha mencari data ke sumber informasi di kedutaan besar yang ada di Saudi.  Keadaan semakin mengkhawatirkan setelah terdengar kabar cukup banyak korban yang meninggal, termasuk yang berasal dari Indonesia.

Akhirnya, dari rilis data korban resmi, ditemukan nama Fikri Izzatuddin, menjadi korban musibah crane, sekarang lagi dirawat di salah satu rumah sakit Makkah.

Beberapa kawan bergegas menuju rumah sakit, aku selalu berharap keadaan Fikri masih bisa terselamatkan jiwanya. Sesampainya di rumah sakit, tampak Fikri masih di ruang ICU, keadaannya sangat mencemaskan. “Masya Allah...Fikri yang sabar ya! Kamu pasti bisa melewati ujian ini.” Bisikku di samping tubuhnya yang masih dipasang alat-alat darurat medis. Napasnya begitu berat, bunyi alat pengukur detak jantung serasa bagai ketukan Malaikat maut.***(Bersambung).

 

 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations