Oleh : Ainun Jariah

Di tengah panasnya situasi nasional akibat disahkannya UU Ciptaker pasca Indonesia masuk dalam situasi resesi akibat pandemi, bangsa harus siap-siap menghadapi situasi yang semakin menjeratnya.

Dalam sebuah media online kompas.com pada 10/10/2020, 19:36 WIB diberitakan Menlu China Gelar Pertemuan dengan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Indonesia agar dapat memperkuat kerja sama kedua belah pihak di berbagai bidang seperti vaksin, e-commerce, intelegensi artifisial (kecerdasan buatan) serta pertukaran budaya dan masyarakat.

Dalam media online finanace.detik.com pada 27 Juni 2020, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi menyebutkan 3 alasan Indonesia membutuhkan China. Yaitu, 18% pergerakan ekonomi dunia dikontrol China, China memiliki pengaruh kuat terhadap pergerakan ekonomi dunia dan Indonesia menganut sistem bebas aktif.

Menyoal hubungan erat Indonesia -China di berbagai bidang ini, semakin memperbesar potensi intervensi hingga penjajahan oleh aseng. Bagaimana tidak, kemungkinan terbesar kerjasama yang dilakukan adalah kerjasama dalam bentuk investasi dan hutang luar negri. Padahal kerjasama, investasi dan hutang ini hanyalah kedok untuk intervensi dan menjerat bangsa demi kepentingan aseng termasuk juga asing yang sudah dan akan terus bercokol di Indonesia.

Peningkatan investasi dan kerjasama yang diyakini ikut andil dalam mendongkrak pembangunan ekonomi suatu bangsa hanyalah omong kosong belaka. Justru yang terjadi adalah awal dari timbulnya berbagai masalah. Termasuk hutang didalamnya. Diantaranya adalah semakin menciptakan kesenjangan ekonomi yang luar biasa. Beberapa porsen orang kaya sajalah yang akan mampu menguasai kekayaan negri dan menguasi asetnya. Apalagi dengan adanya UU Ciptaker yang semakin memuluskan investasi asing ke dalam negeri. Sementara mayoritas penduduk harus berada pada taraf miskin dan pengangguran. Adapun dari sisi aset bangsa, rakyat harus siap kaget mendengar berita aset bangsa tiba-tiba berada di tangan swasta sebagaimana aset BUMN dan aset lainnya sebelumnya. Dan yang tidak kalah memprihatinkan adalah, akibat intervensi asing maupun aseng, negara tidak lagi menjadi negara yang berdaulat.

Islam Solusi Hakiki

Islam sebagai agama yang hanya diridhoi oleh Allah SWT adalah satu-satunya solusi hakiki bagi bangsa ini. Karena sesungguhnya aturan dalam Islam mencakup seluruh aspek kehidupan yang jika diterapkan secara kaffah akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Dan seluruh aturan ini akan mampu dijalankan hanya dalam bingkai sistem khilafah. 

Merujuk kepada permasalahan di atas, setidaknya ada 3 hal yang penting dipahami bagaimana pandangan Islam dalam institusi Khilafah. Yaitu terkait hutang luar negri, investasi asing dan siapa negara yang bekerjasama dengannya.

1. Khilafah Islam akan menghentikan utang luar negeri (al-qurudh al-ajnabiyyah). Karena Utang luar negeri terbukti telah menjadi sarana (wasilah) bagi kaum kafir untuk mendominasi umat Islam. Hal ini diharamkan sesuai kaidah syariah, “Al-Wasilah ila al-haram haram (Sarana menuju yang haram hukumnya haram juga). Disamping adanya bunga yang jelas-jelas merupakan riba yang diharamkan Islam. (QS al-Baqarah [2]: 275) (Abdurrahman al-Maliki, As-Siyasah al-Iqtishadiyah al-Mutsla, hlm. 83; At-Ta’rif bi Hizb at-Tahrir, hlm. 126)

2. Khilafah Islam akan menghentikan investasi asing yang bertentangan dengan syariah. Misalnya, investasi asing pada sektor-sektor milik umum, seperti pertambangan. Ini haram karena sektor milik umum hanya boleh dikelola oleh negara saja, bukan yang lain. Contoh lain adalah investasi asing pada sektor bisnis yang haram, seperti bisnis barang haram (daging babi, darah, bangkai, patung, khamr, dll); maupun bisnis jasa haram seperti riba, judi, prostitusi, minuman keras, dan sebagainya (QS al-Maidah [5]: 90). Contoh lain adalah investasi yang mendominasi umat Islam sehingga ekonomi rakyat tidak dapat berkembang atau bahkan mengalami kerugian. Investasi seperti ini tidak dibolehkan syariah karena menimbulkan mudharat (bahaya) dan juga menyebabkan harta hanya beredar di kalangan orang kaya (pemodal asing) saja (QS al-Hasyr [59]: 7).

3. Khilafah Islam akan menghentikan segala bentuk hubungan dengan negara-negara kafir yang sedang memerangi umat Islam (daulah muharibah fi’lan), seperti Israel, Amerika Serikat dan termasuk China. Pasalnya, adanya hubungan dengan negara-negara kafir seperti itu, misalnya hubungan diplomatik, hubungan budaya dan hubungan dagang, berarti menghentikan jihad fi sabilillah (perang) kepada mereka. Padahal Islam telah mewajibkan jihad fi sabilillah untuk melawan negara-negara kafir yang nyata-nyata tengah memerangi umat Islam (QS al-Baqarah [2]: 190; QS al-Anfal [8]: 39).

Wallahu 'alam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations