Oleh: Nurhayati
Ibu Rumah Tangga di Kota Depok

‘Surga terletak di bawah kaki Ibu’. Inilah sebuah hadits mengungkapkan bagaimana mulianya seorang ibu atau seorang wanita.

Bahkan, begitu mulianya dan paling dihormatinya seorang ibu sampai diulang 3 kali. Namun, gambaran ini hanya bisa dilihat dan dirasakan dalam kehidupan Islam, karena hanya dengan Islam manusia siapa pun itu termasuk wanita/ibu atau bahkan makhluk hidup manapun akan ditempatkan sesuai fitrahnya.

Realitasnya, kita bisa lihat bagaimana saat ini wanita bagaikan sebuah benda/komoditas diperjualbelikan sudah biasa, dijadikan objek pelecehan sudah bukan rahasia lagi. Bahkan, setiap menit, setiap detik kita menyaksikan bagaimana nyawa seorang wanita melayang dengan mudah. Kita pun melihat setiap pagi rutinitas para wanita bergelantungan dalam sebuah KRL atau bus Trans yang sesak bahkan untuk menapakkan kaki saja sulit saking berhimpit bagai ikan dendeng. 

Lalu, bagaimana kita lihat emak-emak menggendong bakul atau karung menggotong-gotongnya demi mencari sesuap nasi. Bagaimana saat ini pabrik dan buruh pekerja sangat didominasi oleh para wanita atau kaumibu dengan alasan membantu perekonomian keluarga. Lantas ke mana kaum bapak atau kaum pria?

Mereka para bapak bukan tidak mau bekerja atau ikhlas melepas istri-istri mereka bekerja, namun sistem saat inilah yang mengatur dan mengakibatkan hal ini terjadi. Bagaimana tidak dalam sistem demokrasi kapitalis sekuler ini para wanita diberdayakan dalam rangka emansipasi wanita, namun emansipasi kebablasan yang telah menyalahi kodratnya sebagai ummu warobbatul bait atau sebagai madrosatul ulla dan utama. Ya, demokrasi sekuler kapitalis liberal ini mengubah 180 derajat fungsi dan kewajiban dari seorang wanita atau ibu.

Janji kehidupan layak dan sesuai fitrah bagi seorang wanita dalam sistem ini hanya sebuah ilusi atau mimpi/autopis, kalau pun ada yang bisa hidup layak dalam hal materi namun itu hanya semu belaka. Bagaimana tidak, semua itu harus dibayar dengan mengorbankan keluarga, bahkan harga diri sekalipun. Karena dalam sistem demokrasi saat ini tidak ada kata makan sianggratis, semua itu harus dibayar bahkan teramat mahal harganya.

Lalu bagaimana bisa keluar dari kungkungan demokrasi kapitalis sekuler yang semakin menjerat wanita atau ibu saat ini? Tidak lain dan tidak bukan kita harus kembali kepada Sang Pemilik Hukum, Sang Pemilik Hidup kita yakni bersegera kembali kepada Allah SWT dengan Islam sebagai satu-satunya dien yang diridhai Allah SWT.

Hanya dengan Islamlah semua problematika umat, salah satunya masalah seorang ibu akan terjawab dan teratasi. Dalam Islam, semua individu akan dikembalikan kepada fitrah dan fungsi serta tanggung jawabnya masing-masing. Dan hanya dalam sistem Islamlah akan muncul kepemimpinan selayaknya pada saat Rasululah,  parasahabat, para khalifah memimpin dunia ini dengan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang mengurusi urusan umatnya tanpa terkecuali baik Muslim atau non-Muslim sekalipun, tidak percaya? Mari kita buktikan dengan kita tegakkan hukum dan kepemimpinan di bawah Islam yang berlandaskan pada Al-Qur'an dan  Al-Hadits.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations