Oleh : Endang Seruni
Ibu Peduli Generasi

Undang-undang Cipta Kerja (Omnibus Law) yang disahkan oleh DPR pada sidang paripurna tanggal 5 Oktober 2020 menuai kritik dari kalangan buruh dan mahasiswa.

Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menyatakan akan menggelar demo menolak Omnibus Law Cipta Kerjadi Istana Merdeka. Dan diperkirakan ada 5000 mahasiswa yang akan turun ke istana menyampaikan aspirasinya.

Namun menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, UU 'Sapu Jagad' ini dibuat untuk menciptakan lapangan  pekerjaan yang manfaatnya bagi para mahasiswa ketika mereka lulus (detik finance, 8/10/2020).

Sementara Kemendikbud justru mengeluarkan surat edaran pelarangan bagi mahasiswa untuk tidak ikut aksi demo buruh mengkritik Omnibus Law. Nadiem juga menghimbau kepada para dosen untuk tidak memprovokasi mahasiswanya. Meminta kepada para pimpinan Perguruan Tinggi untuk melanjutkan pembelajaran daring dan memastikan kehadiran para mahasiswanya (Pikiran Rakyat Tasikmalaya,11/10/2020).

Kondisi ini berbeda dengan pernyataan Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriawan Salim, yang mengatakan seharusnya Nadiem memberikan apresiasi kepada para mahasiswa.

Karena aksi turun ke jalan yang dilakukan mahasiswa adalah ekspresi mahasiswa terhadap langkah-langkah DPR da pemerintah yang mengabaikan aspirasi mereka bersama dengan rakyat aksi demo merupakan bagian dari laboratorium sosial mahasiswa sebagai agen perubahan (Pikiran Rakyat Tasikmalaya,11/10/2020).

Menko bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru menilai ada dalang dibalik aksi mahasiswa bersama dengan buruh. Ada yang menggerakkan dan mensponsori aksi demo tersebut (Detik finance,8/10/2020).

Mahasiswa adalah intelektual muda yang menunaikan tugasnya untuk menyambungkan rakyat dengan penguasa. Mahasiswa pula yang selanjutnya menjadi bibit agen perubahan disegala bidang dan menjadi social control yang terus menjunjung tinggi keterbukaan dan transparansi pemerintah dalam melaksanakan pemerintahannya. 

Agar lebih mensejahterakan rakyatnya untuk meminimalisir tingkat penyelewengan yang dilakukan aparatur negara. 

Kritis terhadap kebijakan yang dibuat oleh penguasa yang semula ingin mensejahterakan rakyatnya atau semakin menyengsarakan rakyat.

Aksi mahasiswa turun ke jalan menolak UU Cipta Kerja merupakan bukti bahwa mahasiswa adalah sosial control di masyarakat. Sekalipun diancam nilai akademisnya juga hilangnya kesempatan kerja jika mereka lulus nanti. 

Hal ini membuktikan bahwa sistem kapitalis mengerdilkan gerakan perubahan yang disuarakan oleh mahasiswa untuk perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. 

Sistem ini juga memandulkan potensi mahasiswa yang hanya memikirkan kepentingan dan kemaslahatan pribadinya. Hingga tertanam di benak mereka sifat individualis, dimana standar dirinya adalah manfaat. Segala sesuatu yang dilakukan yang terpenting adalah untuk mendapatkan manfaat dirinya sendiri dan tidak merugikan orang lain.

Di dalam Islam pemuda dipandang sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam sebuah bangsa. Mereka adalah sosok pengganti yang nantinya akan menggantikan para pendahulunya.

Islam memberikan perhatian yang besar kepada para pemuda. 

Sejak dini para pemuda Islam dididik  Aqliyah Islamiyyah (pola pikir Islam) sehingga  cara berfikir mereka dituntun oleh akidah Islam. Selain itu para pemuda juga dididik Syahsiyah Islamiyah (berkepribadian Islam).

Sikap dan perilaku, juga dalam menyelesaikan persoalan kehidupan sesuai dengan hukum syara. 

Seorang pemuda yang berkepribadian Islam melakukan muhasabah atau mengoreksi penguasa semata-mata atas dorongan keimanan. Tidak hanya mengkritik dalam rangka memerangi kedzaliman namun sebagai bentuk beramal ma'ruf nahi munkar, sesuai aturan Islam.

Dalam sejarah Islam banyak pemuda Islam yang tangguh yang menjadi tonggak peradaban. Sebut saja Muhammad Al Fatih, seorang pemuda pada usia 21 tahun mampu menaklukkan Konstantinopel. Juga ada Mus'ab bin Umair pemuda tampan yang menjadi delegasi dakwah Rasulullah di Madinah, yang mampu mengajak masyarakat Madinah berbondong-bondong memeluk Islam. Imam Syafi'i pada usia 7 tahun sudah hafal Al-Quran, juga berfatwa diusia 15 tahun. Salman Al Farisi penggagas ide menggali parit pada perang Khandaq. 

Mereka itulah beberapa pemuda Islam dari sekian banyak pemuda Islam yang tangguh dan mengukir peradaban dengan prestasi yang gemilang. Tentu saja  kondisi mereka yang demikian tidak serta Merta ada dengan sendirinya. Akan tetapi ada peran orang tua yang memahamkan Islam sejak dini, juga peran negara yang menjamin pendidikan para generasi muda, Yang tak lain adalah dengan sistem Islam.

Untuk itu sebagai pemuda (mahasiswa) dituntut untuk mengontrol  kondisi negara secara nyata menuju arah yang lebih baik. Bersikap berani untuk mendobrak jaman kearah kemajuan dan kritis terhadap kebijakan para penguasa. 

Berani menyampaikan kebenaran dan meneruskan keadilan tanpa menutupi kebohongan. Sehingga harapan rakyat dapat terealisasi. 

Wahai para pemuda sadarilah potensi yang ada didalam dirimu, sebagi tonggak peradaban dan  ditanganmu  peradaban ini terukir. 

Waalahu'alam bi shawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations