Oleh : Lilik Yani

Pandemi Covid-19 tak kunjung berhenti. Berbagai kebijakan dibuat pemerintah tak sanggup mengatasi. Korban berjatuhan tanpa henti, bahkan semakin banyak tak tertanggulangi. Mengapa tak kunjung sadar dan mengadakan evaluasi?

Masih saja sibuk mengandalkan kekuatan diri. Menganggapvirus kecil, harus bisa dibasmi. Hingga muncul kebijakan baru dengan pemberianvaksin agar penyebaran virus berhenti. Semudah itukah cara kerja vaksin dalammenghentikan berkembangnya virus? Apalagi jumlah penduduk negeri ini sangatbesar, sanggupkah memberikan vaksin pada seluruh penduduk negeri? Berapa besarbiaya yang harus dipersiapkan, dan seberapa besar peluang kebehasilan yangdicapai dari pemberian vaksin?

Dilansir KOMPAS.com - Ahli Epidemiologi dariUniversitas Airlangga Windhu Purnomo meminta pemerintah agar tak hanyamengandalkan kehadiran vaksin dalam mengatasi pandemi Covid-19. Dia menegaskanstrategi utama dalam penanganan pandemi yaitu memperkuat pelacakan dan pengetesanuntuk mendeteksi kasus Covid-19 sebanyak-banyaknya.

"Vaksinasi hanya salah satu strategi dalam percepatanpenanganan pandemi. Kita jangan mengandalkan vaksin saja," kata Windhudalam konferensi pers rilis survei 'Kepercayaan Publik Nasional pada Vaksin danVaksinasi Covid-19' oleh SMRC, Selasa (22/12/2020).

Dilandir CNBC Indonesia - Dalam 8th US-IndonesiaInvestment Forum, yang berlangsung hari ini (11/12/2020), Wakil Menteri (Wamen)Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Budi Gunawan Sadikin atau yang akrabdisapa BGS menyatakan bahwa vaksin bukanlah solusi untuk mengakhiri pandemiCovid-19 yang sudah hampir setahun ini melanda dunia. Dalam kesempatan itu BGSmengutarakan bahwa vaksin tidak cukup dalam menyudahi pandemi ini namun jugagaya hidup masyarakat yang perlu diubah agar memastikan pandemi tidak akanterjadi lagi.

"Untuk menyudahi hal ini, lagi-lagi saya tekankan bahwabukan hanya vaksin. Kita harus meningkatkan cara hidup kita dan cara kitamendiagnosa penyakit dengan tracking, tracing, treatment (3T) dan juga#cucitangan," Kata BGS.

Vaksin Itu Preventif bukan Kuratif

Vaksin yang ditunggu-tunggu kehadirannya itu berfungsisebagai preventif atau pencegahan agar penyebaran virus tidak semakin jauh.Jadi vaksin itu bukan obat yang bisa menyembuhkan setiap orang yang terpaparvirus corona.

Apalagi virus itu harganya mahal, dan tidak cukup satu kali.Jarak antara pemberian vaksin pertama dan kedua, jika orang tersebut terpaparvirus corona maka bisa saja gagal terbentuk kekebalan.

Selain ini menurut informasi, hasil kekebalan yangdidapatkan dari vaksin yang mahal itu tidak beda jauh dengan kekebalan pasienyang sembuh dari paparan corona. Dengan demikian mengapa sibuk dengankeberhasilan yang belum pasti?

Mengapa tidak melakukan pengetesan massal dulu, kemudiandipisah antara yang sehat dan sakit? Agar tidak semakin parah penyebarannya?Kemudian yang sakit  dikarantina dandiberikan terapi optimal agar segera sembuh dan tidak menularkan pada keluargaatau teman lain.

Negara yang seharusnya memenuhi kebutuhan umat saat dalammasa karantina. Bukan dilepas bebas,campur baur di lapangan yang mengakibatkankorban berjatuhan. Negera pengikut kapitalis liberal mengutamakan keuntunganmateri, justru menaikkan biaya kesehatan. Bukannya peduli pada kesehatan rakyatnamun justru mendzolimi rakyat.

Kebijakan new normal diturunkan demi menyelamatkanperekonomian. Negara lebih memikirkan ekonomi daripada nyawa rakyat. Jadilahkorban berguguran semakin banyak karena kondisi bahaya dianggap normal. Rakyatbertebaran di jalan-jalan, di tempat umum, bahkan negara sendiri yang melanggaraturan. Pemilu pilkada tetap dijalankan meski dalam masa pandemi

Bagaimana Islam mengatasi pandemi?

Pemimpin Islam sangat takut memegang amanah, karena akandimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt. Oleh karena itu, siapa saja yangdipilih untuk menjadi pemimpin, maka akan menunaikan dengan maksimal.

Apalagi dalam menangani pandemi, dimana melibatkan nyawamanusia. Pemimpin Islam akan bertindak cepat dalam menangani pandemi. Yangdilakukan pertama adalah memisahkan umat yang terkena wabah dan yang sehat.

Kemudian dilakukan isolasi bagi wilayah yang terkena wabahpandemi. Bagi umat yang sehat akan dikumpulkan di wilayah yang bebas wabah.Mereka bisa beraktivitas seperti biasanya. Bahkan lebih semangat lagi bekerjakarena harus menolong saudaranya yang berada di wilayah karantina.

Bagi umat yang mengalami sakit terkena wabah, akanmendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Pengobatan yang baik, fasilitaslengkap, tenaga kesehatan yang ahli, dan segala keperluan apapun dipenuhi olehnegara.

Wilayah yang mengalami isolasi akan mendapat pemenuhankebutuhan pokok seluruhnya dari negara. Tidak boleh keluar karena akandikhawatirkan menambah sebaran wabah. 

Kemudian para ahli akan didorong untuk menemukan obat yangbisa menjadi wasilah kesembuhan para pasien. Selain itu juga vaksin yangberguna untuk pencegahan agar tidak terjadi peningkatan jumlah korban.

Vaksin bukan untuk pengobatan, namun sebagai tindakanpreventif atau pencegahan. Keduanya harus dilakukan dalam pengawasan negara.Selain itu protokol kesehatan tetap harus dijalankan. Kalau tidak, percuma sajadiadakan pengobatan dan vaksin, karena akan terjadi penularan yang sulitdikendalikan.

Dalam hal ini negara harus tegas memberikan sanksi kalauperlu. Agar umat disiplin dan patuh menjalankan aturan. Perlu kerjasama semuapihak untuk mengatasi wabah agar tidak semakin parah.

Setelah itu semua dilakukan sebagai wasilah secara tehnis,maka kita juga perlu mendekatkan diri kepada Allah. Allah yang menciptakanwabah pasti ada maksud. Wabah corona ini sebagai wasilah agar kita kembali taatkepada Allah.

Seperti khalifah Umar bin Khattab yang mengajak Umatmuhasabah dengan banyak membaca istighfar, taubat, meningkatkan amal salih. Ituyang diperlukan saat ini, menyandarkan kepada Allah yang Maha Kuasa. Selaintetap berupaya di wilayah kekuasaan kita. Vaksin bukan satu-satunya solusiatasi pandemi. Ada banyak hal lain yang diperhatikan, dimana perlu pemimpinyang mengawasi demi keberhasilan menanggulangi pandemi.

Wallau a'lam bish shawwab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations