Oleh: Wini Oktavia Fitri
Korwil Inspirasi Malam NTB

Keputusan yang paling berdampak pada keuangan ialah keputusan berhutang. Hutang pemerintah layaknya harta warisan yang harus diwarisi dari generasi ke generasi berikutnya.

Rezim senantiasa berganti, hutang pun semakin bertambah seiring bergantinya kepemimpinan. Rakyat mengharapkan janji-janji kampanye dipenuhi. Namun, layaknya sebuah janji ada dan dipenuhi tidak terlepas dari adanya utang dalam pemenuhannya.

Secara nominal utang pemerintahmengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. “Hal ini disebabkan kondisi ekonomi Indonesia yang masih berada dalam fase pemulihan akibat penurunan ekonomi yang terjadi di masa pandemi Covid-19,” tulis Kemenkeu dalam laporan APBN Kita edisi April 2021 yang dikutip, Selasa, 27 April 2021.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyatakan pemerintah telah memfokuskan APBN 2021 untuk membangun infrastruktur. Salah satu tujuannya ialah meningkatkan konektivitas jaringan Internet guna mendukung percepatan pertumbuhan ekosistem digital.

“Infrastruktur itu dibangun pakai uang negara, pakai uang pajak, uang utang, semua dipakai untuk menyiapkan supaya mereka (Baca: masyarakat) connect dengan internet di sekolah, desa, puskesmas, semuanya,” ujar Sri Mulyani dalam acara diskusi Tempo bertajuk ‘Perempuan Penggerak Ekonomi di Masa Pnademi’, Jumat, 23 April 2021.

Pemerintah gencar menarik utang sejak awal tahun 2021. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, realisasi penarikan utang mencapai Rp 32,5 triliun. Realisasi tersebut sudah mencapai 27,9 persen dari target pembiayaan senilai Rp 1.177,4 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “ ini menggambarkan bahwa kita masih relatif frontloading, issuance kita terutama masih cukup heavy di kuartal I-2021, karena untuk target semester I sudah 63,9 persen,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (22/4/2021).  

Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment Institute of Development for Economics and Finance (Indef) Dzulfian Syafrian memperkirakan utang Indonesia sekarang akan berdampak pada generasi mendatang, khususnya generasi milenial. Menurut Dzulfian, utang jangka panjang Indonesia, baik publik maupun swasta, berpotensi besar mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya.

Berdasarkan data CEIC yang dikelolanya, utang publik dan swasta sama-sama meningkat sejakera kepresidenan Jokowi. Swasta bahkan lebih gemar berutang dengan tenor jangka panjang, sedangkan utang jangka pendek relatif stabil. Selain itu, swasta cenderung memilih domestik. Menurut Dzulfian hal tersebut disebabkan kebijakan pemerintah yang lebih populis.

Meningkatnya utang pemerintah dari sisi ekonomi tentunya berdampak negatif bagi masyarakat. Terlebih lagi mereka harus membayar pajak dalam jumlah yang besar. Ditambah lagi penghasilan di era pandemi seperti ini berkurang dan memungkinkan rakyat harus menuruti kebijakan pemerintah yang tanpa melihat keadaan rakyat yang sesungguhnya. Berbagai jasa dan layanan ikut ditarif pajaknya demi melunasi utang pemerintah yang digunakan untuk membangun infrastrusktur.

Bukan tidak mungkin negara memiliki hutang yang besar karena keuangan dan sumber pendapatan negara tidak dikelola dengan sebaik mungkin. Sumber daya alam dikelola oleh pihak asing, masyarakat pribumi hanya mendapatkan secuil dari hasil alam dinegerinya sendiri. Ini terjadi karena sistem yang diemban negara saat ini ialah sistem Kapitalisme yang mengedepankan pihak kapitalis sebagai pengelola aset negara. Mereka membebaskan asing untuk mengelola kekayaan alam. Ini terjadi karena pemberian utang disertai balas jasa, memungkinkan pihak asing dengan leluasa menguasai kekayaan negeri ini. Miris

Bahaya Pembangunan Berbasis Utang

Dampak dari peningkatan utang ini jelas akan menambah beban yang tidak semestinya pada generasi mendatang. Secara logis pemerintah dengan kebijakan fiskalnya akan melakukan penekanan pengeluaran dan penambahan pemasukan dengan menaikkan tarif pajak. Penekanan pengeluaran biasanya lebih memilih untuk mereduksi subsidi untuk rakyat. Lengkaplah penderitaan rakyat yang negaranya mengalami defisit anggaran yakni pajak. Yang tinggi dan minimnya jaminan penghidupan dari pemerintah karena subsidi akan ditekan sekecil mungkin agar tidak membebani anggaran negara.

Tingkat utang pemerintah yang tinggi yang didanai oleh utang luar negeri bisa menurunkan pengaruh politis negara dalam peraturan global. Dari gambaran ekonomi secara makro tersebut, kita bisa mengetahui bagaimana asing bisa mendikte sebuah negara yang mempunyai beban utang sangat tinggi melalui syarat-syarat yang mereka ajukan dalam memberikan utang.

Dalam Islam hutang tidak menjadipilihan untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi negara. Karena baiknya pengelolaan pemasukan negara yang berasal dari kepemilikan negara (milikiyyah ad-daulah) seperti ‘usyur, fa’i, ghanimah, kharaj, jizyah dan lain sebagainya. Selain itu dapat pula diperoleh dari pemasukan pemilikan umum (milkiyyah ‘ammah) seperti pengelolaan hasil pertambangan, minyak bumi, gas alam, potensi hutan, dan lainnya. Dapat dipastikan ledakan utang tidak akan mungkinterjadi dalam kepemimpinan Islam. Karena negara bertanggung jawab atas optimalisasi dari harta kepemilikan umum dan negara tanpa adanya liberalisasi dalam lima aspek ekonomi, yaitu liberalisasi barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terampil. Dan juga diperoleh dari zakat mal (ternak, pertanian, perdagangan, emas dan perak). Harta baitulmal juga selalu mengalir karena tidak terjerat utang ribawi. Dengan demikian, kemandirian dan kedaulatan negara dapat terjaga dan potensi penutupan kebutuhan anggaran dari utang luar negeri dapat terhindari.

Tidak ada dosa yang lebih sadis diperingatkan Allah SWT dalam Al-Qur’an, kecuali dosa memakan harta riba. Bahkan Allah SWT mengumumkan perang kepada pelakunya. Hal ini tentu menunjukkan bahwa dosa riba sangat besar dan berat. “Rasulullah, Shallallaahu‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba yang memberi, yang mencatat, dan dua saksinya. Beliau bersabda, mereka semua sama.” (HR Muslim)

Jika negeri ini menginginkan ketenangan dan dipenuhi keberkahan dalam hidupnya. Hendaknya mengganti sistem kapitalisme dengan sistem Islam. Insya Allah, bebas dari segala jerat utang yang mengandung unsur ribawi dan laknat Allah SWT.

Wallaahua’lam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations