Oleh : Hifza Al Jannat

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis zonasi di DKI Jakarta menuai banyak protes, pasalnya sistem zonasi yang diterapkan tidak berlandaskan jarak domisili ke sekolah yang dituju, melainkan menggunakan kriteria usia.

Akibatnya anak dari Hotmar Siragar salah satu peserta didik baru gagal masuk ke SMA karena usianya yang baru 14 tahun (kompas.tv).

Menurut komnas anak, banyak laporan dan protes dari orangtua siswa terkait mekanisme pembatasan usia pada sistem PPDB, sehingga pihak komnas anak menuntut Mentri Pendidikan dan Kebudayaan untuk membatalkan proses PPDB DKI Jakarta dan mengulangnya.

Penerapan kebijakan batas usia yang diterapkan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dirasa bertentangan dengan Permendikbud nomor 44 tahun 2019.  Berbeda dengan penerapan Permendikbud nomor 44 tahun 2019 yang dilakukan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Batam, Riau, dan tempat yang lain. Tidak ada permasalahan yang terjadi karena menerapkan pasal 25 ayat 1 yang mengedepankan zonasi, jarak, dan disusul usia untuk kuota berikutnya. 

Sekolah Tunggu Cukup Usia

Jauh dari harapan, tujuan awal pemberlakuan sistem zonasi adalah untuk mengatasi persoalan ketimpangan kualitas pendidikan, dan tak ada lagi kastanisasi pendidikan. Memang sistem zonasi ini dirasa cukup baik, namun adanya sistem zonasi ini juga menimbulkan banyak kompromi dan permasalahan. 

Apalagi adanya sistem zonasi berbasis usia yang diterapkan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta.  Hal ini menimbulkan banyak siswa yang tidak bisa masuk sekolah sebagai peserta didik baru karena usia yang belum memadai. Sedangkan jika mendaftarke sekolah lain belum tentu sekolah tersebut menerimanya karena sedikitnya kuota yang tersedia. Kurangnya kemampuan dalam menyediakan fasilitas pendidikan merupakan faktor penyebab utama pemberlakuan kuota. 

Sungguh miris, inilah fakta yang sebenarnya, potret kegagalan negara dalam menjamin layanan pendidikan saat ini.  Pelajar tak bisa menerima pendidikan dengan baik, dan selalu ada syarat dan ketentuan yang berlaku.  Seolah olah adanya sistem zonasi berbasis usia membuat para murid “dipaksa“ menunggu tahun ajaran selanjutnya hingga usia cukup untuk melanjutkan pendidikannya.

Solusi Mustarnir

Akar masalah dari persoalan ini disebabkan karena keslahan paradigma dan sistem pendidikan yang diterapkan saat ini terutama sistem kapitalis sekuler ini. Pendidikan yang melahirkan sistem zonasi menghantarkan pada kisruh setiap tahunnya dan menelantarkan hak anak umat. Oleh karena itu harus ada upaya negara untuk menerapkan pendidikan yang berkualitas dengan beberapa cara, yaitu

Pertama, penerapan sistem pembelajaran berkualitas. Pembelajaran berkualitas adalah pembelajaran yang dapat menghasilkan generasi berakhlak mulia, dan bukan berlandaskan tingginya angka yang didapat. Tujuan utama pembelajaran di sekolah adalah pembentukan syakhsiyah, penguasaan tsaqofah, dan penguasaan ilmu kehidupan. Berbeda dengan pendidikan saat ini yang hanya bertujuan melahirkan generasi dapat kerja.

Kedua, penyediaan fasilitas sekolah. Fasilitas sekolah memang sangat penting dalam keberlangsungan pendidikan. Apabila fasilitas yang tersedia tidak memadai, maka akan menyebabkan tidak tercapainya tujuan pendidikan. Salah satunya adalah pemberlakuan kuota yang dapat mengurangi peluang untuk masuk sekolah. Oleh karena itu negara yang bertanggung jawab penuh harus memberikan fasilitas terbaik untuk pendidikan.

Ketiga, pengajar profesional. Guru harus memberikan contoh yang baik bagi para muridnya.  Guru dituntut profesional, bukan hanya bergelar sarjana melainkan juga berkepribadian baik.  Dari situ, diharapkan guru dapat mencetak generasi intelektual berkepribadian agung.

Namun, upaya tersebut hanya bisa dilakukan jika sistem yang berlaku saat ini diganti dengan sistem islam.Tanpa adanya sistem islam persoalan pendidikan akan terus terjadi. Karena persoalan pendidikan bukan hanya sekedar masalah teknis, melainkan persoalan sistematis.  Dengan itu islam mampu mengatasi masalah pendidikan saat ini.

Islam memang selalu unggul, terbukti selama kurang lebih 14 abad, islam mampu mencetak generasi pejuang, melahirkan ilmuan ilmuan cerdas yang berakhlak mulia. Jadi sistem zonasi berbasis usia bukanlah solusi pendidikan masa kini.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations