Oleh: Tyas Ummu Amira

Umat masih dalam kubangan mala petaka. Mulai dari krisis kesehatan, politik hingga ekonomi. Dampak yang ditimbulkan juga meluas menjadi ketahanan negara serta kepercayaan publik pun luntur.

Terlihat disahkan UU ciptaker yang berubah-ubah jumlah halaman drafnya.

Dikutip dari news detik.com ( 2/11/2020). Jakarta Omnibus UU Cipta Kerja kini sudah resmi diundangkan. Jumlah halaman final menjadi 1.187 lembar.

Dokumen UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja diunggah di situs resmi Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Sekretariat Negara (JDIH Setneg), 

Sebelumnya, jumlah halaman UU Cipta Kerja sempat berubah-ubah meski sudah disahkan via rapat paripurna DPR pada 5 Oktober 2020.

Awalnya, berkas digital (soft file) yang terunggah di situs resmi DPR adalah draf RUU Cipta Kerja 1.028 halaman.

Dengan melihat fakta di atas  terlihat bahwa disahkannya UU ciptaker ini ditunggangi oleh berbagai kepentingan, bukan kebutuhan mendesak untuk kemshalatan rakyat. Alih - alih memberikan angin segar untuk  mengatasi pandemi, justru membuat gemuruh dada rakyat bergejolak. Betapa tidak,  jika kita cermati bersama isi UU ciptaker ini sama sekali tak berpihak pada nasib buruh dan masyrakat luas.

Berbagai kontroversi pada setiap pasalnya membuat geleng - geleng kepala serta diluar nalar. Sebut saja salah satunya Salah satu yang jadi sorotan dikutip dari tribunews.com yakni penghapusan skema upah minimum UMK  diganti dengan UMP yang  bisa membuat upah pekerja lebih rendah.

Lalu, buruh juga mempersoalkan Pasal 79 yang menyatakan istirahat hanya 1 hari per minggu.Ini artinya, kewajiban pengusaha memberikan waktu istirahat kepada pekerja atau buruh makin berkurang dalam Omnibus Law RUU Cipta Kerja.

Meskipun akhirnya direvisi tapi, pada kenyataan semua bisa berubah ubah sesuai kepentingan penguasa. Sehingga UU ciptaker ini tak memberikan solusi hakiki untuk rakyat, namun justru menambah beban hidup.

Beginilah wajah asli tatanan kehidupan dalam sistem demokrasi kapitalis, suara terbanyak menjadi hasil final dari segala aturan. Tak pandang apakah suara itu bersumber pada kebenaran atau kebathilan. Tak kenal halal atau haram, sebab landasan pokoknya adalah memisahkan agama dari kehidupan. Tolok   ukurnya hanyalah kepentingan materi semata, tanpa melihat norma agama. Alhasil aturan ataupun undang- undang yang dibuat berdasarkan jalan kompromi  serta pemilik modal menjadi kunci utama.

Bisa kita rasakan hidup dalam cengkraman kapitalis ini mengudang berbagai bala bencana yang tak henti - hentinya datang di muka bumi ini. Krisis moral, kesehatan, ekonomi dan akhlak pun tak bisa dihindarkan. Sebab asas yang dijadikan patokan adalah kebebasan, sehingha tak heran jika tatanan kehidupan semakin amburadul dan jauh dari nilai- nilai agama.

Berbeda dengan sistem Islam memiliki  solusi yang sempurna dan paripurna. Jika kita lihat dalam sejarah Islam selalu memberikan trobosan jalan keluar dari masalah umat dengan sejuta mashalat.

Dalam menangani pandemi saja pada masa khalifah umar ra telah menuntaskan wabah dalam waktu singkat. 

Rakyat membutuhkan solusi konkrit untuk mencapai revolusi hakiki yakni, dengan mengubah pola fikir dan pola sikap dari jahiliyah menjadi Islami. Semua itu tidak mudah seperti membalikan telapak tangan, sebab butuh perjuangan dan usaha yang gigih untuk mewujudkan perubahan tersebut.

Dengan jalan dakwahlah cara satu - satunya yang bisa mengubah pemikiran - pemikiran bathil dan kufur menjadi cermerlang oleh cahaya Islam. Kewajiban dakwah ini pun menjadi hal wajib bagi setiap umat muslim agar kebenaran Islam mampu mengubah keadaan dalam kubangan sistem rusak untuk kembali menerapkan sistem buatan Illahi.

Metode dakwah yang telah dicontohkan oleh baginda Rasullah SAW, yakni dengan dakwah fikriyah dan jamaiyyah inilah, umat dipahamkan dengan akidah yang lurus, disertai pemahaman tentang konstruksi hukum-hukum Islam sebagai solusi kehidupan. Sehingga akan tergambar pada diri umat bahwa tak ada yang bisa membawa mereka pada kesejahteraan hakiki dan keberkahan hidup selain dengan menerapkan hukum-hukum Islam.

Dengan ini maka, umat akan tersadarkan oleh perubahan pemikiran dari sistem demokrasi kapitalis menuju perubahan hakiki dalam naungan sistem khilafah islamiyah. Dimana pancaran cahayanya seperti rahmat bagi seluruh alam.

Waallahua'lambishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations