Oleh: Susi Mariam Mulyasari, S.Pd.I.
Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah

Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya terwujud juga. Kembalinya imam besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab yang biasa dipanggil HRS dari tanah suci menjadi momen yang paling dinanti oleh umat.

Umat rindu akan kehadiran HRS sebagai ulama besar yang menjadi korban kedzaliman dan ketidakadilan dari rezim yang berkuasa sekarang. Sebelum pulang ke Indonesia sekelumit masalah menyertainya, pro dan kontra silih berganti menghiasi berbagai macam forum diskusi, membahas tentang rencana kepulangan HRS.

Tentu bagi umat kembalinya HRS bukan hanya dipengaruhi oleh rasa rindu terhadap ulama yang berani menyuarakan kedzaliman, namun kedatangan HRS adalah sebuah simbol ketidakadilan yang selama ini rezim lakukan.

Penyambutan ribuan orang terhadap HRS di bandara menuai pro dan kontra, terlebih pada masa pandemi ini, bahkan tindakan TNI yang sampai turun langsung kelapangan untuk mencopot baliho, spanduk penyambutan HRS menjadi point tersendiri yang tidak luput dari pengamatan masyarakat, sehingga masyarakat mulai bertanya sebenarnya apa yang dilakukan oleh HRS sehingga respon negara sedemikian refresifnya terhadap HRS.

Bahkan ajakan dialog atau rekonsiliasi yang ditawarkan oleh HRS kepada penguasa ditolak mentah-mentah, padahal rekonsiliasi yang diberi nama revolusi akhlak ini adalah bentuk dialog yang dilakukan oleh umat dengan pemerintah untuk meniadakan ketidakadilan, terutama kriminalitas ajaran Islam dan ulamanya.

Tentu jikalau kita dalami dari kasus kedatangan HRS sampai umat berjibaku untuk bisa hadir, bahwa umat membutuhkan sosok seorang pemimpin adil dan berani menyuarakan kebenaran atas kedzaliman yang terjadi.

Demokrasi yang selama ini diterapkan di Indonesia pada khususnya dan seluruh dunia pada umumnya adalah bentuk ketidakadilan sekaligus biangnya kedzaliman. Pada era demokrasi akan sulit menemukan seorang pemimpin yang adil, karena semua kebijakan yang dikeluarkan bertujuan untuk memenuhi kepentingan mereka. Oleh karena itu, revolusi akhlak yang diajukan oleh HRS akan terwujud apabila keadilan itu terjadi. Ketidakadilan yang akhirnya mendorong umat keluar dari sistem demokrasi dan menuju sistem kepemimpinan Islam di bawah bingkai Khilafah Islamiyyah. 

Karenanya fokus perjuangan umat harus diarahkan kepada aktivitas yang akan mewujudkan keadilan secara kolektif dan komprehensif di segala aspek kehidupan, yaitu perjuangan mewujudkan sistem kehidupan Islam. 

Wallahu’alam bishshowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations