Oleh: Eri Mulyasari, S.Pd
Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Umat

Guru merupakan sebuah gelar yang sangat mulia, yang disematkan kepada seorang penular ilmu, guru (digugu dan ditiru), lebih tepatnya ditaati dan diikuti.

Ada ungkapan guru adalah orang tua ke dua dari murid, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan sebagainya. Begitu banyak gelar yg disematkan kepada guru, ini menunjukkan kedudukan guru di mata masyarakat sangat mulia. Hal ini bisa kita lihat juga bagaimana uforianya masyarakat menyambut hari guru kemarin (25 November 2020), berbagai poster, slogan, tulisan ada baik di dunia nyata maupun dunia Maya (seperti medsos , elektronik dan lain sebagainya).

Tapi sayang, kemuliaan guru tak seindah teori. Kita melihat ada beberapa fakta terjadi di lapangan. Banyak kejadian yang memilukan dan merendahkan martabat dan harga diri guru, seperti nilai gaji honorer yang sangat minim, pembunuhan guru oleh murid, pelaporan guru oleh wali murid sampai kemeja hijau dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya.

Hal ini terjadi akibat rusaknya tatanan sistem di negeri ini. Berbanding terbalik  dengan pada masa kejayaan peradaban Islam, salah satu contohnya pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Beliau sangat memuliakan guru, sampai-sampai gaji guru setara  kurang lebih mencapai 60 juta, penghormatan wali murid terhadap guru, penghormatan penguasa terhadap guru pada masa Turkey Usmani. Semua itu terekam dengan sangat indah .

Jadi kemuliaan guru hanya bisa terjadi jika negeri ini berganti sistem, dari sistem saat ini menuju peradaban Islam.

Wallahu a'lam bishsawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations