Oleh: Dian Safitri, S.Pd.I

Baru-baru ini, kabar menghebohkan kembali mewarnai jagad hiburan tanah air, salah seorang artis Nia Ramadhani dan suaminya Ardi bakrie ditangkap di kediamannya karena penyalahgunaan narkotika.

Kapolres Jakarta Pusat Kombes Hengki haryadi menegaskan, penyidik tetap akan memproses hukum terhadap artis Nia Ramadhani dan suaminya ardi atas kasus penyalahgunaan obat tersebut. (merdeka.com/10/07/2021)

Wa ode yang menjadi kuasa hukum Nia dan ardi mengatakan kliennya siap mengikuti seluruh proses hukum yang sedang berjalan. Pihaknya menghargai proses hukum kepolisian dalam rangka pemberantasan narkoba. (kompas.com/10/07/2021)

Bak bola salju, kasus serupa yang terjadi pada artis makin marak, atas nama frustasi karena pandemi yang tak kunjung usai, banyak kalangan artis yang memilih menjadikan obat haram tersebut sebagai pilihan selama pandemi. Tak tanggung-tanggung mereka berdalih.

Maraknya kasus ini, tidak terlepas dari sistem yang diterapkan di negeri ini, sistem sekuler yang memisahkan peran Agama dalam mengatur kehidupan membuat negeri ini kacau-balau, tidak heran obat-obatan yang haram seperti narkoba bisa dikonsumsi karena bukan lagi standar halal-haram patokannya melainkan manfaat. Kita lihat berita hari ini mengabarkan banyaknya manusia yang rusak karena obat tersebut. Dan sanksi-pun sangat longgar yang tidak memberikan efek jera.

Lebih-lebih orang kaya yang terlibat di dalamnya.

Dan pertanyaannya jika kasus ini terjadi pada kalangan artis juga pengusaha kaya raya, masihkan kita berharap hukum itu dapat ditegakkan ? 

Hal ini membuat publik ragu akan ketegasan aparat karena selama ini terlalu banyak kasus yang menunjukkan hukum tumpul ke atas tajam ke bawah. Keadilan di negeri ini sangat mahal dan sulit terealisasi.

Ini berbeda jauh dalam negara yang menjadikan Islam sebagai aturan dalam memberi sanksi terhadap pihak-pihak yang melanggar aturan. 

Aturan Islam sangat konsisten dalam menegakkan hukum tidak memandang strata ataupun status sosial dan inilah kunci tegaknya keadilan dan kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya.

Kisah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dalam menegakkan keadilan patut diteladani oleh umat Islam, khususnya yang menjadi penegak hukum di negeri ini. Karena keadilan bagi Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam tidak pernah pandang bulu. Seperti dikisahkan, dikutip dari riwayat Aisyah Radhiyallahu anha, ada seorang wanita yang telah mencuri. Dia berasal dari kalangan terhormat dan disegani dari bani makhzum.

Karena perbuatannya itu, ia harus dihukum sesuai dengan aturan yang diterapkan saat itu, yaitu dipotong tangannya. Namun, kaum keluarga dari wanita tersebut merasa keberatan. Karena itu, mereka melakukan berbagai upaya untuk memaafkan wanita itu dan membatalkan hukuman potong tangan.

mereka pun menemui usamah bin zain, seorang sahabat yang dekat dan dicintai Rasulullah. Mereka memohon kepada usamah untuk menghadap Rasulullah saw dan menyampaikan maksud mereka. Setelah itu, usamah kemudian beranjak pergi menemui Rasulullah saw dan menyampaikan keinginan keluarga wanita yang melakukan pencurian itu. Setelah mendengarkan permintaan itu, Rasulullah saw pun terlihat marah dan berkata "apakah kau meminta keringanan atas hukum yang ditetapkan Allah? Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah dihadapan kaum muslim hingga sampai pada sabdanya: Sesungguhnya yang telah membinasakan umat sebelum kalian adalah jika ada orang terhormat dan mulia di antara mereka mencuri, mereka tidak menghukumnya. Sebaliknya jika ada orang miskin yang mencuri, mereka tegakkan hukuman terhadapnya. Demi Allah, bahkan seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.

Luar biasa, tidak ada yang berubah pada ketetapan Allah dan RasulNya. Wanita tersebut tetap harus menjalani hukuman potong tangan. (republika.co.id/24/11/2020)

Wallahu'alam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations