Oleh : Shita Istiyanti

Baru-baru ini trend memelihara spirit doll sedang naik daun. Berbagai kalangan mulai dari orang awam hingga selebriti memelihara sebuah boneka yang mereka perlakukan selayaknya bayi pada umumnya.

Mereka diberi makan,minum, aksesoris,, difasilitasi seperti bayi, dirawat bahkan dipanggilkan dokter spesialis anak tiap bulannya. Sebut saja artis berinisial IG yang membuat heboh media ketika dia bilang "bayi-bayi nya ini akan tumbuh sehat menjadi anak bahagia dan kelak akan menjadi pewaris tahtanya". Bahkan tak sedikit yang mengadopsi spirit doll untuk mendatangkan rejeki, kebahagiaan dll.

Terlepas dari kontroversi dalam mencari sensasi, sebagai seorang muslim harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Jangan karena sedang naik daun kita ikut-ikutan supaya dibilang up-to-date. Dalam Islam memang dibolehkan seseorang memiliki boneka. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari diceritakan bahwa Aisyah r.a bermain boneka dan pada saat itu Rasulullah saw tidak melarangnya. Beliau hanya bertanya, saat melihat boneka berbentuk kuda yang memiliki sayap, “Apakah di dunia nyata ada kuda yang bersayap?” Lantas Aisyah menjawab, ” Bukankah kuda-kuda Nabi Sulaiman pun memiliki sayap?”. Rasulullah kemudian tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.

Namun apabila boneka ini dikasih makanan, minuman dan difasilitasi dengan menganggap dia bisa tumbuh besar dan mendatangkan rejeki maka sejatinya hal tersebut adalah sebuah kedangkalan akidah bahkan kesyirikan.

Padahal Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah Swt tidak akan mengampuni dosa syirik mempersekutukan-Nya (dengan sesuatu apa jua), dan akan mengampunkan dosa yang lain dari itu bagi sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan SyariatNya). dan sesiapa yang mempersekutukan Allah SWT (dengan sesuatu yang lain), maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang besar.” (Qs. an-Nisa : 48).

Kasus ini menunjukkan betapa minimnya negara dalam menjaga akidah umat. Rakyat dibiarkan berbuat apapun atas nama kebebasan bahkan hal yang syirik sekalipun. Padahal negara memiliki peran vital dalam menjaga akidah umatnya. 

Beginilah potret tatanan hidup dalam sistem kapitalisme, dimana kebebasan dijunjung tinggi hingga menjerumuskan manusia ke dalam api neraka.

Dalam sistem Islam negara wajib menjaga akidah umatnya. Hal-hal yang menyesatkan akidah umat walau dikemss dengan sangat halus akan dikontrol oleh negara bahkan dihilangkan. Negara tidak akan membiarkan hal semacam ini menjadi viral dan menghukum pelakunya. Bahkan negara tidak akan memaklumi hal semacam ini sebagai pilihan individu.

Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah sebagai kepala negara pada saat itu langsung mengutus tentara untuk menghancurkan Dzul Khalasah, sebuah berhala yang masih disembah di negeri Yaman. Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Disyariatkannya menghilangkan segala sesuatu yang dapat menjadi sebab rusaknya agama masyarakat, baik berupa bangunan atau yang lainnya, baik berupa manusia, hewan, atau pun benda mati.” [Fathul Baari, 12/164]

Maka keberadaan khilafah sebagai institusi penerap Islam Kaffah adalah hal yang urgent untuk menjaga akidah umat Islam yang sudah bobrok ini. Serta menjaga kewarasan dan akal sehat umat Islam. 

Wallahualam bissawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations