Oleh : Yusra Ummu Izzah
pendidik generasi - komunitas ibu cinta Quran

Penyerangan terhadap ulama kembali terjadi, kali ini korbannya adalah Syekh Ali Jaber, Ustadz kharismatik yang selalu menjadi juri di ajang Hafiz Quran Indonesia.

Ahad, (13/9/ 2020) saat Syekh Ali Jaber mengisi kajian diMasjid Falahuddin, Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung, tiba-tiba terlihat eorang pemuda berlari dengan cepat ke arah Syekh kemudian menusukkan pisau.

Sontak saja, musibah yang menimpa Syekh Ali Jaber membuat dunia permedsosan dibuat heboh, netizen dibuat geram sekaligus menduga-duga, Akankah terulang lagi keterangan bahwa pelakunya mengalami gangguan jiwa seperti kasus-kasus yang sudah terjadi sebelumnya?

Lagu lama diputar kembali.

Kasus penyerangan terhadap ulama sudah sering terjadi sejak awal tahun 2018 masih lekat dalam ingatan penyerangan terhadap pemuka agama pada Kamis, (1/2/ 2018) ketua persis Ustadz Prawoto dianiaya oleh Asep Maftuh, akhirnya meninggal. Penyerangan lain juga terjadi di Ponpes Al Hidayah santiong, KH Emon Umar Basyi diserang oleh orang tidak dikenal. sementara diTuban pada Selasa,(13/2/2018) pria berinisial MZ, mengamuk dan merusak Masjid Baiturrohim Tuban. (m.merdeka.com)

Apakah penyerang Syekh Ali Jaber akan dikatakan sebagai ODGJ? ya akhirnya, apa yang diduga oleh netizen tentang pelaku yang nanti ujungnya disebut sebagai orang gila terbukti. Setelah publik menunggu, Tak lama kemudian muncul update informasi dari banyak laman berita bahwa pelaku penyerangan terhadap syekh Ali Jaber diduga mengalami gangguan jiwa. Aneh bin ajaib, tapi nyata orang gila era digital hebat! Mampu membedakan mana ulama dan bukan.

Pengalihan isu?

Tak dapat disalahkan kalau publik menduga penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber adalah setingan atau mungkin upaya pengalihan isu karena berita viral bahwa Indonesia dilockdown 59 negara dan bos Sampoerna mengirim surat penolakan PSBB kepada istana.

Karena menurut Syekh Ali Jaber yang melihat fisik pelaku yang sangat kurus, mustahil bisa melakukan penyerangan Kalau tidak ada yang menyuruh, jadi ada yang mendorongnya, butuh mental kuat untuk melakukan penyerangan.

Menurut Ustadz Hafizh Abdurrahman, melihat pelaku yang masih muda, tak tampak wajah residivis, tak juga seperti kebanyakan orang gila atau tidak waras, maka kemungkinannya hanya satu, pelaku berada di bawah "hipnotis" orang lain.

Boleh jadi karena pengaruh narkoba, atau "hipnotis", yang ditanamkan ke otaknya, siapa target, mengapa harus diserang, dan seterusnya. Karena antara pelaku dan korban tidak ada masalah pribadi. Berarti dia hanya alat orang lain yang menggunakan pelaku untuk menyerang korban. Apa tujuan aktor intelektual di balik peristiwa ini?Jawabannya adalah menciptakan teror. Khususnya kepada ulama' dan umat Islam.

Artinya, ini bagian dari skenario politik yang diproduksi untuk tujuan politik. Targetnya jelas, menebar teror di tengah umat, dengan biaya murah, karena memang targetnya opini. Tetapi, yang luar biasa adalah sikap yang ditunjukkan Syaikh Ali, ulama panutan umat, yang menjadi korban penusukan. Beliau memahami peristiwa ini bagian dari Qadha dan Qadar Allah. Allah selamatkan beliau.

Kedua, beliau tetap melanjutkan safari dakwah meski dengan luka, untuk menunjukkan bahwa sebagai ulama apapun kondisinya amanah dakwah harus ditunaikan. Sekaligus mengirim pesan, teror mereka tidak mampu meruntuhkan iman. Semoga Allah mengembalikan makar jahat ini kepada pembuatnya. Semoga Allah menjaga ulama dan umat Nabi-Nya yang terus-menerus dinista, dan segera memberikan pertolongan dengan kekuasaan yang bisa menolong.

Semoga Allah bukakan tabir sebenarnya, dan penegak hukum diberikan keberanian untuk mengusut tuntas kasus ini jangan sampai kasusnya langsung menghilang seperti biasanya setelah pelaku disebut ODGJ, agar publik tidak lagi menduga-duga adanya andil pemerintah di dalamnya.

Wallahu 'alam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations