Oleh: Mariyani Dwi
Anggota Komunitas Setajam Pena

Tempe dan tahu yang merupakan salah satu makanan favorit rakyat Indonesia, kini menjadi bahan makanan yang langka bahkan nyaris hilang dari peredaran.

Pasalnya, terhitung sejak sebelum tahun baru masyarakat mulai kesulitan mencari bahan makanan tersebut.

Dikutip republika.co (2/1/2021), sejak dua hari lalu, tahu dan tempe mulai hilang dari peredaran. Tahu dan tempe sangat sulit ditemukan dipasar tradisional dan penjual keliling. Bahkan, di beberapa pasar tradisional di kota Tangerang, Banten, tahu  dan tempe sudah tidak lagi dijual.

Makanan yang terbilang murah dan sederhana, namun memiliki kandungam gizi yang tak sesederhana bentuknya, alias bergizi sangat tinggi. yaitu, mengandung protein yang tinggi, vitamin dan mineral. Selain itu, kandungan gizi yang terdapat pada tahu dan tempe, juga bermanfaat untuk mengendalikan kadar kolesterol, menangkal radikal bebas, kaya akan prebiotik, dan menjaga kesehatan tulang itu, ternyata bisa sampai langka dan hilang dari peredaran akibat mogok masalnya seluruh pengrajin tahu dan tempe, akibat naiknya harga bahan baku kedelai impor

" Naiknya harga bahan baku kedelai impor membuat para pengrajin tahu dan tempe se- Jabodetabek melakukan libur produksi massal mulai dari 31 Desember 2020 hingga 02 Januari 2021. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah karena tidak ada perhatian pada para pengrajin tahu dan tempe mengenai kenaikan harga kedelai" (republika.co, 02/1/2021).

Naiknya harga bahan pangan termasuk kedelai, pada akhirnya lagi lagi masyarakat lah yang bakal menerima dampak negitifnya. Bagi para produsen dan penjual misalnya, mereka harus rela kocek keuntungannya turun drastis, bahkan harus siap mengalami kerugian hingga terpaksa mereka harus berherti dari mata pencaharian yang selama ini menopang kehidupannya.

Begitu pula bagi para konsumen, para individu-individu rakyat yang membutuhkan sumber gizi yang cukup, harus mengurangi asupan gizinya akibat langka dan keterbatasan bahan makanan yang dibutuhkan. Terutama berdampak pada kesehatan anak-anak, tumbuh kembang fisik dan mentalnya akan terganggu. Mengingat anak-anak harus membutuhkan asupan gizi yang lebih.

Kebiasaan impor yang dilakukan oleh negara, inilah sesungguhnya yang menjadi biang keladi permasalahan pangan hari ini. Apalagi dengan disahkannya UU Ciptaker, membuat negara lebih longgar dan leluasa untuk melakukan impor.

Dikutip tirto.id, Ketua Umum Serikat Petani (SPI) Indonesia Henry Saragih mengatakan pelonggaran impor pangan tampak jelas dala revisi UU 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (Perlintang). UU Cipta kermenghapus frasa pasal (30) ayat 1 beleid itu yang berbunyi" setiap orang dilarang mengimpor komoditas pertanian pada saat ketersediaan komoditas pertanian dalam negeri masih mencukupi"

Dalam UU Ciptker versi 812 halaman, pasal (30) ayat 1 diubah menjadi; " kecukupan kebutuhan konsumsi dan/atau cadangan panganpemerintah berasal dari produksi dalam negeri dan impor dengan tetap melindungi kepentingan petani"

Selain berdampak pada ketergantungan pangan suatu negara pada negara lain, kebiasaan impor juga menunjukkan ketidakmandirian suatu negara dalam menjaga ketahanan pangan. Bagaimana tidak, negara lebih mengandalkan barang impor daripada berupaya meningkatkan produk dalam negeri. Hal ini membuat negara malas dan cengeng alias tidak mandiri.

Pun impor mempengaruhi besar kecilnya harga bahan pangan, tentu bahan pangan impor harganya akan jauh lebih mahal dibanding produk dalam negeri.

Berbagai permasalahan tentang pangan, termasuk naik turunnya harga bahan pangan karena besarnya jumlah impor bisa diatasi apabila negara mau serius menghentikan ketergantungan impor. Negara harus jeli akan dampak negatif yang dihasilkan dari ketergantungan impor, yang ujung-ujungnya mengakibatkan ketidakmandirian pangan suatu negara.

Tapi apalah daya, negara yang menganut sistem sekularisme yang melahirkan sistem ekonomi kapitalistik. Akan lebih mementingkan keuntungan daripada kebutuhan rakyat. Negara hanya bertindak sebagai fasilitator dan legulator antara kapital dan rakyat. Maka mana yang menguntungkan dialah yang dibantu.

Oleh karena itu, terwujudnya kemandirian pangan hanya akan terjadi dengan penerapan sistem Islam.

Islam memandang bahwa pemimpin adalah "ro'in" atau pelindung. Maka pemimpin islam atau kholifah akan sekuat tenaga untuk melindungi dari segala hal yang membahayakan rakyat. Termasuk melindungi rakyat dari bahaya kekurangan pangan.

Terlebih, pangan termasuk salah satu dari enam kebutuhan rakyat selain sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan yang harus ditanggung oleh negara.

Untuk mewujudkannya negara akan mengupayakan tersedianya bahan pangan yang melimpah dan murah bagi seluruh rakyatnya. Bebera langkah yang bisa dilakukan oleh negara untuk merealisasikan hal tersebut antara lain:

*Meningkatkan produktifitas bahan baku pangan dalam negeri. Yaitu denagn cara memberi fasilitas kebutuhan yang dibutuhkan oleh para petani seperti, menyediakan bibit atau benih yang unggul secara cuma cuma, menyediakan berbagai peralatan canggih secara gratis, memberikan edukasi atau pelatihan dengan mengirimkan para ahli pertanian kepada para petani. Nah dengan itu para petani akan mampu menghasilkan hasil tani yang melimpah dan berdaya saing tinggi dengam produk luar negeri. Para petani pun akan lebih giat dan bersemangat.

*Negara tidak akan membiarkan ada lahan yang kosong tanpa tanaman, dalam negara khilafah bila ada tanah yang tidak digarap oleh pemiliknya selama tiga tahun. Maka tanah tersebut akan diambil alih oleh negara dan memberikan kepada siapa yang mau menggarap.

*Negara islam tidak akan mudah mengambil kebijakan impor. Mengingat khilafah mempunyai aturan-aturan dalam melakukan impor, ini masuk dalam peraturan politik luar negeri yaitu:

-- Negara yang antara kita terikat perjanjian, maka boleh kita impor tapi dengan memperhatikan kondisi barang tersebut harus amat dibutuhkan, dan tidak menyebabkan kuatnya negara yang bersangkutan.

-- Negara yang termasuk dalam negara yang memusuhi kita, maka kita tidak boleh melakukan impor serta hubungan diplomatik lainnya.

Begutulah betapa berhati-hatinya negara khilafah dalam melakukan impor, selain supaya negara kita tidak ketergantungan impor, namun juga kehati-hatian supaya mereka tidak menguasai kita.

Langkah-langkah tersebut membuat negara islam menjadi negara mandiri termasuk terwujudnya kemandirian pangan akan terjadi .Nah teranglah sudah jika hanya dengan penerapan islam kemandirian pangan akan terwujud.

Wallahu 'alam bish-showwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations