Oleh : Rahayu, S.H.
Pemerhati Umat, Komunitas Perempuan Hijrah, Sorowako

Peribahasa habis miang karena bergeser yang artinya segala kesukaran (ketakutan, malu, dan sebagainya) akan hilang sesudah menjadi kebiasaan. Peribahasa ini mengingatkan kita sesuatu bisa menjadi kebiasaan walaupun itu memalukan.

Banyak remaja bahkan orang dewasa yang mencari popularitas dan rejeki dari konten-konten di medsos tanpa memperhatikan lagi adab dan agama. Ibarat sudah tebal muka, semua dilakukan demi meningkatkan grafik lamannya.

Aplikasi TikTok menempati posisi pertama dengan unduhan terbanyak di App Store pada April. Sedangkan di Google Play Store, aplikasi besutan Byte Dance ini masuk 10 besar.
TikTok memungkinkan pengguna untuk membuat video lipsing mulai dari tiga hingga 15 detik. Ada juga video pengulangan yang berlangsung selama tiga hingga 60 detik.

Selain TikTok dan YouTube, posisi ketiga hingga kelima ditempati oleh Tinder, Disney +, dan Tencent Video. Berdasarkan catatan Sensor Tower, aplikasi TikTok sudah diunduh 2 miliar kali di Google Play Store maupun App Store per akhir April. Jumlahnya melonjak dua kali lipat dalam 15 bulan, salah satunya karena pandemi corona. Jumlah unduhan aplikasi video pendek asal Tiongkok itu mencapai 1 miliar pada awal tahun lalu. Dengan adanya pandemi virus corona, aplikasi TikTok diunduh 315 juta kali hanya dalam tiga bulan pada awal tahun ini. (Katadata.co.id)

Remaja dibawah 18 yang menjadi pengguna TikTok belum tentu paham bahayanya mengunggah video yang rawan eksploitasi seksual. Di sinilah pentingnya pengawasan dari orang tua agar anak tidak terjurumus pada tantangan yang justru berpotensi merugikan diri sendiri.

Selain bisa membuka celah eksploitasi seksual, dikutip dari Warta Ekonomi dalam artikel “Aplikasi TikTok dan 5 Bahaya yang Mengancam”, berikut sejumlah bahaya TikTok yang perlu diwaspadai oleh orangtua :

1.     Mayoritas Pengguna Berusia di Bawah 18 Tahun, sedangkan Tik Tok Mengandung Banyak Konten Tak Layak 

2.     Potensi Cyber Bullying

3.     Memicu Sikap Narsisme Berlebihan

4.     Bahaya Laten Pedofilia

5.     Eksploitasi Anak Terbuka Lebar

Tantangan pendidikan dan pengawasan anak di masa sekarang memang sangat berat. Agar tidak kecolongan, mau tidak mau orang tua harus update tentang aplikasi yang sedang tenar dan bahaya yang mengintai di baliknya. (portaljember.pikiran-rakyat.com)

Hilangnya rasa malu telah disinggung oleh Allah SWT di dalam Q.S. Fussilat : 40, ”Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan.”  Maksud ayat ini adalah jika manusia sudah tidak mempunyai rasa malu atau putus urat malunya maka berlakulah sesuka hati dan nanti pasti akan mendapatkan akibatnya.

Bangga dan bahagia saat melakukan kemaksiatan menunjukkan bahwa kita terpengaruh oleh budaya bebas yakni liberalisme. Manusia semacam ini jadi tidak mempunyai rasa bersalah ketika melakukan sesuatu yang melanggar aturan Allah SWT dengan dalih hidup ini bebas dan tidak terikat aturan apapun. Dan parahnya juga menyebarkan hal-hal yang salah ini di medsos-medsos. Gaya hidup liberal juga membuat pengikutnya menjadi generasi pragmatis. Ingin menjadi generasi yang serba instan, praktis dan berpikir sempit. 

Meskipun banyak dalil yang telah menggambarkan pahala-dosa, siksa neraka, hingga azab Allah SWT, mereka tetap bangga berbuat dosa. Sebab dosa dan pahala itu tidak terlihat, sedangkan uang, materi dan sebagainya tampak  dan akhirnya lahirlah generasi pragmatis yang meremehkan surgaNya Allah SWT. Buktinya mereka melakukan apapun hingga mengungkap aib sendiri di medsos demi ketenaran.

Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa berusaha untuk memahami Islam dan mengamalkannya. Sebagai umat Islam, kita harus banyak belajar. Semakin banyak kita belajar dan mengetahui aturan Islam maka semakin takut kita akan melakukan dosa. Islam mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat, Rasulullah SAW bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu'anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir no. 3913).

Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu.
Jika kita ingin menyandang kehormatan luhur, kemuliaan yang tak terkikis oleh perjalanan malam dan siang, tak lekang oleh pergantian masa dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, kedigdayaan tanpa senjata, kebangsawanan tanpa keluarga besar, para pendukung tanpa upah, pasukan tanpa gaji, maka kita mesti berilmu.

Allah SWT akan mengangkat derajat bagi orang-orang yang berilmu. Allah SWT berfirman,"...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah [58]:11).

Kita bisa belajar dari kisah Sang Penakluk Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih. Beliau diangkat menjadi sultan ketika usianya baru 12 tahun dan beliau berhasil menaklukkan Konstantinopel ketika usianya 21 tahun. Usia yang masih sangat muda. Beliau memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.

Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahamiilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.

Wallahu’alam bishawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations