Oleh: Puji Rahayu
Anggota Komunitas Setajam Pena

Indonesia kembali berduka dengan jatuhnya Pesawat Srijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak. Pesawat itu jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada hari sabtu (9/1).

Dengan jatuhnya pesawat ini menambah daftar pesawat atau musibah maupun kecelakaan transportasi.

Banyak pertanyaan yang muncul ke permukaan dengan kejadian ini. Pasalnya baru 10 menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno Hatta di Cengkareng Banten. Terutama tentang usia pesawat tersebut apakah masih laik terbang atau tidak?

Bila kita belajar tentang Pembukuan/Akuntansi, harta benda itu termasuk Aktiva tetap. Itu bisa berupa peralatan berat, perlengkapan, dll. Pencatatan dalam setiap tahun harus ada nilai penyusutan terhadap suatu aktiva tersebut. Ada taksiran berlaku atau layaknya sebuah aset itu digunakan dan dimanfaatkan. Hingga batas waktu tertentu yang ditentukan nilainya, aset tersebut kecil bahkan zonk dapat dijual untuk melakukan pembaharuan. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan kinerja sebuah aset. Begitulah juga dalam menilai sebuah pesawat terbang.

Pesawat ini pertama kali beroperasi pada Mei 1994 dan kini usia pesawat tersebut mencapai 26th. Menurut Praktisi Hukum menjelaskan dalam pasal 24 UU RI no 1 th 2009, usia pesawat untuk terbang harus mempunyai tanda pendaftaran. Dan dalam pasal 26 ayat 1 huruf c UU Penerbangan tahun 2009 menyebutkan batasan usia laik terbang.

Sebelumnya ada pembatasan usia laik pesawat untuk terbang. Tetapi menurut Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Dadun Kohar mengatakan alasan pencabutan aturan Permenhub No. 155/2016 karena digantikan dengan Kepmenhub No. 115/2020 tentang batas usia pesawat udara yang digunakan untuk kegiatan angkutan udara niaga.

"Berdasarkan referensi dari pabrikan tidak ada pembatasan usia pesawat, pesawat udara akan dibatasi penggunaannya dengan flight hours atau cycles [pendaratan] jadi bisa jadi walaupun usia pesawatnya masih sesuai ketentuan di atas tapi kalau sesuai rekomendasi pabrikan sudah tidak dapat dipakai maka pesawat tersebut tidak dapat dioperasikan lagi," jelasnya kepada Bisnis.com, Jumat(10/7/2020).

Direktur Utama Sriwijaya Air Jeff Jauwena menyatakan, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 berada dalam kondisi baik dan sehat karena sebelumnya juga sudah terbang ke Pontianak pulang-pergi, kemudian ke Pangkal Pinang, baru ini rute kedua ke Pontianak. Keberatan memang tertunda 30 menit karena hujan deras sebelumnya" kata Jeff, Sabtu.

Semua kejadian yang terjadi adalah takdir dan ketentuan Allah. Tetapi hukum sebab akibat tetap berlaku sebagai ikhtiar usaha manusia dalam melakukan pencegahan atau meminimalkan sesuatu kejadian.

Dalam era sekarang Transportasi merupakan hal yang urgen bagi masyarakat. Bahkan setiap orang membutuhkan. Tetapi menjadi sesuatu yang mahal karena harus membayar yang lumayan. Transportasi sekarang dikelola oleh pribadi atau swasta. Pengadaan, Perawatan, Operasional semuanya diserahkan kepada pihak-pihak tersebut. Mengambil keuntungan materi tentu karena ini adalah sebuah ladang bisnis yang menhasilkan banyak pundi-pundi rupiah.

Berbeda halnya bila Sistim Islam diterapkan. Transportasi akan dikelola negara. Negara menyediakan fasilitas transportasi yang dibutuhkan masyarakat. Ada Angkutan Darat, laut dan Udara. Pengadaan, Pengelolaan, Perawatan, Penggajian dilakukan oleh Negara dan melindungi keselamatan seluruh warga masyarakat. Dengan harga murah dan terjangkau bahkan gratis. 

Allahu 'alambisshowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations