Oleh: Maman El Hakiem

Lagi, demokrasi itu akan menghinakan, bukan memuliakanmu. Jika masih berharap ada secercah cahaya untuk kebaikan negeri, itu hanyalah ilusi.

Karena sebuah sistem memiliki pola aturan yang tidak bisa diubah, maka sebaik apapun pribadi seseorang akan menjadi kotor saat tenggelam dalam lumpur demokrasi.

Desember bisa menjadi kelabu, jika suara rakyat masih saja diserahkan pada pesta orang-orang kapitalistik yang mencoba membelinya. Akad atau transaksi kekuasaan yang seharusnya wakalah, malah menjadi tijaroh (jual beli) suara. Para penggiat demokrasi sendiri mengakui jika pemilihan  kepala  daerah sarat dengan para cukong yang pasang modal. Lantas, mengapa rakyat masih saja percaya dengan janji-janji manis mereka?

Permasalahan  krusial  yang sering umat Islam abaikan adalah kesalahan dalam memahami partai politik. Dalam sistem demokrasi fungsi partai hanya sekedar eskalator untuk meraih kekuasaan, bukan edukasi dalam pengurusan umat.Wajar, jika dalam demokrasi semua partai adalah sama, sekalipun memiliki misi perubahan, namun sifatnya parsial atau tambal sulam. Karena semua partai yang ada masih dan harus menjunjung aturan main yang sama, yaitu kedaulatan di tangan rakyat. Rakyat melalui wakilnya, ataupun pemimpin yang dipilih oleh rakyat secara langsung dalam sistem ini,  akan menempatkan hukum konstitusi di atas segalanya.

Padahal, kaidah syariah mengatakan:  اَلأَصْلُ فِى أَفْعَالِ اْلإِنْسَانِ التَّقَيُّدُ بَحُكْمِ الله”Pada dasarnya perbuatan manusia itu terikat dengan hukum Allah.”  Sedangkan dalam demokrasi yang berlaku adalah hukum kesepakatan  manusia, inilah yang menjadikan demokrasi dihukumi haram. Karena kebaikan yang dijadikan hukum adalah kebaikan relatif  yang berdasarkan hawa nafsu manusia, selalu berubah dan memiliki harga atas kepentingan kelompok tertentu. Sudah menjadi rahasia umum undang-undang produk demokrasi sejatinya pesanan oligarki kekuasaan.

Jika rakyat masih saja terjebak pada kubang lumpur yang sama, tentu karena peran partai politik tidak dibangun berdasarkan ideologi Islam. Aktifitas partai yang ada hanya untuk kepentingan pragmatisme, bukan dalam rangka melanjutkan kehidupan Islam. Untuk itu sudah saatnya umat Islam menyadari akan pentingnya keberadaan partai politik yang benar-benar berdiri di atas akar akidah Islam, memiliki misi melanjutkan kehidupan Islam dengan metode yang telah dicontohkan Rasulullah Saw, meraih kekuasaan dari rakyat tanpa harus tenggelam dalam lumpur demokrasi.

Perubahan  masyarakat yang hakiki bukanlah dengan aktifitas sosial atau ritual ubudiyah, melainkan hanya melalui aktifitas politik, yaitu penyadaran akan pemahaman yang benar tentang pengurusan umat yang dijalankan dengan hukum syariat. Karena itu jangan sampai terjebak dengan kesibukan lain yang akan melalaikan, bahkan memutar balikan arah perubahan itu sendiri, jika tidak ingin tujuan mulia penegakan syariah dibajak di tengah jalan oleh para cukong oligarki kapitalisme.

Wallahu’alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations