Oleh : Muna Rachman

Selembar kain penutup kepala sungguh mulia sebagai pelindung dan penghias mahkota calon bidadari surga. Menutupi sehelai demi sehelai rambut supaya tidak terlihat oleh yang bukan haknya.

Harganya terjangkau, bahannya variatif, motifnya cantik dan luar biasa balasan bagi yang istiqomah mengenakannya. Itulah khimar atau hijab bahkan sebagian menyebutnya kerudung. 

Sayang, kemuliaan selembar kain itu selalu menjadi sorotan negatif sampai dengan hujatan. Dari kasus yang belum lama mengenai hijab yang viral di tanah air ini, sampai masalah yang sering sekali muncul di belahan dunia terutama ancaman bagi Islam minoritas di suatu negeri. Dikutip dari berita lama di negeri Turki, pada 2008 sekelompok perempuan Turki berunjuk rasa di depan Mahkamah Konstitusi di Ankara menuntut hak mengenakan jilbab yang sangat dibatasi. Pada Selasa (8/10/2013), pemerintah Turki mencabut larangan memakai jilbab tersebut di instansi-instansi pemerintah yang selama ini diterapkan. Namun, tautan tak boleh mengenakan jilbab tetap berlaku untuk para hakim, jaksa, polisi dan personal militer. Diliput oleh Liputan6.com, 11 Negara dinyatakan melarang  penggunaan hijab, niqob dan burqa.

Kesebelas negara tersebut adalah negara Belanda, Rusia, Italia, Jerman,  Perancis, Tunisia, Belgia, Turkey, Suriah, Australia dan Spanyol. Alasan pelarangan penggunaan hijab tersebut tidak lain adalah alasan ketidaknyamanan, demi keselamatan jalan, pembelajaran yang mengharuskan tatap muka, supaya mudah di kenal, hukum dan ekstrimisme.

Alasan-alasan yang dikemukakan adalah alasan yang tidak mendasar karena sasaran yang dituju sebenarnya bukan karena material yang dipakainya karena secara mereka para pengguna hijab bukanlah pembenci,  pelaku teror, pembuat rusuh dan sebagainya. Pesatnya pelarangan hijab atau syariat jilbab diserang di setiap negara luar maupun dalam negeri sendiri agar umat Islam menjauhi tuntunan Islam yang sebenarnya . Menjauhi kewajiban muslimah atas perintahNya. Seperti kewajiban yang tertuang pada QS. An-Nur ayat 31 dan QS. Al Ahzab ayat 59. Serta hadist-hadist yang lain. 

Kala ketakwaan dan keimanan tidak berada pada bingkai yang sesungguhnya, dan justru  sekuler yang membungkus kehidupan ini. Jadilah  hijab didiskriminasi, aturan bobrok dilegalkan , modernisasi terus digaungkan dan tidak ada perlindungan bagi perempuan muslimah khususnya. 

Teringat pada kisah di zaman Rasulullah SAW, saat seorang wanita Arab yang datang ke pasar kaum Yahudi Bani Qainuqa. Wanita itu duduk di dekat perajin perhiasan. Diam-diam perajin perhiasan ini mengikat ujung jilbabnya. Ketika wanita itu bangkit, auratnya seketika itu juga tersingkap. Muslimah ini spontan berteriak dan seorang laki-laki muslim yang berada di dekatnya menolongnya dan membunuh Yahudi tersebut. Dan orang Yahudi pun membalas dengan membunuh laki-laki muslim itu. Kabar tersebut terdengarlah oleh Rasulullah SAW, akhirnya Rasulullah SAW mengirimkan pasukan untuk mengepung Yahudi Bani Qainuqa tersebut. Singkat ceritanya Rasulullah SAW akhirnya memaafkan. 

Ini hanyalah satu dari banyaknya kisah tentang kemuliaan Islam dalam melindungi kaum perempuan (penjagaan aurat). Kehormatan perempuan tidak hanya dilindungi  tetapi disediakan pasukan untuk melawan ketika perempuan dilecehkan. Masya Allah, adakah kemuliaan Islam seperti itu bisa terjadi saat ini ? Hanya penerapan sistem Islam secara keseluruhanlah yang bisa mengatur, menjaga serta melindungi aurat dan martabat wanita.

Wallahu a'lam bisshawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations