Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Penguasa atau dalam batasan makna seorang pemimpin, baik kepala negara, kepala daerah juga kepala rumah tangga memiliki tanggung jawab masing-masing yang sudah Allah swt tetapkan.

Islam adalah agama yang sempurna dan komprehensif memuat tata cara menjalankan kehidupan di dunia baik secara individu maupun berkolompok termasuk bernegara. Sehingga kelak, tidak akan ada alasan para penguasa atau pemimpin yang telah diamanahkan kepemimpinan untuk mengelak dari pertanggungjawaban.

Fokus pembahasan pada pemimpin negara, fakta kehidupan sekuler-kapitalis hari ini, terlihat jelas dan dirasakan oleh manusia, betapa kehadiran sosok pemimpin dan kepemimpinan yang adil sedang dinantikan. Karena para penguasa yang dilahirkan sistem sekuler yang kapitalistik tidak lebih dari sekedar boneka bernyawa tetapi tidak bisa bergerak tanpa disetir oleh Pemeliharanya (Tuannya). Segala kebijakan bersumber dari hajat kepentingan Tuan-Tuan Pemodal dan Super Power. Secara de jure, seorang pemimpin atau penguasa diangkat ke tengah-tengah manusia, secara defacto seolah-olah antara ada dan tiada.

Mereka hadir untuk rakyatnya hanya jika merasa perlu untuk menaikkan pamor/citra pribadi demi mendulang dukungan di pemilihan berikutnya. Sebagian bermuka dua mendatangi rakyat hanya agar rakyat memuluskan keinginannya mengundang investor asing untuk menjarah harta milikrakyat (SDA). Namun saat rakyat butuh kehadiran mereka memberikan keadilan, para penguasa /pemimpin yang ada, bungkam dan tidak mau tahu. Walhasil, penguasa hanya simbol adanya satu negara masih berdiri dan diakui dunia secara tertulis, namun mandul untuk menyahuti tanggung jawab publiknya. Kelaparan, pengangguran, kemiskinan, kebodohan, gizi buruk, kekerasan fisik dan seksual, perampokan, pembunuhan, korupsi dan penjarahan makin menjadi-jadi. Dimana mereka para penguasa yang katanya selalu berbuat untuk rakyat?

Dalam kitab Afkar Siyasi (Political Thoughts) yang ditulis oleh Syaikhul Islam Abdul Qadim Zallum menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah swt telah menentukan tanggung jawab publik kepada pemerintah sedemikian jelas sehingga tidak mungkin akan menimbulkan kesalahan dan kekeliruan. Allah swt telah menjelaskan tanggung jawab penguasa sebagai seorang pemimpin, dan tanggung jawabnya yang berkaitan dengan warga negaranya.

Tentu, untuk mendapatkan sosok pemimpin yang memahami tanggung jawab terhadap warga negaranya atau kepemimpinannya, ia harus memiliki kualitas pribadi yang dijelaskan oleh Allah swt dan juga Rasul-Nya. Sebab dalam ajaran Islam, mengurus ummat dan bumi ini haruslah orang yang terpilih dan memenuhi kriteria sesuai syariat Islam.

Kualitas Pribadi Sosok Pemimpin Negara

Masih dalam penjelasan Syeikhul Islam Abdul Qadim Zallum dalam Kitab afkar Siyasi (Political Thoughts), bahwa seorang pemimpin negara harus memiliki kualitas sifat yang sudah dijelaskan oleh dalil-dalil syar’i. setelah kriteria utama wajib seorang muslim, laki-laki, baligh, berakal, lagi adil, maka seorang pemimpin/penguasa negara haruslah meliki keutamaan sifat kuat, bertakwa, baikterhadap warga negara, serta tidak bersikap menakutkan.

Rasulullah Saw telah menjelaskan tenang sifat kuat ini dalam suatu hadis berikut.

 “Wahai Abu Dzar, aku melihat dirimu adalah orang yang lemah. Dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku. Janganlah engkau menjadi amir dari dua orang, dan janganlah engkau menjadi amir dari dua orang, dan janganlah kamu mengurus harta anak yatim”.

Lalu Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau akan mengangkatku? Kemudian Rasulullah menepuk pundakku, dan berkata, “Wahai Abu Dzar, kamu adalah orang lemah, dan sesungguhnya jabatan ini adalah amanah; dan pada Hari Pembalasan (amanah) ini adalah merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang mengambilnya (kepemimpinan) sesuai haknya dan memenuhi kewajibannya,“ (HR. Muslim).

Berdasarkan hadis tersebut yang dimaksud dengan kekuataan kepribadian, yaitu pola pikir dan pola jiawa. Oleh karena itu, pola pikir dan pola jiwa seorang pemimpin harus menyatu dengan kepemimpinannya karena dengan itulah ia akan memahami persoalan negara dan warganya. Kekuatan kepribadian sangat berpengaruh dalam kepemimpinannya agar mampu mengendalikan kecenderungan (muyul) dan pengaruh-pengaruh buruk.

Kedua adalah ketakwaan. Seorang pemimpin harus memiliki ketakwaan baik secara pribadi maupun hubungannya dengan tugas mengurus umat. Sulaiman ibn Buraidah menuturkan dari bapaknya, bahwa ia berkata:

“Rasulullah saw dalam mengangkat seoarang pemimpin pasukan atau ekspedisi (sariyyah) selalu mewasiatkan takwa kepadanya dan berbuat baik terhadap muslim yang bersama dengannya. (HR Muslim dari Buraidah ra.)

Bila seorang pemimpin memiliki ketakwaan, yaitu sikap takut dan muqarabah (merasa selalu diawasi oleh Allah swt), baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan maka sikap ini akan menjauhkannya dari sikap lalim.

Ketiga, adalah memiliki kelemahlembutan kepada rakyatnya. Allah swt juga memerintahkan seoarang pemimpin untuk bersikap lemah lembut dan tidak menimbulkan kesulitan bagi warga negaranya. Tidak seperti gambaran para pemimpin dewasa ini yang nyaris lebih mempersulit rakyatnya dan terus membebaninya hingga terzalimi. Saat warga mengktirik malah dimasukkan buih, saat warga kelaparan karena sulitnya mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan pokok, rakyat malah disuruh diet, dan sebagainya. Saat rakyat tidak punya tanah dan rumah, saat itu penguasa/pemimpin menggelar karpet merah untuk asing demi merampas tanah rakyat dan hak kekayaan alamnya. Ironis bukan?

Aisyah ra menuturkan, bahwa ia mendengar Rasulullah berkata di rumahnya:

“ya Allah, bagi siapa saja yang diberi tanggung jawab kepemimpinan umat, dan menimbulkan kesulitan bagi mereka (umat), maka berikanlah kesulitan kepadanya. Dan bagi siapa yang berbuat baik kepada mereka, berikanlah kebaikan kepadanya.”(HR. Muslim).

Allah swt juga memerintahkan pemimpin agar menjadi seorang yang memberikan kabar gembira (mubasyir) dan bukan seseorang yang menakutkan (munafir). Abu Musa ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Jadilah seorang mubasyir, dan janganlah menjadi munafir. Mudahkanlah dan jangan persulit.” (HR. Al-Bukhari).

Bagaimana Hubungan Penguasa dengan Warga Negaranya?

Dalam hubungannya dengan warga negaranya, Allah swt mewajibkan seorang pemimpin untuk memberikan nasehat yang tulus kepada warga negara dan senantiasa berhati-hati mengelola harta negara. Allah swt juga telah memerintahkan seoarang pemimpin untuk memerintah warganya hanya denga sistem Islam dan tidak mencampurnya dengan sistem lain.

Allah swt mengharamkan syurga bagi pemimpin yang tidak mensehati rakyatnya dan merampok harta rakyatnya. Ma’qil bin Yasar ra menuturkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Siapa saja yang diberi kedudukan oleh Allah mengurus umat, dan ia tidak menasehati dengan  tulus, ia tidak akan mencium bau surga" (HR. Al-Bukhari).

Abu Said juga berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “setiap penghianat akan membawa sebuah bendera pada hari Pembalasan yang akan dikibarkan sama tinggi dengan penghianatannya. Dan tidak ada penghianatan yang lebih besar daripada penghianatan seorang pemimpin umat." (HR. Muslim ).

Dengan demikian, Islam menenakankan keras agar setiap pemimpin berupaya sungguh-sungguh memngrus umat (rakyat). Islam juga menentang keras setiap kecurangan dalam pengelolaan harta negara. Demikianlah Islam telah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa Allah swt dan Rasul-Nya menyuruh agar para pemimpin memerintah rakyatnya berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw.

Allahu a’alam bissawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations