Oleh: Rahmi Aulia
Aktivis Muslimah, Mahasiswi Pascasarjana UNY

Presiden Joko Widodo resmi menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) nomor 70 Tahun 2020 tentang hukuman kebiri untuk pelaku kekerasaan sesksual terhadap anak per 7 Desember 2020.

Tujuan aturan ini adalah untuk menekaan tindakan kekerasan seksual terhadap anak dan untuk memberi efek jera terhadap predator seksual anak. Dalam PP tersebut memuat tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, yakni pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi dan pengumuman identitas pelaku kekerasaan seksual terhadap anak. Kebiri kimia yang dimaksud dalam PP tersebut merupakan pemberian zat kimia kepada pelaku melalui penyuntikan atau metode lain untuk mengurangi hasrat seksual.

Kebiri dianggap sanksi tertinggi dan pemberatan sanksi dianggap efektif untuk hentikan predator seksual. Memang jika memandang dari sisi bejatnya tindakan pelaku maka hukuman kebiri dirasa pantas, namun disisi lain praktik hukuman kebiri kimia tidak sesuai dengan hak asasi manusia. Menurut lembaga pegiat hak asasi manusia, Amnesty Internasional menganggap ini sebagai perlakuan yang tidak manusiawi (sumber CNN Indonesia). Menurut professor Don Grubin, seorang psikiatri forensic di Universitas Newcastle, Inggris, terdapat efek samping yang beresiko bagai pelaku. Penggunaan kimia pada hukuman kebiri memiliki efek samping. Beberapa efek sampingnya pada tubuh yaitu pengapuran tulang, perubahan pada kesehatan jantung, kadar lemak darah, tekanan darah, dan gejala seperti menopause pada perempuan. Kemudian dimasa mendatang apabila injeksi knock down hormonal berhenti tidak menjamin pelaku berhenti dari perbuatan biadabnya sehingga tidak ada jaminan hukuman kebiri ini akan mengatasi kejahatan kekerasan seksual terhadap anak.

Nyatanya ada banyak faktor yang menyebabkan adanya tindakan kekerasaan seksual. Solusi suatu masalah hendaknya dilihat dari akar masalah nya kenapa perbuatan tersebut dapat timbul, bukan hanya dari hasil perbuatannya saja.

Kejahatan syahwat bukan hanya dipengaruhi dari faktor hormonal saja, namun juga karena adanya rangsangan dari luar. Misalnya maraknya konten-konten seksual yang akan membentuk fantasi seseorang akan membuat mereka mudah terpengaruh terlebih lagi untuk orang yang minim imannya. Faktor lain yaitu adanya pemikiran sekuler yang ada. Ini akan mempengaruhi cara pandang seseorang dalam memenuhi potensi seksual nya. Lifestyle sekuler yang dipengaruhi dari ide sekuler barat yang mendewakan kebebasan tanpa mengaitkan dengan agama sehingga akan mudah terpengaruh dan menyalurkan hasrat seksual nya saat itu juga dengan berbagai cara seperti berzina, homo, lesbian sampai pedofil. 

Selain itu, pemikiran Barat juga yang memandang tubuh perempuan sebagai seni sehingga banyak visualisasi perempuan dengan pakaian minim yang dapat menimbulkan adanya fantasi seksual. Kemudian dari segi ekonomi juga bisa mempengaruhi. Tersedia banyaknya tempat-tempat maksiat serta sempitnya ekonomi membuat mereka menjalankan pekerjaan haram tersebut meskipun mereka masih dibawah umur. Maka, perlunya solusi yang solutif dan komprehensif dalam mengatasi masalah ini, bukan hanya dipandang dari segi hasil perbuatannya saja (subjek pelakunya) namun juga diselesaikan dari mana akar permasalahan ini bisa timbul. Selain itu perlu juga dilihat dari sisi korban, seperti aturan pemulihan bagi korban serta penutupan akses-akses pornograpi secara keseluruhan.  

Sementara dalam islam sudah mengatur tentang hukuman/sanksi untuk pelaku kekerasan seksual. Bukan dengan kebiri sebab hukuman kebiri hukumnya haram. Ibnu Mas’udra, berkata “Dahulu kami pernah berperang bersama Nabi Muhammad SAW sedang kami tidak bersama istri-istri kami. Lalu kami berkata (kepada Nabi Muhammad SAW) bolehkah kami melakukan pengebirian? Maka Nabi Muhammad SAW melarang yang demikian itu.” (HR Bukhari no 4615; Muslin no 1404; Ahmad no 3650). 

DIsisi lain hukuman kebiri kimia yang menginjeksikan hormone estrogen akan menyebabkan pelaku memiliki ciri-ciri fisik seperti perempuan, dimana dalam Islam haram seorang laki-laki menyerupai perempuan begitu juga sebaliknya. Hukuman pedofilia dalam islam: 1) jika yang dilakukan adalah perbuatan zina, maka hukumannya adalah hukumana untuk pelaku zina yaitu dirajam jika sudah muhshan (menikah) atau dicambuk 100 kali jika belum muhshan (An-Nur ayat 2); 2) jika yang dilakukan adalah liwath (homo seksual) maka hukumannya adalah hukuman mati bukan yang lain. 3) jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (at taharusyal jinsi) yang tidak sampai pada perbuatan zina dan homo seksual maka hukumannyaadalah ta’zir (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 1480; Abdurrahman Al Maliki Nizhamul ‘Uqubat, hlm. 93). Sanksi ini hanya bisa dilakukan dalam lingkup negara. Jika negara menerapkan sanksi ini maka akan memberikan efek jera kepada pelaku. 

Begitulah Islam mengatur sanksi bagi pelaku kejahatan. Sehingga keamanan terhadap perempuan akan terjamin. Selain menerapkan sanksi untuk untuk pelaku, sistem islam juga akan memberikan jaminan terhadap dari segi ekonomi kepada rakyat nya seperti para ibu-ibu dan perempuan. Kemudian islam juga akan menutup akses untuk ide-ide Barat sekuler yang tidak sesuai dengan islam.

Maka pentingnya dijaman sekarang kita baik ibu-ibu dan perempuan sadar akan perlunya penerapan sistem islam dari segala lini kehidupan. Serta tidak mudah terpengaruh dan tenggelam dengan ide-ide dari luar Islam.

Wallahua’lam bissawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations