Memasuki masa new normal muncul kekhawatiran yang dirasakan orang tua dan guru terkait kegiatan sekolah. Karena kondisi wabah yang belum berakhir membuat semua menjadi khawatir.

Oleh: Erna Ummu Aqilah, (Member AMK)

Sebentar lagi tahun ajaran baru segera dimulai, biasanya para wali murid dan guru sudah mulai mempersiapkan segala keperluan untuk menyambutnya. Namun kondisi kali ini sangatlah berbeda, di tengah pandemi seperti saat ini semua dibuat bingung. Bagaimana tidak bingung selain memikirkan pendidikan, namun juga menghawatirkan keselamatan.

Tak kalah bingungnya dengan orang tua yang hendak mencarikan sekolah baru bagi putra putri mereka. Baik tingkat SD, SMP, SMA dan lainnya. Di satu sisi khawatir anak tidak mendapatkan sekolah favorit yang diinginkan, namun di sisi lain khawatir akan keselamatan. Inilah fakta yang sedang terjadi saat ini.

Sebagaimana sama-sama kita ketahui selama masa pandemi pemerintah menerapkan PSBB. Dengan adanya PSBB kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online atau Belajar Dari Rumah (BDR). Selama BDR banyak sekali kesulitan yang dialami oleh murid maupun guru. Mulai HP nggak mendukung, kehabisan kuota sampai susah sinyal menjadi bumbu-bumbu selama BDR.

Namun belakangan ini pemerintah telah mengambil kebijakan menuju new normal. Dimana segala aktivitas akan kembali berjalan secara normal, seperti sebelum diberlakukannya PSBB. Tentu disertai dengan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, memakai masker, membatasi jumlah, dan tetap menjaga kebersihan.

Memasuki masa new normal muncul kekhawatiran yang dirasakan orang tua dan guru terkait kegiatan sekolah. Karena kondisi wabah yang belum berakhir membuat semua menjadi khawatir.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan, hanya sekolah di zona hijau yang dapat membuka pengajaran secara tatap muka, artinya sekolah tersebut dapat kembali buka untuk menerapkan kegiatan belajar mengajar.

Meskipun begitu waktu dimulainya tahun ajaran baru belum diputuskan oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Sementara  untuk daerah yang masih berada pada zona kuning, orange dan merah tetap melakukan kegiatan belajar dari rumah. Tribun news com (5/6/2020).

Kebijakan di atas justru membuat bingung dan ragu, langkah apa yang mesti diambil untuk menyikapinya. Kebijakan tersebut justru makin mempertegas bahwa pemerintah tidak punya arah yang jelas tentang target pembelajaran sekolah. Juga tidak ada integrasi kebijakan dengan new normal yang dijalankan. Sehingga kesulitan menetapkan secara tegas apakah tetap BDR atau tatap muka.

Fakta tersebut wajar terjadi pada negara yang menganut sistem sekuler. Sebagaimana kita semua ketahui sistem sekuler selalu mengutamakan kebijakan berdasarkan untung rugi. Materi selalu dijadikan tolak ukur dalam mengambil sebuah kebijakan.

Berbeda dengan Islam, sebab Islam merupakan agama yang sempurna dengan seperangkat aturan di dalamnya mampu memecahkan seluruh problematika kehidupan. Islam selalu  mengembalikan semua keputusan berdasarkan hukum syara'.

Islam memandang pendidikan merupakan kebutuhan pokok dan hak bagi setiap warga negara. Karenanya negara akan memfasilitasi segala kebutuhan yang terkait dengan pendidikan demi menunjang sistem pendidikan berjalan dengan sebaik-baiknya. Namun dalam situasi pandemi seperti saat ini, negara juga tidak akan membiarkan keselamatan rakyatnya terancam. 

Rosulullah Saw telah bersada "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding dengan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak".( HR Nasa'i).

Berdasarkan hadits di atas pemerintah akan benar-benar mastikan akan keselamatan seluruh rakyatnya.Oleh sebab itu negara wajib mengatur segala aspek yang berhubungan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Mulai masalah kurikulum, akreditasi sekolah, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarannya, juga negara wajib mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh secara mudah.

Apalagi di masa pandemi seperti saat ini di mana rakyat dalam keadaan susah, sudah sewajarnya negara memenuhi semua kebutuhan rakyatnya. Mencakup seluruh kebutuhan pokok termasuk pendidikan dan kesehatan, agar pendidikan bisa berjalan dengan lancar tanpa harus membahayakan keselamatan rakyatnya. Wallahu A'lam bishshawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations