Oleh: Maman El Hakiem

Salah satu tujuan penerapan syariat Islam adalah terpeliharanya akal (hifdz al aql) manusia.

Karena itu negara harus mencegah hal-hal yang merusak akal sehat, seperti khamar, judi dan pornografi. Peran negara harus mampu melakukan pencegahan, juga  sanksi atau tindakan hukum bagi mereka yang melanggarnya.

Tidak boleh negara membiarkan masyarakat akalnya menjadi rusak, baik oleh pengaruh minuman keras, maupun pemikiran dari hadlarah atau tsaqofah asing, seperti sekularisme dan materialisme. Muhammad Husain Abdullah dalam Kitab “Dirosah Fikrul Islam”, menempatkan akal tidak bisa dipisahkan dengan syariat, karena akal menjadi paket dari pemikiran Islam. Oleh sebab itu, menjadi penting memahami tentang bagaimana cara berpikir masyarakat yang Islami?.

Sebuah masyarakat dikatakan Islami, jika aturan yang diterapkannya adalah aturan Islam. Dalam kondisi sistem kapitalisme, maka sudah pasti cara berpikirnya adalah kapital. Sehingga wajar, penguasa dalam sistem ini tidak akan pernah membuka peluang diterapkannya syariat Islam. Sudah pasti apapun aturannya akan selalu merugikan umat Islam, semisal  legalitas minuman keras yang mendapat kritikan dari masyarakat sekalipun, mereka tidak akan pernah bergeming, “prank” pun menjadi solusi agar masyarakat terkecoh dengan aturan yang telah dibuatnya tersebut.

Berpikir ala kapitalisme, menjadikan sarana pemuasan kebutuhan manusia hanya berdasarkan nilai “maslahat”, sekalipun itu perkara yang merusak akal sehat. Tujuan penerapan hukumnya, semata-mata untuk kepentingan para “investor” kekuasaan. Tentu, ini sangat berbeda dengan syariat Islam yang asas pemikirannya adalah akidah Islam, standar baik dan buruknya adalah syariat yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya,  makna kebahagiaan yang ingin dicapainya semata-mata mencari ridla Allah SWT.

Pemikiran Islam didefinisikan sebagai “upaya menilai fakta dari sudut pandang Islam”, maka adanya fakta baik benda maupun perbuatan adalah obyek yang harus dihukumi berdasarkan dalil syariat, menghubungkan keduanya akan menghasilkan hukum atas fakta yang diterapkan secara praktis dalam kehidupan. Inilah hikmah penerapan syariat Islam yang telah mampu mengangkat kejahiliyahan dan kejumudan berpikir menjadi mustanir dalam keseluruhan persoalan kehidupan. Pun tentang makna kebahagiaan, saat halal dan haram menjadi standar perilaku keseharian. 

Dengan penerapan syariat Islam bukan hanya akal sehat yang terjaga, tetapi juga memahami dunia ini sebagai ladang amal kebaikan dalam meraih kebahagiaan sejati di akhirat. “Carilah dengan apa yang diberikan Allah kepadamu akan negeri akhirat dan jangan lupakan bagianmu di dunia...”(QS Al Qashas: 77).

 Wallahu’alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations