Kita bayangkan bahayanya cairan keras bila disiramkan kepada seseorang, baik itu ke badan atau ke anggota tubuh yang vital lainnya. Jika disiramkan ke badan seseorang, itu pasti ada tujuan, bukan kesengajaan, karena bukanlah penggunaan yang semestinya.

Oleh: Damisri (Anggota Komunitas Setajam Pena)


Kita bayangkan bahayanya cairan keras bila disiramkan kepada seseorang, baik itu ke badan atau ke anggota tubuh yang vital lainnya. Jika disiramkan ke badan seseorang, itu pasti ada tujuan, bukan kesengajaan, karena bukanlah penggunaan yang semestinya. Yang terjadi dan dirasakan kepada orang yang disiram, tentu itu termasuk penganiayaan, entah ringan maupun berat.

Kasus penyiraman itu menjadi sebuah pembahasan lagi oleh publik pada saat ini. Karena, sang pelaku adalah sebagai penegak hukum dan sang korban juga sebagai penegak hukum. Yakni, yang dilakukan oleh dua orang polisi terhadap Novel Baswedan. Sedangkan, sanksi yang dijatuhkan kepada pelaku sangatlah tidak sesuai dengan apa yang diderita oleh korban. Bahkan sampai mengalami cacat permanen pada mata, yaitu mengalami kebutaan.

Rocky Gerung pasca menyambangi kediaman Novel Baswedan bersama sejumlah tokoh lainnya di jalan Deposito T8, RT 03/10, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Minggu 14 Juni 2020, menyampaikan, "Saya sengaja datang ke sini, sengaja untuk melihat apa di balik butanya mata pak Novel ini. Kita tahu bahwa pak Novel sendiri sudah tidak peduli dengan butanya mata beliau karena sudah bertahun-tahun. Jadi yang bahaya hari ini adalah tuntutan jaksa ini sebagai air keras baru buat mata publik dan mata keadilan." Jelas Rocky, Minggu 14 Juni 2020.

Rocky menilai tuntutan 1 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara terhadap terdakwa pelaku merupakan tuntutan yang irasional. Untuk itu, pihaknya menggalang gerakan dengan menamai sebagai "NEW KPK" untuk menghalangi mata publik dibutakan oleh air keras kekuasaan.

Dari penangan kasus yang terkesan tidak adil ini, telah membuktikan bahwa rezim demokrasi telah nyata gagal dalam menegakkan keadilan. Menjadikan sistem yang seharusnya adil menjadi kerdil. Negara juga gagal pula dalam memberantas korupsi, karena pejuang kasus korupsi tengah dizalimi. Begitu pula, negara juga gagal dalam mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian masyarakat, karena satu perkara ini saja memunculkan pro kontra tak berujung.

Hal ini akan berbeda ketika Islam diterapkan untuk mengatasi kasus-kasus seperti yang kita bahas kali ini. Karena Islam memerintahkan kepada setiap manusia untuk berbuat adil atau menegakkan keadilan pada setiap tindakan dan amal perbuatan yang dilakukan. Seperti yang tercantum dalam QS: An-Nisaa(4): 58 yang artinya,

"Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah maha mendengar dan maha melihat."



YOUR REACTION?

Facebook Conversations