Oleh: Elis Sulistiyani
Muslimah Perindu Syurga

Sudahlah jatuh tertimpa tangga pula. Nampaknya istilah tersebut cocok tersemat untuk keadaan rakyat Indonesia.

Bagaimana tidak, masyarakat yang saat ini tengah tepuruk akibat dihempas badai pandemi COVID-19, harus menerima pil pahit jika bantuan yang sejatinya untuk mengurangi beban mereka malah dikentit elit pejabat.

Sejak pademi melanda pemerintah mengagendakan untuk menyalurkan bantuan sosial (bansos) guna meringankan beban masyarakat yang terdampak pandemi. Namun ternyata ada saja pejabat yang mengambil kesempatan ditengah kesempitan hidup rakyatnya.

Juliari Batubara, Herman Hery dan Ihsan Yunus adalah nama yang akan tercatat dalam sejarah kelam negeri ini sebagai orang yang tak punya hati. Mereka yang merupakan politisi PDI-Perjuangan tega menyunat jatah bantuan bagi rakyat yang terdampak pandemi. Selain itu petinggi PDIP juga disinyalir menerima aliran dana dari kasus penggelapan dana bansos ini. (Harianaceh.co.id,19/1/2021)

Kasus korupsi bansos hanyalah satu dari sekian banyak kasus korupsi yang melanda negeri ini. Hampir segala sektor rawan terindikasi korupsi. Karena memang sistem sekuler menjadi lahan basah yang menyuburkan para koruptor berkembang biak. Berbagai kasus korupsi yang terjadi nyatanya bukan hanya ulah oknum belaka, namun ini adalah buah busuk  penerapan sistem sekuler.

Arim Nasim, Pengamat Ekonomi UPI Bandung, menyadari bahwa korupsi yang terjadi saat ini memang sudah sistemik (evaluasi_kpk_2015-2019-icw_tii.pdf)

Berbagai jurus yang dikerahkan lembaga pemberantasan korupsi juga belum mampu untuk membabat habis korupsi negeri ini. Mereka juga tak cukup ampuh melumpuhkan 'pemain' kelas kakap. Mari kita tengok berbagai skandal besar yang belum juga terselesaikan. Seperti kasus bank Century, BLBI, E-KTP, dan lainnya yang sampai saat ini  kasusnya seolah tenggelam.

Korupsi hanyalah buah dari sistem sekuler yang terus dilestarikan. Jika memang ingin korupsi itu dihilangkan maka harus ditebang sistem yang melahirkanya. Karena sistem ini telah terbukti merusak manusia, alam semesta dan kehidupan. Sistem ini telah merangkai aturan guna merekrut pejabat negeri dengan modal yang selangit. Maka tak ayal hal ini juga dapat menyebabkan hasrat balik modal dilakukan dengan berbagai cara.

Berbagai kerusakan akibat  sistem sekuler hanya mampu diselesaikan oleh aturan shahih. Dan itu adalah sistem pemerintahan  Islam dibawah naungan negara Khilafah. Dalam Islam kasus korupsi seperti ini masuk dalam pembahasan tindakan kriminal dalam kategori mencuri.

Koruptor sendiri adalah sebutan yang terlalu sopan untuk mereka yang tega embat uang rayat. Sebut saja mereka pencuri, karena mereka telah mengambil hak orang lain.

Islam telah mempunyai aturan paripurna guna mengentaskan masalah ini. Dari segi individu Islam membentuk diri setiap muslim untuk memiliki kepribadian Islam. Dalam dirinya akan terbentuk pola pikir dan pola sikap yang sesuai aturan Islam.seoarang muslim akan memahami bahwa prilakunya akan diminta pertanggungjawaban kelak, dan ada malaikat yang senantiasa mencatat amalannya.

Selain itu dalam kehidupan bermasyarakat Islam membentuk masyarakat yang senantiasa mengingatkan kepada ketaatan. Tidak ada lagi kehidupan hedonis yang bisa menjadi salah satu sebab terjadinya korupsi.

Dan yang lebih utama untuk memberantas korupsi butuh peran negara yang memiliki wewenag untuk menerapkan dan menjalankan aturan yang mampu mengikat. Dalam Islam telah diatur bahwa mereka yang mengampu kekuasaan artinya mereka adalah orang yang diberikan amanah untuk mengurusi urusan rakyat. Cara pengangkatannyapun tidak berbelit apalagi dengan modal selangit. Cukup  memenuhi syarat yang sesuai hukum syara, adil takwa dan memiliki kememapuan untuk bisa mengurusi umat. Dan inilah yang akan menjadi self control saat mereka bertugas mengurus umat.

Selain itu aparatur negara dipenuhi kebutuhan primer,  sekunder dan juga tersiernya. Aparat negara ini juga akan di cek harta kekayaanya saat sebelum menjabat dan setelah menjabat. Seperti pernah dilakukan Khalifah Umar bin Khatthab pernah membuat kebijakan, agar kekayaan para pejabatnya dihitung, sebelum dan setelah menjabat. Jika ada selisih positif, setelah dikurangi gaji selama masa jabatannya, maka beliau tidak segan-segan untuk merampasnya. Beliau juga mengangkat pengawas khusus, yaitu Muhammad bin Maslamah, yang bertugas mengawasi kekayaan para pejabat.

Selain itu khilafah juga menetapkan hukuman yang keras, bisa dalam bentuk publikasi, stigmatisasi, peringatan, penyitaan harta, pengasingan, cambuk hingga hukuman mati. Inilah cara yang dilakukan oleh Islam untuk mencegah korupsi.

Demikianlah Islam hadir dengan solusi tuntas untuk memberantas kasus korupsi yang terjadi saat ini. Jika hanya menggunakan aturan hasil dari sistem sekuler maka solusinya hanya tambal sulam dan tak akan  berujung pada solusi tuntas.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations