Oleh: Muti Husnul Khotimah
Aktivis Muslimah

Problem remaja tak pernah berhenti, media terus saja mengabarkan kejadian-kejadian menyimpang seperti pergaulan bebas. Maraknya pergaulan bebas karena negara menerapkan paham sekuler, memisahkan agama dari kehidupan.

Belum lagi pemahaman liberalisme yang semakin mengakar kuat. Tak heran jika negeri ini membiarkan remaja melakukan aktivitas pacaran, khalwat, ikhtilat, situs porno yang bisa dinikmati siapapun, termasuk anak-anak. 

Belakangan ini, media dikejutkan seorang aktris yang membiarkan anaknya menonton film porno. Dikutip detik.com (Sabtu,19/06/2021)

Sang Ibu beranggapan bahwa kalau dirinya tak mau menjadi orang tua yg kolot dan ingin berpikiran terbuka. Sang ibu berpikir "Nggak mungkin kalau anak-anak nggak nonton film porno, mau yang jenis anime atau jenis apapun segala macem, akan ada. Dari pada nanti gimana-gimana, mending jadi temen saja gimana nontonnya misalnya, kayak gitu. Itu yang kayak gini-gini" Ujarnya

Dijelaskan, bahwa sang Ibu akan menemani anaknya ketika menonton film porno tersebut. Dengan dalih mendidik anak dan tidak mau menjadi orang tua yang kolot. Ya namanya pornografi itu salah ya, dan akan terus membekas di pikiran seseorang, apalagi anak-anak. 

Di sistem liberal kapitalis ini, banyak situs porno bermunculan di gadget. Karena telah masuknya pemahaman liberal kapitalis, yang menjadi masalah besar bagi para remaja. Bahkan bukan remaja saja yang terpapar pemikirannya, sang Ibu pun ternyata teracuni ideologi tersebut. Padahal, Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. 

Pornografi merusak pemikiran anak

Jelaslah bahwa pornografi merusak pemikiran anak. Seorang anak yang belum baligh sudah diperbolehkan melihat pornografi, dia belum paham benar dan bisa salah dalam bertindak. Jika orang tuanya mendidik seperti ini, alih-alih akan menciptakan kepribadian anak malah akan merusaknya. 

Budaya barat telah mengobok-ngobok pemikiran orang tua, seperti aktris tersebut. Ia mengizinkan anaknya menonton film porno, jelas ini salah dan sangat fatal. Seharusnya negara lebih preventif dalam situs porno. Negeri ini, sudah seperti drakor atau ala kebaratan yang banyak menampilkan adengan dewasa. 

Beginilah jadinya ketika negara tidak ikut andil dalam menjaga generasi penerus bangsa. Dikutip TribbunNews.com (Kamis, 9/7/2020) 37 pasangan anak di bawah umur melakukan pesta seks di sebuah Hotel kecamatan pasar Jambi. Pelakunya laki-laki berumur 15 Tahun dan wanita berumur 13 Tahun. 

Ini bukti bahwa negara telah gagal dalam membentuk dan menjaga generasi dari pergaulan bebas. Dan menunjukkan lemahnya peran negara, selama ini negara tidak memerankan perannya secara dominan. 

Peran Ibu mendidik anak dalam Islam 

Mendidik anak menjadi tugas yg wajib bagi orang tua. Karena anak  adalah titipan yang Allah berikan. Seorang anak akan menjadi generasi emas yang akan membawa perubahan. Ibu mempunyai peran utama dalam menata pendidikan anak, agar ia menjadi seorang yang terbaik dari orang tuanya. Mengajarkan kepada anaknya untuk mengetahui siapa penciptaNya dan siapa Nabinya serta bagaimana menaati aturan Allah. 

Ibu sejatinya adalah sekolah utama bagi putera-puterinya. 

Sesuai dengan sabda nabi "Al Ummu madrasatul ulaa; Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya" Ibulah yang membentuk karakter anak-anaknya. 

Karena anak berada dalam genggaman kekuasaan orang tua. Anak yang belum baligh, belum memiliki pikiran yang matang, dia tak tahu benar atau salah dalam melakukan sesuatu. Maka disini orang tua yang lebih intens dalam mendidik anak-anak. 

Anak adalah investasi orang tua kelak di akhirat, tabungan orang tua. Jika benar dalam mendidiknya, maka orang tua dapat memanennya dengan excited. Jika salah dalam mendidiknya, maka orang tua akan mendapatkan hasil memanen itu namun sia-sia. 

Ibu adalah pusat peradaban dan wadah yang menghimpun akhlak-akhlak mulia. Maka dari sinilah lahir anak-anak yang salih, cerdas, alim, berakhlak mulia, dan memiliki semangat jihad yang tinggi. 

Beginilah jika mendidik anak sesuai dengan aturan Islam, tanpa ada intervensi dari pengaruh sistem liberal kapitalis. Ini adalah gambaran nyata jika sistem Islam yang mengatur pendidikan anak, menciptakan usaha, dan tidak bergantung kepada korporat. Bukan yang didasari oleh kapitalis, yang ujung-ujungnya materialistik. 

Solusi dalam melindungi anak

Hanya Khilafah yang mampu menjaga generasi. Di sistem Islam, negara akan melarang mempertontonkan aurat, pacaran, LGBT, tabarruj, dan akan memblokir konten-konten porno, dalam pengawasan departemen penerapan di bawah kontrol khalifah. Jika ada yang melanggar maka akan diberikan sanksi (hukuman) yang sesuai dengan syari'at. 

Penjagaan ini akan perfect, sebab negara membangun sistem pendidikan yang sahih dengan kurikulum berbasis akidah Islam. Sehingga remaja akan teridukasi, hingga terbentuklah kepribadian individu yang bertakwa. 

Khalifah berkewajiban menyediakan sarana pendidikan, sistem pendidikan, dan menggaji para pendidiknya. Di sistem Islam, negara akan menerapkan pendidikan secara gratis untuk seluruh rakyat, karena negara wajib diredusir kepada rakyat. 

Islam juga mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan. Penerapan sistem Islam ini akan mencegah remaja untuk melakukan pergaulan bebas. Dilarang khalwat, dilarang ikhtilat, terkecuali dalam lima hal. Yaitu pendidikan, jual beli, silaturahmi, kesehatan, ibadah haji, dan umrah. Beda halnya dengan sekarang ini, pergaulan remaja yang sangat bebas, bebas dalam berperilaku tanpa mengingat dosa.

Tanpa adanya Khilafah generasi akan semakin di bawah, mengingat karena liberal dan kapitalis semakin menyongsong pemikiran remaja dan para ibu. Umat harus diselamatkan, khilafah lah yang harus segera ditegakkan.

Khilafah akan menerapkan semua hukum Islam dan qadi (hakim) yang adil. Hukum yang berdasarkan fiqh Islam, nash, bukan hukum buatan manusia sendiri.  

Wallahu A'lam Bisshawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations