Oleh: Rifka Fauziah Arman, A.Md. Farm.,

Baru saja beberapa hari yang lalu merayakan Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli 2022. Presiden mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga dan melindungi hak anak. Gubernur Jawa Timur juga mengajak untuk melindungi dan menjaga anak dari Bullying.

Namun pada faktanya kondisi anak-anak di Indonesia sangat miris. Banyak kasus pelecehan seksual terhadap anak, kekerasan dalam rumah tangga yang menjadikan anak sebagai salah satu korbannya, kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh guru maupun teman sekolah hingga anak-anak juga yang menjadi pelaku dalam segala kasus kriminal. 

Seperti kasus yang baru saja terjadi di Tasikmalaya dimana seorang bocah 11 tahun meninggal setelah di bullying dan disuruh menyetubuhi seekor kucing oleh temannya sendiri. Pelaku terdiri dari tiga anak yang sebaya dengan korban, pelaku juga merupakan teman bermain korban. Saat kejadian itu terjadi korban dan pelaku keesokan harinya bermain seperti biasa, tetapi ketika video mengenai kasus ini viral barulah para orangtua pelaku dan korban membicarakan masalah ini. Para orangtua korban dan pelaku memaklumi perbuatan anak-anaknya dan menjadikan ini sebagai kenakalan anak-anak belaka dengan teman sebayanya. (Kalbarterkini.com) 

Namun karena sudah viral menjadi sorotan berbagai macam kalangan mulai dari polisi hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) yang meminta untuk diselidiki lebih dalam. Apalagi viralnya video ini menjadi bukti adanya keterlibatan orang dewasa yang melakukan perekaman dan memviralkannya ke sosial media. KPAID juga sedang menangani para pelaku dan menetapkannya tiga orang anak sebagai pelaku perundungan ini. KPAID juga menangani korban yang mengalami depresi setelah kejadian ini dan sekarang meninggal dunia akibat sakit tifus. (Kalbarterkini.com) 

Mirisnya kondisi psikis dan lingkungan anak di Indonesia tak hanya tentang perundungan dan pelecehan seksual tapi juga tren yang terjadi saat ini. Tren SCBD (Sudirman, Citayam, Bojong Gede, Depok) dan Citayam Fashion Week menjadi salah satu bukti dari mirisnya kondisi anak-anak Indonesia saat ini. Dimana saat acara ini berlangsung anak-anak berbondong-bondong memakai pakaian mereka yang paling hits dan banyak dari mereka menyerupai perempuan, memperlihatkan aurat mereka dengan memakai pakaian-pakaian seksi, tabarruj berlebihan dan keluar sampai melewati jam malam mereka. Faktanya dalam tren ini hampir keseluruhan masih berumur 11-18 tahun yang masih tergolong usia SD, SMP maupun SMA. Memperkenalkan gaya hidup dan fashion LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transgender) sangat kencang di acara tersebut. 

Pemaparan fakta-fakta diatas menunjukkan lemahnya negera ini dalam mempersiapkan generasi penerus dengan baik. Anak-anak yang bertumbuh dalam kerasnya ekonomi, melihat orangtua mereka sulit mencari nafkah hingga membawa anak-anak ini menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, memaksa anak untuk ikut dalam mencari nafkah agar menjadi simpati bagi banyak orang, menjadikan anak sebagai beban dalam kehidupan, dan juga membentuk kepribadian anak-anak jauh dari agamanya sendiri. Anak-anak saat ini berpikir bahwa jika mereka viral dan mendapatkan uang yang banyak dari viralnya mereka menganggap bisa membantu ekonomi kedua orangtuanya. Masih banyak lagi sabab-musabab penyebab anak menjadi korban dari segala aspek. 

Mulai dari ekonomi, pendidikan agama yang dipangkas, sulitnya mendapatkan pendidikan terbaik, menjadikan harta sebagai pencapaian tertinggi, menjalani kehidupan “suka-suka” mereka, hingga perang psikologi dalam keluarga membentuk mental anak-anak saat ini ada yang menjadi korban dan ada yang menjadi pelaku kriminal dalam jenis apapun. 

Banyak sekali faktor yang menjadikan anak-anak seperti ini, mulai dari keluarga yang seharusnya menjadi pembentuk utama mental dan sikap anak sejak dini tapi kini semuanya diserahkan kepada asisten rumah tangga karena orangtua yang bekerja karena tekanan ekonomi. Kemudian pendidikan di sekolah yang mulai mengurangi nilai-nilai agama dalam setiap pelajaran. Lingkungan juga menjadi salah satu penyebabnya dimana saat anak-anak sudah dibentuk dari keluarga dan pendidikan yang baik tapi bisa hancur ketika lingkungan tidak mendukung.

Negara juga menjadi faktor utama dalam menetapkan aturan dan mempengaruhi faktor-faktor tadi. Negara yang seharusnya menyediakan dan membentuk ummatnya sejak dini sampai dewasa. Tapi pada faktanya negara hanya memberikan peringatan tanpa solusi, membuat pasal-pasal karet yang tidak membuat jera pelaku dalam kasus kriminal maupun dalam membentuk visi misi pembentukan jati diri anak-anak di Indonesia. Negara juga menentukan aturan untuk mengurangi pendidikan agama di sekolah-sekolah dan mengenyampingkan nilai-nilai agama diberbagai macam pelajaran. 

Jauhnya agama dari kehidupan anak-anak dan negara menjadi penyebab hancurnya jati diri dan kondisi anak-anak saat ini. Sekulerisme yang menjalar dalam setiap aspek kehidupan anak-anak bahkan mempengaruhi mereka dalam lingkungan. Sekulerisme juga menjalar dalam pendidikan di sekolah dan mempengaruhi para orangtua juga. Kesalahan ini akan terus terulang jika negara masih menjauhkan agama dari kehidupan dan menilai agama sebagai penghalang. Padahal agama islam adalah solusi segala permasalahan yang ada di dunia ini termasuk solusi dalam kasus anak-anak. 

Negara yang berasaskan islam akan menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai petunjuk. Islam membentuk setiap ummat agar bersakhsiyah islam (kepribadian islam) dengan menanamkan aqidah dan memahamkan dalam hatinya hingga dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Aqidah menjadi dasar dalam pembentukan pola pikir dan pola sikap seseorang. Aqidah islam akan ditanamkan dalam pendidikan dan juga negara. Sehingga tidak ada lagi kasus-kasus yang mengorbankan banyak anak-anak, tidak ada lagi penyimpangan dalam pergaulan maupun seksualitas yang didemokan seperti saat ini. Mari kita selamatkan anak-anak dan seluruh ummat dengan islam.

Wallahu’alam bisshawwaab 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations