Oleh: Erna Ummu Azizah

Seorang ayah yang telah renta (85 tahun), berkemeja putih dengan masker merah, dibopong beberapa orang menuju meja sidang di Bandung.

Dialah ayah yang digugat putra kandungnya hanya karena masalah rumah. Entah apa yang telah merasuk dalam pikiran Sang anak, hingga tega memperlakukan ayahnya sedemikian rupa.

Diketahui Sang anak tidak terima keputusan ayahnya yang hendak menjual sebagian rumah yang telah disewanya sejak tahun 2012. Rumah tersebut adalah milik ayahnya. Namun di tahun 2020, Sang ayah berencana menjual tanah karena kebutuhan biaya. Akhirnya sewa menyewa dibatalkan dan dikembalikan. Konflik pun terjadi, Sang ayah ditekan. (Detiknews, 19/01/2021)

Sang anak yang tak terima akhirnya nekat mengajukan gugatan secara perdata ke PN Bandung. Dalam gugatannya, dia meminta uang Rp 3 miliar. Dan mirisnya lagi, Sang anak menggunakan kuasa hukum yang tak lain adalah saudara kandungnya sendiri. Terbayang, dua anak menggugat ayah kandung demi uang. Astaghfirullahal 'adzim.

Kasus ini telah mengetuk hati puluhan kuasa hukum untuk membela secara sukarela tanpa memungut biaya. Mereka menilai kasus ini sangat memprihatinkan dan sudah bergeser dari norma moral, apalagi antar anak dan orang tua.

Emosi siapa yang tak tergugah melihat kasus seperti ini. Wajar jika banyak kuasa hukum berbondong-bondong ingin membela, sampai mereka mengatakan "Siapapun yang melawan orang tua karena alasan uang, akan kami lawan." Masya Allah..

Memang benar, perjuangan orang tua itu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun. Maka jika ada anak tega menyakiti, sungguh itu adalah kedurhakaan yang nyata. Namun sayang, di sistem saat ini kasus tersebut bukanlah yang terakhir. Kasus ini justru hanya menambah deret panjang perseteruan anak dan orang tua yang berujung pidana.

Tentu kita masih ingat, kasus anak di Demak yang tega memenjarakan ibu kandungnya hanya karena masalah baju. Juga anak di Lombok yang tega menjebloskan ibu kandungnya yang telah renta ke dalam penjara hanya karena motornya dipakai saudara.

Sungguh miris menyaksikan kondisi seperti ini terus terjadi. Tak dipungkiri, sistem sekulerisme kapitalisme yang diterapkan di negeri ini telah menjadi biang keladi rusaknya generasi. Semua hubungan dinilai berdasarkan materi, tak terkecuali hubungan antar anggota keluarga, juga anak dan orangtua. Bakti dan rasa hormat seakan lenyap demi dunia yang sesaat.

Begitu pun nilai akhlak dan moral, tergerus oleh nilai liberal. Membuat manusia cenderung berbuat sesuka hati tak peduli halal haram apalagi dosa dan siksa. Inilah buah penerapan sistem yang rusak dan merusak buatan akal manusia. Harus menunggu sampai berapa kasus lagi agar kita sadar dan mau meninggalkan sistem bobrok seperti ini?

Padahal Allah SWT, Sang Pencipta dan Pengatur manusia telah menyiapkan seperangkat aturan yang sempurna dan paripurna untuk kebaikan manusia, itulah sistem Islam. Aturan di dalamnya mencakup semua aspek kehidupan. Mulai dari masalah akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, pendidikan, kesehatan, peradilan, juga pemerintahan.

Semuanya begitu lengkap, dan jika diterapkan akan menghadirkan kebaikan dan keberkahan. Sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur'an:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَاعَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْبِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A’raf: 96)

Namun sayang, saat ini aturan-Nya diabaikan. Maka jangan heran jika berbagai musibah dan kesempitan menghampiri negeri tercinta ini. Wafatnya ulama, musibah kecelakaan, banyaknya bencana alam, juga kasus-kasus yang menyesakkan perlu menjadi ajang renungan. Sudah saatnya kita campakkan sistem sekulerisme kapitalisme dan segera kembali ke sistem Islam. 

Wallahua'lam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations