Oleh : Erlina YD
Pegiat Literasi Islam

Beberapa waktu lalu rame pemberitaan di media sosial ada foto seorang PNS laki-laki mengenakan seragam Korpri dengan model yang sedikit berbeda. Dalam foto tersebut nampak seragam Korpri atasan dibuat memanjang hingga lutut menyerupai gamis panjang yang biasa dipakai oleh laki-laki. Bak kebakaran jenggot, semua pihak terkait langsung bereaksi.

Ketua Umum Korps Pegawai Republik Indonesia ( KORPRI) Zudan Arif Fakhrulloh Zudan mengatakan pihaknya saat ini tengah mencari sumber foto tersebut. Sebab pada dasarnya aturan berseragam bagi para PNS sudah ditentukan dalam Undang-Undang. Untuk jenis pakaian batik Korpri, kebijakan tersebut sudah diatur dalam Permendagri RI Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah.

Ada sekilas info yang mengatakan jika itu adalah foto editan. Namun hingga tulisan ini dibuat, belum ada informasi lebih lanjut apakah sudah ditemukan siapa yang ada dalam foto tersebut dan berdinas di mana.

Penulis kembali teringat beberapa tahun lalu juga pernah sedikit membuat 'kehebohan' dengan membuat seragam yang berbeda dari model yang sudah ditentukan.

Sekira awal tahun 2000-an, penulis menghadiri sebuah pertemuan semi formal dengan menggunakan seragam yang sudah dibuat model gamis muslimah. Seragam tesebut adalah seragam wajib untuk mengikuti pertemuan tersebut. Dengan penuh keyakinan dan keberanian walau agak deg-degan tetap percaya diri untuk hadir walau siap dengan resiko yang akan didapat.

Benar saja, menjelang pertemuan berakhir, ibu ketua pertemuan langsung menegur dengan keras di forum atas model pakaian yang saya kenakan. Ibu ketua mengingatkan agar mengembalikan model seragam mengikuti yang sudah ditentukan. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya saat itu. Tapi tetap yakin saja dengan perintah Allah ini dan tidak sedikitpun membuat saya berfikir untuk mengikuti model yang ada.

Menengok ke belakang lebih jauh lagi sekira tahuan 90an, penulis pun pernah mendapat teguran di depan forum karena jilbab yang melekat sejak awal. Ketika itu akan melakukan sebuah praktikum dan pengambilan data dihutan Gunung Papandayan. Tidak perlu heran kenapa harus sampai hutan dan gunung, karena memang penulis kuliah di Fakultas Kehutanan. Guru pembimbing lapangan menegur agar segera mengganti dengan pakaian lapangan. Pakaian lapangan yang dimaksud adalah celana lapang untuk naik gunung dengan model banyak saku. Alhamdulillah pengambilan data dan naik gunung sukses dilakukan dengan tetap pakaian syar'i yang selalu melekat di tubuh saat keluar rumah.

Seiring berjalannya waktu dan juga perlu seragam baru, maka seragam baru tetap dengan model gamis yang sudah sedikit dimodifikasi.

'Surat Keputusan (SK) model pakaian ini langsung dari Allah sehingga sampai kapanpun akan berpatokan dengan SK ini. SK yang tercantum jelas dalam QS An Nur ayat 31 dan al Ahzab ayat 59 serta beberapa hadits Rasulullah tentu merupakan  SK tertinggi yang harus diikuti.

Jika saat itu sudah ada narasi radikal, bisa jadi saya langsung dicao radikal pada saat itu. Narasi yang memojokkan kaum muslimin yang kini terus dimasivkan bahkan secara formal melalui Kementrian Agama. Beberapa mata pelajaran dihilangkan pembahasan khususnya bab Khilafah dan Jihad yang sudah resmi diberlakukan tahun ajaran 2020/2021.

Belum lama paska penghilangan bab yang dianggap radikal, kini muncul lontaran baru dari Menteri Agama Fachrul Razy. Pak Menag menyatakan bahwa radikalisme menyusupi instansi lewat orang berwajah rupawan alias good looking, pandai bahasa Arab, dan hafal Al Quran. Sungguh menyesakkan dan menyakitkan tuduhan tak berdasar tersebut.

Sejak awal beliau menjabat menjadi menteri agama yang dibahas tidak jauh dari radikalisme yang terus disematkan kepada kaum Muslim khususnya di Indonesia.

Sebagai seorang muslim mana sepatutnya kita yakin dengan seluruh aturan Islam yang ada di dalam al quran dan ash shunnah (hadits Nabi). Tak perlu ada keraguan untuk mengambil ajaran secara total. Ketika ada ajaran Islam yang tidak sesuai dengan kondisi saat ini, maka bukan ajaran islamnya yang diubah. Ubahlah fakta dan keadaan yang ada agar sesuai ajaran Islam.

Kita juga punya kewajiban untuk melakukan dakwah amar ma'ruf nahi munkar untuk memahamkan umat. Dakwah akan menjadikan umat cinta terhadap ajaran agamanya dan bangkit ketika Islam dihinakan. Umat Islam pun akan bangkit menjadi umat terbaik di antara manusia.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِوَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِلَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 110)

YOUR REACTION?

Facebook Conversations