Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Presiden Jokowi mengaku selalu memantau laporan data perekonomian dunia dan juga Indonesia yang terus mengalami penurunan akibat pandemik covid-19.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara peluncuran program pemulihan ekonomi nasional di Istana Negara, Jakarta Pusat. Jokowi mengatakan bahwa sarapan yang dihadapi setiap pagi adalah angka-angka. Jokowi juga menegaskan bahwa semua data yang diperoleh dari berbagai lembaga perekonomian dunia menunjukkan penurunan hingga ancaman krisis.

Atas dasar data yang diungkapkan tersebut, Presiden mendesak jajarannya agar bekerja lebih cepat dalam memulihkan perekonomian. Sebab untuk Indonesia sendiri akan terperosok lebih dalam pada kuartal ketiga seperti Negara-negara lain.  Managing Director IMF mengatakan bahwa ekonomi global akan mengalami penurunan 2,5% dari sebelumnya berada dikisaran 3,5%. Beberapa Negara yang tengah mengalami kemerosotan dalam seperti Prancis, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Malaysia. (idtoday.co.23/07/2020)

Sebagai seorang pemimpin tertinggi Negara, Presiden Jokowi harusnya terbiasa menghadapi kondisi negeri setiap saat. Bahkan sampai sarapan angka sekalipun. Bukanlah hal yang aneh atau harus dicurhatkan kepada publik tentang tugas seorang pemimpin. Sebab, menjadi pemimpin adalah bicara pilihan dan kesiapan. Jika merasa berat dengan urusan negeri, kenapa memilih jadi pemimpin? Persolan hasil laporan para menteri setiap hari adalah bukti tertulis kinerja mereka. Presiden wajib mengetahuinya. 

Meskipun Presiden mengatakan setiap hari sarapan angka-angka dari hasil laporan menterinya, apakah hal itu memberikan dampak positif bagi perubahan negeri? Jika benar setiap hari, artinya Presiden telah mengetahui kondisi negeri dan sedang berfikir keras untuk bertindak ke depannya.

Pertanyaan tersebut memang tidak mungkin dapat dijawab kilat. Butuh pendekatan analisis agar tidak menimbulkan salah paham terkait pengaruh laporan kinerja dan perubahan keadaan. Oleh karena itu, berikut beberapa poin pendekatan analisis yang bisa membantu memberikan  jawaban pertanyaan tersebut.

Pertama, adalah suatu kewajiban jikaseorang kepala negara  mengetahu keadaan negerinya. Adanya laporan data berupa angka-angka terkadang memang sangat diperlukan dalam perhitungan presentase kinerja tertentu. Tetapi tidak semua kinerja butuh laporan angka semata tanpa ada tindak balas perbuatan yang solutif. Sebab, perkara laporan data sebagai adiministrasi mudah saja dibuat bahkan bisa direkayasa.

Apalagi dalam sistem kapitalis saat ini yang hampir semua dihitung dengan angka-angka tetapi dengan rasio yang tidak jarang sangat jauh dari kenyataan di lapangan. Hanya karena memburu  laporan, angka-angka mudah saja diciptakan sesuai yang dibutuhkan.

Kedua, jika Presiden Jokowi bicara angka penurunan ekonomi atau krisis global dimasa pandemic sedang meningkat tajam, hal tersebut adalah benar. Sebab, banyak negara yang harus melakukan lockdown maupun pembatasan sosial sehingga berdampak pada merosotnya aktifitas ekonomi. Dampak kemerosotan ekonomi global bukan sebab wabah sebenarnya. Tetapi lebih kepada kesalahan menanagani pandemik yang mayoritas negara-negara di dunia tidak siap menghadapinya. Sehingga gegabah dan mengakibatkan keguncangan ekonomi.

Ketiga, pandemik hanya jadi alasan dalam menutupi kegagalan kinerja pemimpin Negara-negara kapitalis termasuk Indonesia. Tanpa ada pandemik pun sebenarrnya, krisis global sudah melanda dunia. Pandemik hanya menunjukkan kondisi kebobrokan kapitalis yang selama ini ditutup-tutupi. Amerika sebagai induk semang dari Kapitalisme saat ini sedang terguncang kemerosotan ekonomi jelas akan memberikan efek kepada seluruh Negara yang menjalin kerjasama dengannya. Begitu juga dengan Negara-negara Eropa.

Pada dasarnya, kemerosotan ekonomi di dunia khususnya Indonesia berimbas dari penerapan ideologi kapitalis yang berbuah krisis bahkan resesi. Sistem ekonomi kapitalis tidak akan lepas dari kondisi krisis karena praktik-praktik kegiatan ekonomi yang tidak lepas dari ribawi, kecurangan, monopoli, dan imprealisme. Negara pemodal akan terus merasa berkuasa, mendikte, dan menjajah negara-negara kecil apalagi yang telah terikat banyak perjanjian ekonomi dan politik.

Kesimpulannya adalah, sarapan angka Jokowi hanyalah sebagai simbol rutinitas Presiden semata di istana. Dan tentunya tidak memberikan dampak untuk perubahan negeri yang lebih baik. Karena keduanya tidak memiliki hubungan secara langsung.

Sebab, jika sarapan angka-angka itu berpengaruh untuk kebaikan negeri ini, tentu TKA asing akan stop masuk bahkan langsung dideportase. Investor asing juga seharusnya ditendang dan seluruh aset negara di nasionalisasi untuk menyelamatkan negeri dari angka-angka kemerosotan yang menyeramkan tersebut.

Namun, semua itu hanya akan terwujud jika penguasa dan rakyat mau mengadopsi sistem ekonomi Islam dengan menerapkan syariat secara kaffah. Barulah sarapan angka-angka akan memberikan dampak positif bagi seorang pemimpin yang amanah. Fungsi laporan sejatinya adalah bukti kinerja yang akan mempengaruhi langkah seorang pemimpin dalam menyelesaikan masalah- masalah negeri yang tertulis dalam laporan-laporan tersebut. Sebab dalam ajaran Islam, seorang pemimpin akan selalu berfikir cerdas, sepat dan cemerlang serta memaksimalkan potensinya untuk mengurusi urusan rakyatnya. 

Wallahu a’lam bissawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations