Oleh : Riana Magasing M.Pd
Pendidik dan Pengamat Sosial

Angka perceraian beberapa bulan terakhir ini terbilang sangat tinggi. Terlebih lagi selama pandemi Covid-19, total perceraian di seluruh wilayah Indonesia mengalami peningkatan. Faktor ekonomi yang membelit keluarga menjadi salah satu penyebabnya.

Bahkan Pengadilan Agama Soreang Kabupaten Bandung pasangan suami-istri yang akan  mengikuti persidangan perceraian mengantri panjang disebabkan ruang sidang terbatas, sementara jumlah orang yang ajukan gugata ncerai cukup tinggi.

Panitera Pengadilan Agama Soreang Ahmad Sadikin yang kemudian dikonfirmasi Republika membenarkan antrean tersebut Ahmad mengungkapkan, per harinya sidang gugatan perceraian diPengadilan Agama Soreang bisa mencapai 250 kasus, 75 yang mendaftar serta 90 orang yang mengambil produk gugatan.

Terkait alasan banyaknya gugatan perceraian, ia mengungkapkan masyarakat menggugat karena berbagai faktor salah satu terkait permasalahan ekonomi. "Sampai hari ini perkara masuk di Pengadilan Agama Soreang  5.262 perkara contentius dan 463 voluntair. Jumlah 5.825," katanya. Republika.co.id (26/82020).

Dimuat pada laman detik.media (3/72020)Pengadilan Agama Kota Tanjungpinang  juga mencatat ada sekitar 400 kasus perceraian suami istri yang ada diTanjungpinang, sepanjang setengah tahun 2020 ini. Ketua Pengadilan Agama Tanjungpinang, M. Yusar menyampaikan untuk dua bulan pertama di Tahun 2020, ada sebanyak 250 kasus. Namun, dibulan Maret hingga Juni hanya 150 kasus. Dia menyebutkan dalam sehari ada 10 hingga 20 pasangan yang ingin bercerai, dan sepanjang bulan Juli ini ada sekitar 30 kasus perceraian.

Untuk menekan lajunya tingkat perceraian pengadilan agama Kota Tanjungpinang mengharapkan pasangan calon pengantin mengikuti sertifikasi nikah agar kasus perceraian tidak mengalami peningkatan. Tujuan sertifikasi itu agar calon pengantin yang akan menikah sudah siap, baik secara fisik maupun psikis pernikahan yang akan mereka jalankan,” kata Yusar,

Kondisi perekonomian Indonesia yang semakin memburuk gelombang pemutusan hubungan kerja yang signifikan. Terjadinya PHK tenaga kerja dan penurunan pendapatan tersebut berpengaruh pada kehidupan berkeluarga selama pandemi covid-19, faktor ini menjadi alasan terbesar seorang istri menggugat cerai pasangan hidup mereka.

Untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Dalam konteks keluarga, tak sedikit yang mengalami disharmoni akibat himpitan ekonomi dan krisis, termasuk pandemi saat ini, hingga keluarga tak bisa lagi diharapkan menjadi benteng perlindungan dan tempat kembali yang paling diidamkan.

Pernikahan dalam Islam  adalah sesuatu yang bernilai ibadah kepada Allah. Seorang suami akan menjalankan fungsi dan tugasnya dengan baik demikian pula seorang istri akan menjalankan kewajiban dan menuntut hak dengan baik. Sehingga  terwujudnya rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Karenanya setiap keluarga muslim yang hidup di dalam sistem Islam akan berupaya maksimal untuk mempertahankan pernikahannya. Karena pernikahan bukan hanya berkaitan dengan dua orang yang menikah saja, akan tetapi berkaitan dengan kualitas generasi mendatang. Jika saja seluruh hukum-hukum Islam diterapkan muka bumi ini, tentu saja kasus perceraian yang terus meningkat di negeri-negeri muslim tidak akan pernah terjadi.

Karena Allah telah menjadikan pernikahan sebagai tempat ketenangan bagi pasangan suami istri, sebagaimana firman-Nya dalam QS Ar-Rum: 21 yang artinya:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kau cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikannya di antaramu kecintaan dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Untuk itu, menjadi kewajiban bagi kita untuk melanggengkan sebuah ikatan pernikahan dan kehidupan keluarga yang selalu terikat dengan hukum Allah SWT. Keluarga muslim, termasuk para istri/ ibu harus kembali berfungsi sebagai benteng umat yang kukuh, yang siap melahirkan generasi terbaik dan  bertakwa.  

Wallahu a’lambishawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations