Oleh: Muthiah Raihana
Pembina Komunitas Tanpa Pacaran

Rasanya baru saja Idul Fitri berlalu tanpa sanak family, tersebab adanya wabah Covid-19. Kini, Hari Raya Idul Adha 1441 H juga dirayakan umat Islam di dunia dalam kondisi pandemi.

Ironi, Pandemi yang terjadi belum bisa terkendali. Korban yang terinveksi masih juga tinggi.

Di Indonesia saat ini, telah terkonfirmasi sudah melewati angka 100.000 kasus dengan angka kematian menyentuh 50000 jiwa. Kasus di Indonesia ini melebihi kasus di Wuhan, Cina dearah asal pandemi.

Bukan hanya korban yang terus bertambah tiap harinya diseluruh dunia. Pandemi ini juga menghasilkan banyak krisis ikutan di sektor kesehatan, seperti meningkatnya kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan (Alat pelidung diri(ADP), ketersediaan test covid, kebutuhan vaksin dan sebagainya.

Sektor ekonomi tak ketinggalan, angka kemiskinan terus meningkat. Diprediksi Indonesia akan mengalami resesi yang cukup dalam, yaitu pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III-2020 minus 1,3 persen sampai minus 1,5 persen (Liputan6.com).

Di bidang Sosial, terus mengalami kelesuan. Sengkarut Pendidikan yang terus terjadi, yang mengakibatkan meningkatnya putus sekolah anak, yang sebelumnya sudah tinggi mencapai 4.586.332 anak (kompasiana.com). Mahalnya UKT terus memberat mahasiswa dan lain sebagainya. Carut marut ini pun berdampak pada lemahnya ketahanan keluarga dan kerusakan generasi.

Antisipasi penanganan dan strategi mengurangi dampak buruk telah diupayakan melalui agenda New Normal. Narasi untuk tetap terus mematuhi protokol kesehatan juga terus digalakan. Akan  tetapi tidak mampu menjadi solusi . Karena tetap berkubang pada sistem buatan manusia yang lemah dan terbatas. Sistem demokrasi sekuler, kapitalis liberal yang mencampakkan aturan Ilahi.

Di tengah nestapa dan derita bangsa ini akibat pandemi yang juga belum berakhir, maka momentum Idul Adha ini merupakan ajang perenungan untuk negri, sudahkan kita mampu mengikuti kalam Ilahi, atau malah mencampakkan syariat yang diturunkan sebagai solusi.

Sebagaimana kita dapat merefleksikan Idul Adha 1441H, setidaknya ada tiga hal yang tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan Idul Adha ini. Yaitu ibadah haji, shalat Idul Adha, dan penyembelihan hewan qurban. Ketiganya adalah simbol ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Mari kita renungkan nasihat Baginda Nabi saw. Pada saat Haji Wada. Kutbah yang juga diserukan  di Hari Arafah, Hari Idul Adha juga Hari Tasyriq.

“Wahai manusia, sungguh darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian, seperti sucinya hari ini, juga bulan ini, sampai datang masanya kalian menghadap Tuhan, Saat itu kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian…”

“Ingatlah baik-baik, janganlah kalian sekali-kali kembali pada kekafiran atau kesesatan sepeninggalku sehingga menjadikan kalian saling berkelahi satu sama lain. Ingatlah baik-baik, hendaklah orang yang hadir pada saat ini menyampaikan nasihat ini kepada yang tidak tidak hadir. Boleh jadi sebagian dari mereka yang mendengar dari mulut orang kedua lebih dapat memahami daripada orang yang mendengarnya secara langsung…” (HR al-Bukhari dan Muslim).

“Wahai manusia, sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang menjadikan kalian tidak akan tersesat selama-lama jika kalian berpegang teguh pada keduanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya…”(HR Ibnu Khuzaimah).

Dari kutbah tersebut, kita diingatkan bahwa  menjadi kebutuhan mendesak bagi umat untuk  kembali pada sistem Ilahi dengan tegaknya seluruh syariat sebagai solusi termasuk di masa pandemi.

Juga mari kita mengingat, kisah Nabiyullah Ibrahim as. Didalam QS al-Shafat [37] ayat 102, Allah SWT mengisahkan bagaimana Ibrahim as., dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan, menunaikan perintahTuhannya untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail as. Demikianlah, kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Sehingga Prasyarat yang ada, adalah adanya ketaatan sempurna dan kesiapan berkorban meninggalkan seluruh orientasi individual dan materialistik menuju keinginan meraih Ridla Ilahi Rabbi.

Refleksi Idul Adha 1441H :  kebutuhan untuk mendapatkan solusi atas krisis akibat pandemic dan semestinya menguatkan kesadaran seluruh komponen umat untuk taat sempurna pada seluruh aturan Sang Pengatur Allah swt dan menguatkan tekad untuk berkorban seluruh daya upaya untuk menegakkan aturan Allah dalam kehidupan.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations