Oleh: Ummu Zhafran
Pegiat Literasi

Patut diapresiasi terbitnya panduan penyiaran selama Ramadan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Panduan tersebut mewajibkan penyiaran menghormati nilai agama kesopanan dan kesusilaan demi menghormati nilai bulan Ramadan.

Siaran televisipun dilarang menyiarkan adegan berpelukan hingga yang mengandung unsur lesbian, gay, biseksual, dan transgender berdasarkan surat Edaran KPI 2/2021.

Dalam surat tersebut, setidaknya terdapat 14 poin protokol penyiaran selama Ramadan. Antara lain: tidak melakukan adegan berpelukan atau bermesraan dengan lawan jenis pada seluruh program acara, baik disiarkan langsung maupun rekaman; dilarang menampilkan gerakan tubuh yang berasosiasi erotis, sensual, dan/atau cabul.

Menarik, poin-poin aturan yang diterbitkan KPI tentu sangat dibutuhkan umat untuk menjaga dan menghindarkan diri dari segala kemaksiatan. Namun sangat disayangkan mengapa semua aturan tersebut berlaku selama Ramadan saja.

Tak salah bila terkesan penjagaan terhadap masyarakat seolah hanya terjadi setiap Ramadan. Setelahnya, nyaris bahkan selalu kembali ke semula. Kental dengan aroma sekularisme- kapitalis.

Padahal umat sejak awal memahami bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini kaum Muslim didorong untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Pahala pun dilipatgandakan. Tentu ketaatan yang dituntut Allah SWT kepada kita bukan sebagian-sebagian (parsial), tetapi ketaatan total. Dengan menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi seluruh larangan Allah SWT. Itulah takwa.

Terdapat empat ciri takwa menurut Imam Ali bin Abi Thalib ra., takut kepada Allah azza wajalla, beramal semata dengan apa yang diwahyukan Allah, qonaah, dan selalu bersiap menyongsong hari akhir. Maka jika seorang muslim melaksanakan puasa dengan benar, bertingkah laku sesuai tuntunan Alquran dan Sunnah, serta ikhlas semata mengharap Ridha Allah, tentu takwa akan dapat diraih.  Kelak, balasan kebaikan pun menanti di hari kemudian.

Firman Allahswt.,

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97)

Hanya saja, sekularisme yang mencengkeram negeri tak pelak menggiring Ramadhan bak kembang semusim. Memesona saat mekar, ditinggalkan ketika layu. Apa yang kerap ditunjukkan media elektronik, salah satu contohnya. Berlomba menayangkan program religi Ramadhan demi meraup fulus dari para sponsor. Setelahnya musim berganti, dagangan pun berubah menyesuaikan kehendak pasar. Sampai di sini tampak hisab dan pintu surga dipandang seolah hanya berlaku saat Ramadhan. Padahal tidak. Sekali-kali tidak. 

Tak terbantahkan kiranya agar dapat menjalankan ketaatan total di sepanjang waktu, mutlak dibutuhkan peran negara. Kehadiran penguasa yang menjalankan amanahnya sebagai pihak yang mengurusi kemaslahatan rakyat tentu dinantikan. Termasuk kemaslahatan diantaranya adalah penjagaan terhadap akidah, ibadah dan muamalah.   

Begitulah, untuk bisa menerapkan seluruh syariah secara kaffah dibutuhkan Khilafah Rasyidah ‘ala minhâj an-nubuwwah.  Hal yang merupakan warisan Rasulullah saw. kepada khulafaurrasyidin serta para khalifah setelahnya.

Imam Ghazali dalam Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd menegaskan hal tersebut,

“Maka dari itu kewajiban adanya Imam (Khalifah) termasuk hal-hal yang penting dalam syariah yang tak ada jalan untuk ditinggalkan.”

Alhasil, saatnya bagi kita sebagai umat Islam untuk memperjuangkan Islam agar tegak di muka bumi. Istiqomah meneladani jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah saw. dan para sahabat dengan tanpa kekerasan apalagi dalam bentuk teror. Wajar mengingat ada larangan menghunus pedang dalam maksud senda gurau kepada sesama muslim. Maka segala bentuk teror mutlak terlarang dalam Islam.

Dari Abdullah Ibn Umar ra. dari Nabi saw. bersabda,

“Barang siapa yang menghunuskan kepada kami, maka bukan golongan kami.” (HR. Imam Bukhari)

Semoga tak lama lagi seluruh komponen umat menyadari dan bergerak bersama untuk mengembalikan kehidupan Islam. Agar tak hanya selama Ramadan umat Islam terjaga dari kemaksiatan, tetapi hingga akhir masa.  

Wallaahu a’lam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations