Oleh : Marita Handayani
Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah Islam Kaffah

Kebijakan pemerintah yang melarang mudik diakui akan menekan tingkat konsumsi masyarakat. Pelaku usaha di daerah dan kegiatan pariwisata diprediksi akan paling banyak mengalami dampak negatif akibat kebijakan tersebut.

Kalangan dunia usaha berharap pencairan bantuan sosial (Bansos) yang dijanjikan pemerintah pada masa lebaran 2021/ Idul Fitri 1442 H akan mampu mendongkrak konsumsi dan permintaan pasar sehingga bisa tetap mendorong pemulihan ekonomi, dikutip dari deskjabar.pikiran-rakyat.com, Sabtu (27/3/2021). 

"Dengan kebijakan pencairan bansos, kami rasa ada peluang demand domestik bisa didongkrak lebih tinggi. Ini berdasarkan pengamatan kami di tahun lalu di mana pencairan bansos yang gencar di kuartal III 2020 sangat signifikan meningkatkan demand pasar domestik di periode tersebut dan efek positifnya juga tercermin pada perbaikan tingkat pertumbuhan penjualan ritel. Kami harap hal yg sama bisa terjadi juga tahun ini," kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, Sabtu 27 Maret 2021.

Desas desus larangan mudik lebaran 2021 terus merebak. Padahal sudah satu tahun pandemi covid-19 bertengger di dunia khususnya di Indonesia. Tapi masih belum ada solusi pasti dari pemerintah. Pelarangan mudik menjadi kebijakan basa basi untuk menurunkan pandemi apa di rasa efektif?. 

Perlu kita ketahui bahwa dampak dari pelarangan mudik lebaran nanti akan berimbas pada ekonomi dan sosial. Pelarangan mudik oleh pemerintah akan memeperkeruh suasana di tengah masyarakat. Betapa tidak? Dampak ekonomi akan semakin memanas di tengah pelarangan mudik nanti. Terbayang sudah jika penurunan konsumsi dan penurunan permintaan pasar semua akan menjadi ruwet dari hulu sampai ke hilir rakyatnya.

Bercermin dari kebijakan yang semakin semrawut ini kita sebagai masyarakat sudah sepatutnya berpikir bahwa pemerintah kali ini memang mengayomi rakyatnya dengan setengah hati. Karakter rezim kapitalis memang seperti itu. Jika dirasa menguntungkan untuk kalangan mereka kebijakan nyelenehpun dibuatnya. Tapi memikirkan rakyat kalangan menengah bawah pasti dinomor sekiankan. 

Rakyat hanya butuh kebijakan yang utuh yang benar-benar menjadi pijakan penuntasan pandemi. Agar di dalam masyarakat tidak ada kebingungan dalam pelaksanaan peraturan. Islam datang di tengah masyarakat untuk menyingkirkan kebingungan ini. Seperti Rasulullah saw yang hadir di tengah-tengah masyarakat Mekah yang jahiliyah. Menerapkan satu persatu peraturan tanpa tapi dan itu sudah konsekuensi.

Kini yang kita nanti adalah peraturan Islam yang utuh di bawah naungan Khilafah. Aturan yang akan dilaksanakan menurut Al Qur'an dan As-sunnah tak usah diragukan lagi. Seperti halnya di zaman Rasulullah saw dan para sahabat semuanya menaati apa yang ada di dalam Al Qur'an. Tidak seperti kapitalis yang aturan nya dibuat pusing tujuh keliling.

Wallahu'alam bishawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations