Oleh: Rizka Dara Afifah

Beberapa hari lagi kita akan berpisah dengan bulan nan penuh berkah ini, yakni bulan Ramadan 1442 H. Kemudian kita akan menyambut dan mempersiapkan hari kemenangan, Idul Fitri.

Hal ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu sebagai bentuk hadiah setelah sudah sebulan penuh kita berpuasa, menahan haus lapar dan hawa nafsu selama ini. 

Menyambut Sepuluh Hari Terakhir 

Bukan parcel, bukan mudik, bukan pula baju baru yang mesti dipersiapkan. Esok semoga Allah Swt. memperkenankan keluarga mukmin sampai pada sepertiga akhir bulan Ramadan tahun ini dan mempertemukan mereka dengan malam Lailatulqadar. Aamiin

Namun di hari-hari terakhir ini yang seharusnya bisa kita maksimalkan dengan mendekat kepada-Nya untuk mendapatkan lailatul qadar justru kita disibukkan dengan berbelanja dan berburu baju lebaran tahun ini, terutama bagi para ibu-ibu yang biasanya disibukkan dengan berbelanja kebutuhan baju lebaran, kue-kue dan bersih-bersih rumah. 

Terdapat fakta yang mengejutkan setiap tahunnya telah membludaknya kerumunan ibu-ibu di pasar menjelang lebaran, padahal kondisi negeri ini masih dalam masa pandemi Covid-19.

Berdasarkan berita yang dikutip dari Liputan6.com, 2/5/2021 Jakarta, jelang lebaran, pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat kembali disesaki pengunjung pada Minggu, 03 Mei 202. Bahkan, Polda Metro Jaya turun tangan mengatasi kerumunan yang terjadi di Pusat Grosir Pasar Tanah Abang itu.

Salah seorang warga Kebon Jeruk, Flo mengaku sempat terdorong pengunjung lain di Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Pasar Tanah Abang saat hendak menuju Blok A. "Seharusnya itu jalurnya satu arah, tapi tetap aja ada yang semaunya sendiri. Petugas udah ingetin pakai toa, tapi namanya penuh," kata Flo. 

Guna mengurangi kerumunan, Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Marullah Matali menyatakan, Pemprov DKI akan mengurangi jumlah pintu masuk ke Pasar Tanah Abang. "Hari ini ada beberapa titik di Pasar Tanah Abang, tadi sudah kita sepakati, di Pasar Tanah Abang yang kira-kira lebih dari 20 pintu nanti akan kita ringkas jadi beberapa pintu strategis yang nanti akan ditugaskan beberapa pasukan kita untuk menjaga sirkulasi," kata Marullah.

Hal ini menjadi suatu potret gambaran bahwa masyarakat saat ini semakin merasa longgar dan abai atas larangan berkerumunan di tempat pembelanjaan walau ada beberapa yang tetap menggunakan protokol Kesehatan, namun ada beberapa juga yang nampak abai padahal hal ini menjadi potensi penyebaran virus kembali.

Namun hal ini sangat wajar terjadi jika tidak ada andil tegas dari pihak pemerintah dalam menangani masalah ini dan hal ini pun tidak bisa dikembalikan pada kesadaran individu semata karena ini menjadi suatu kebutuhan terlebih dalam momen menjelang hari Raya Idul Fitri.

Kita butuh kebijakan yang selaras untuk mengatisipasi, bukan solusi yang praktis namun tidak menghasilkan solusi yang solutif. Bahkan makin memperluas masalah dan penyebaraan Covid-19.

Namun di saat yang sama, justru ada kebijakan pemerintah yang mendorong konsumsi dengan alasan perbaikan ekonomi. Hal ini sungguh suatu kebijakan yang  penuh ironi bahkan paradoks. Inilah salah satu kebijakan pemerintah, ialah  Menteri Keuangan, Sri Mulyani, punya cara jitu mendongkrak perekonomian yang lagi lesu karena pandemi. Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu meminta rakyat tetap beli baju saat lebaran nanti, meski mudiknya tetap dilarang. 

Hal itu disampaikan Sri Mulyani saat menyampaikan keterangan pers APBN Kita, Kamis lalu. Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani meminta masyarakat tetap menyambut Lebaran dengan penuh sukacita. Jangan lupa, kata dia, kegiatan belanja menjelang lebaran seperti membeli baju baru harus tetap berjalan. Tujuannya agar kegiatan ekonomi tetap berjalan. "Ada bagusnya juga Lebaran tetap pakai baju baru, beli baju baru supaya walaupun Zoom nanti pakai baju baru sehingga muncul aktivitas di masyarakat bisa terjadi," kata Sri Mulyani.

Pemerintah sudah menyiapkan berbagai kebijakan seperti menyiapkan program Hari Belanja Nasional (Harbolnas) jelang lebaran yang ongkos kirimnya disubsidi pemerintah. Dengan program itu, masyarakat tetap  bisa belanja tanpa khawatir dengan penyebaran Covid-19. Meski tidak mudik, masyarakat masih tetap bisa bersilaturahmi dengan saling mengirimkan hadiah.

Amalan Terbaik di Penghujung Ramadan ialah menghidupkan Lailatulqadar,

Baginda Rasulullah saw. bersabda, “Carilah Lailatul qadar di sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadan.” (HR Bukhari).

Siapa saja yang menghidupkan Lailatulqadar karena iman dan semata-mata mengharap rida Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad).

Maka, kita perlu menyimak bagaimana manusia paling mulia mencontohkan cara menghidupkan Lailatulqadar. Dalam hadis Abi Sa’id al-Khudri ra., dituturkan bahwa Nabi saw. telah melakukan iktikaf dan menyatakan siapa saja di antara para sahabatnya yang ingin melakukan iktikaf, hendaklah mereka tidak meninggalkan iktikafnya.

Dalam riwayat Aisyah ra. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir, Beliau saw. mengikat sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Nabi saw. beserta keluarga menghidupkannya dengan salat, doa, tilawah Al-Qur’an dan ketaatan yang lainnya. Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah saw. telah melakukan Fathul Makkah juga pada 20 Ramadan 8 H.

Hal inilah yang semestinya dilakukan oleh seorang mukmin yang bijak yaitu bisa memanfaatkan waktu-waktu terakhir dengan menyibukkan diri oleh aktivitas ibadah bukan sebaliknya yang berlama-lama dengan urusan-urusan dunia yang sudah seharusnya dikurangi. 

Hal ini bukan berarti tidak boleh belanja untuk kebutuhan lebaran, namun tetap mempertimbangkan berbagai sisi. Selain tidak berlama-lama di pasar karena memang tidak boleh, juga dengan kondisi pandemi  yang tidak dibolehkan oleh pemerintah, kerumunan bahkan mirisnya berdesak-desakkan hingga ada yang terluka.

Sudah seharusnya pemerintah membuat kebijakan yang tegas untuk keamanan dan kesejahteraan rakyatnya. Terlebih mempertimbangkan faktor ekonomi dengan keselamatan rakyat itu sendiri. Kembalilah kepada hukum Islam yang pasti akan menyejahterakan rakyat dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan bahkan papan. Hanya dengan solusi yang diberikan oleh Islam yang dapat menyejahterakan rakyat, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Realitas Ramadan adalah pembuktian ketaatan kita kepada Allah Swt secara total. Dengan meraih takwa, kita akan menjalani seluruh perintah Allah Swt dan menjauhi seluruh larangan-Nya di seluruh aspek kehidupan dan sepanjang waktu, bukan sebatas saat Ramadan saja. Suasana syahdu penghujung bulan Ramadan 1442 H ini menjadi saksi, betapa kehidupan saat ini tengah dikelilingi dan sarat dengan kemaksiatan kepada Allah Rabbul ‘alamiin. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seseorang yang memasuki bulan Ramadan, tetapi dia tidak diampuni.” (HR Hakim dan Thabrani)

Wallahu 'alam bishsawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations